“Saya rasa kami bukan penjahat, karena jika memang iya, pastilah kami dua penjahat paling menyedihkan dan paling tolol sepanjang sejarah.” Kalimat getir ini menjadi penutup novel Monster Kepala Seribu karya Laura Santullo. Sebuah pernyataan dari Dario, putra Sonia Bonet, saat mereka berada di ruang persemayaman pribadi. Di bawah penjagaan ketat polisi, Sonia hanya bisa terdiam sembari menyalakan lilin untuk suaminya yang telah tiada. Pertanyaannya: bagaimana seorang ibu rumah tangga biasa bisa berakhir sebagai "penjahat" di mata hukum?
Melawan Monster Birokasi bernama Alta Salud
Sonia Bonet adalah potret keputusasaan. Selama lebih dari lima belas tahun, keluarganya tertib membayar polis asuransi Alta Salud. Namun, saat suaminya, Guillermo (Memo), terbaring sekarat karena penyakit parah, perusahaan asuransi tersebut justru menutup mata. Segala cara legal telah ditempuh; mulai dari pengacara hingga Badan Perlindungan Konsumen, namun hasilnya nihil. Alta Salud secara sistematis menolak klaim dengan alasan yang tidak masuk akal, termasuk fakta bahwa Sonia memiliki rumah, padahal rumah tersebut sudah digadaikan demi biaya pengobatan yang ditolak asuransi.
Malam yang menentukan itu tiba ketika Memo terjatuh dari tempat tidur, mengerang seperti hewan terluka, dan kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri. Jeritan Memo adalah lonceng kematian bagi kesabaran Sonia. Didorong oleh rasa cinta yang hancur melihat orang terkasih tersiksa, Sonia memutuskan untuk berhenti memohon. Ia mengambil pistol suaminya dan mulai memburu satu per satu "kepala" dari monster korporasi ini.
Di Balik Tirai Kejahatan Korporasi
Melalui ancaman pistol, Sonia berhasil mengungkap kebenaran yang menjijikkan dari Dokter Villalba dan Tuan Sandoval. Terungkap bahwa penolakan perawatan medis bukanlah sebuah kekhilafan, melainkan kebijakan perusahaan. Para dokter koordinator diberikan insentif berupa kenaikan gaji dan promosi setiap kali mereka berhasil menolak klaim pengobatan mahal. Bagi mereka, nyawa pasien hanyalah variabel dalam laporan laba rugi. Jika modal pergi karena perusahaan tidak untung, direktur akan berhenti, sebuah logika dingin yang menghancurkan nilai kemanusiaan.
Meski pada akhirnya Sonia mendapatkan bukti-bukti kecurangan tersebut, takdir berkata lain. Di tengah perjuangannya menuntut keadilan, kabar duka datang: suaminya telah meninggal. Drama ini berakhir dengan tembakan polisi dan penangkapan Sonia serta Dario.
Pendidikan Kejahatan dari Sistem yang Rusak
Laura Santullo sangat piawai menceritakan kejahatan korporasi. Buku ini memberi pesan mendalam: sistem yang korup tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga mampu mendidik warga negara yang taat menjadi pelaku kriminal. Sonia Bonet adalah bukti bahwa manusia yang paling rasional sekalipun bisa berubah menjadi "binatang buas" saat disudutkan oleh ketidakadilan yang luar biasa.
"Mereka mendepak saya dari dunia yang rasional, dari kepercayaan kepada masyarakat beradab. Dan seekor binatang buas yang disudutkan tidak akan merintih, dia menggigit." Kutipan ini adalah inti dari perubahan karakter Sonia yang patut kita renungkan.
Monster Kepala Seribu adalah sebuah potret mengerikan tentang bagaimana birokrasi bisa membunuh lebih cepat daripada penyakit itu sendiri. Novel ini bukan sekadar fiksi, melainkan cermin bagi dunia medis dan asuransi yang sering kali kehilangan hatinya. Sebuah bacaan yang akan membuat siapa pun terdiam dan merenungkan kembali arti keadilan di tengah dominasi modal.
Identitas Buku:
- Judul: Monster Kepala Seribu
- Penulis: Laura Santullo
- Penerbit Indonesia: Marjin Kiri
- Penerjemah: Ratna Dyah Wulandari
- Tahun Terbit (Indonesia): 2016 (terjemahan)
- Tebal Buku: 148 halaman
- ISBN: 9789791260534
- Genre: Fiksi/Thriller/Detektif
Baca Juga
-
Review Novel Perkumpulan Anak Luar Nikah: Rahasia Gelap Sejarah Tionghoa Indonesia
-
Membaca Halte Alam Baka: Pelajaran Hidup Tanpa Beban Penyesalan
-
Membaca Rumah Pohon Kesemek: Menemukan Bahagia di Tengah Kehilangan
-
Membaca Pergerakan 1998 Lewat Novel Notasi: Saat Idealisme Diuji Waktu
-
Membaca Lebih Putih Dariku: Perjuangan Identitas di Tengah Rasisme
Artikel Terkait
Ulasan
-
Seni Mengubah Empati Menjadi Skill di Buku The Empathy Effect
-
Sinopsis The Unexpected Family, Pura-Pura Jadi Keluarga Demi Pengidap Alzheimer
-
Teman Tegar Maira: Film Inspiratif tentang Cinta Alam dan Persahabatan
-
Film 'The Tank': Tank Tempur dan Penjara Jiwa dalam Peperangan
-
Seni Mencintai dengan Waras di Buku Closer to Love Karya Vex King
Terkini
-
Cyrus Margono Gabung Persija, Target Indonesia Juara AFF Cup Kian Nyata
-
Peran Journaling dalam Film Even If This Love Disappears Tonight di Netflix
-
Self-Love Terbaik Perempuan Modern, Prioritaskan Diri Tanpa Rasa Bersalah
-
Tayang Maret, Pemain Drakor Phantom Lawyer Mulai Lakukan Pembacaan Naskah
-
Lee Chae Min Digaet Bintangi Adaptasi Drama Korea dari Novel Jepang Populer