Pada masa ketika hutan Kalimantan masih lebih luas daripada permukiman manusia dan sungai dipercaya memiliki roh penjaga, hiduplah seorang perempuan bernama Liawena. Ia dikenal sebagai tabib paling cantik di daerah pedalaman Sungai Mahakam.
Wajahnya tak pernah tampak menua. Kulitnya tetap kencang, bersih, dan putih tanpa penuaan meskipun usianya telah melewati empat puluh musim hujan. Penduduk menganggap itu anugerah dari leluhur. Bahkan, hal itu menjadi dambaan bagi banyak wanita di masa itu.
Namun, mereka tidak tahu bahwa Liawena menyimpan ketakutan yang lebih besar daripada rasa hormat manusia, yaitu ketakutan akan menjadi tua, keriput, dan dilupakan.
Sejak kecil, Liawena sudah terobsesi pada kecantikan. Ia melihat ibunya mati perlahan dengan sakit yang diderita, kulit mengendur, rambut memutih, dan suaminya berpaling pada perempuan yang lebih muda. Dari situlah Liawena bersumpah bahwa ia tidak akan bernasib sama. Apa pun risikonya, ia akan tetap muda.
Ketika ibunya meninggal, Liawena menemukan sebuah kitab kulit kayu tersembunyi di bawah lantai rumah panggung. Kitab itu bukan ditulis dengan tinta, melainkan dengan darah yang telah menghitam. Di dalamnya tertulis mantra-mantra kuno ajaran ilmu tua yang disebut Ilmu Raga Terpisah.
Ilmu itu memungkinkan tubuh dan kepala berpisah. Ini adalah sebuah ilmu hitam yang menjanjikan kecantikan abadi. Namun, ada harga yang harus dibayar. Kitab itu menyebutkan, "Darah perempuan hamil adalah mata air kehidupan baru. Ambil dan makanlah, maka kau akan hidup abadi dan awet muda selamanya."
Liawena menutup kitab itu dengan tangan yang gemetar. Ia tahu itu terlarang. Namun, ketakutannya terlihat tua lebih besar daripada rasa takut akan dosa. Awalnya ia menolak. Namun, setiap malam ia bermimpi tentang wajahnya yang membusuk, suaminya meninggalkannya, dan anak-anak mengejek rupanya. Bayangan itu terus datang, menekan pikirannya hingga akhirnya ia menyerah.
Pada malam bulan mati, Liawena melakukan ritual pertama. Ia mengunci diri di rumah. Memadamkan semua lampu. Membakar dupa dari akar pohon keramat. Ia melumuri tubuhnya dengan ramuan hitam pekat. Mantra itu diucapkan dengan suara bergetar. Dan ketika jam hutan berdetak tengah malam, kepalanya terlepas. Tidak ada darah yang memancar.
Lehernya terpisah dengan rapi, seperti dipotong oleh pisau tak kasat mata. Dari bagian bawah kepala, keluar organ-organ dalam: usus, paru-paru, dan jantung yang turut menggantung, berkilau dalam cahaya bulan. Liawena menjerit menatap tubuhnya yang kosong tanpa kepala. Namun, tubuh tanpa kepala itu tetap berdiri kokoh. Kepalanya melayang. Ajian hitam itu berhasil mengubahnya menjadi Kuyang.
Malam pertama, ia tidak memangsa siapa pun. Ia hanya terbang rendah, mencoba mengendalikan tubuh barunya yang hanya berupa kepala dan organ dalam saja. Namun, rasa lapar itu datang perlahan. Bukan lapar makanan, melainkan lapar akan kehidupan.
Pada malam ketujuh, ia mencium bau darah segar. Seorang perempuan hamil tua tinggal di tepi sungai sendirian. Liawena terbang masuk melalui celah dinding rumah. Ia menempel di langit-langit, menunggu. Ketika perempuan itu tertidur, Kuyang menancapkan lidah panjangnya ke perut korban. Darahnya terasa begitu hangat dan manis. Sejak malam itu, kecantikan Liawena tidak pernah pudar.
Namun, ada perubahan lain. Matanya semakin merah dan giginya memanjang. Bahkan setiap fajar tiba, ia harus cepat kembali ke tubuhnya sebelum matahari menyentuh kepala. Jika terlambat, ia akan hangus dan tidak bisa kembali ke tubuh aslinya.
Desa mulai curiga. Perempuan hamil meninggal satu per satu tanpa luka jelas. Bayi-bayi lahir lemah, bahkan tak bernyawa. Penduduk mulai memasang duri, bawang merah, dan cermin di rumah karena dipercaya Kuyang takut melihat pantulan dirinya sendiri.
Suatu malam, seorang dukun tua bernama Aji Pambelum melihat bayangan mistis terbang di atas pohon kapuk. Ia mengikuti bau busuk darah dan menemukan rumah Liawena. Ia mengintip dari bawah rumah panggung dan melihat tubuh tanpa kepala berdiri di tengah ruangan. Aji Pambelum langsung tahu.
Keesokan harinya, ia mengumpulkan warga. Mereka membawa tombak, garam, dan besi panas. Namun, Liawena sudah tahu rencana mereka. Malam itu, ia kembali terbang. Bukan untuk memangsa, melainkan untuk membalas semua dendamnya. Ia menyebut nama-nama mereka satu per satu dari atas atap rumah. Orang-orang yang mendengarnya jatuh sakit. Anak-anak menangis tanpa sebab.
Desa itu berubah menjadi neraka kecil. Aji Pambelum akhirnya melakukan ritual terakhir. Ia menunggu hingga Liawena terbang, lalu menyelinap ke rumahnya. Tubuh tanpa kepala itu ia balikkan posisinya dari berdiri menjadi duduk terbalik, sebuah cara kuno agar kepala tak bisa menyatu kembali.
Ketika fajar datang, Liawena menjerit di udara. Ia mencoba kembali ke tubuhnya. Namun, tubuh itu menolak karena posisinya telah dipindahposisikan. Matahari menyentuh kulit kepalanya. Jeritannya menggema ke seluruh hutan. Kepalanya jatuh ke tanah, terbakar perlahan, namun tidak pernah benar-benar mati.
Konon, sejak malam itu, Kuyang tidak pernah benar-benar punah, tetapi ilmunya diwariskan turun-temurun. Ilmu itu diturunkan dari perempuan ke perempuan; dari ketakutan, dari kecemburuan, dan dari keinginan untuk tetap diinginkan.
Hingga hari ini, di desa-desa tertentu, orang masih percaya jika mencium bau amis di malam hari, jika anjing melolong tanpa sebab, dan jika ada perempuan cantik yang tak pernah menua, maka mungkin ada Kuyang yang sedang terbang mencari darah untuk ilmunya.
Baca Juga
-
Tak Ada Ampun, Pinocchio: Unstrung Mengubah Dongeng ke Teror Berdarah 2026
-
Rilis Maret 2026, Film They Will Kill You: Sekte dan Kematian Misterius
-
Misteri Buku Harian dan Kutukan Turun Temurun
-
Tayang 11 Februari 2026, Film 'Whistle': Tiupan Peluit Pemanggil Ajal
-
Film 'The Tank': Tank Tempur dan Penjara Jiwa dalam Peperangan
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Pergeseran Budaya Mengaji: Dari Karpet Masjid ke Ballroom Hotel yang Estetik
-
Drama China Fangs of Fortune: Dua Dunia di Ambang Kekacauan
-
Analisis Pola Depresi dalam Film Rumah untuk Alie: Luka Akibat KDRT
-
Menenun Identitas: Perempuan Sumba, Warna Alam, dan Warisan yang Tak Pernah Putus
-
Mirip iPhone: 5 Rekomendasi HP Ramah di Kantor, Harga Mulai Rp 900 ribuan