Saya pernah menonton film Rumah untuk Alie di sebuah layanan streaming (bapak saya yang berlangganan kala itu) sekitar akhir tahun 2025. Lalu, karena iseng mencari film lokal, saya menontonnya lagi kemarin. Mengapa? Karena film ini pada dasarnya adalah, mohon maaf, "perjalanan" bunuh diri anak korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).
Perlu diketahui, Rumah untuk Alie adalah film produksi Falcon Pictures yang dibuat berdasarkan novel karya Lenn Liu dengan judul yang sama. Film ini menceritakan hubungan Alie, seorang gadis remaja, yang renggang dengan keempat kakaknya dan ayahnya sejak ibunya meninggal dalam kecelakaan mobil.
Apa yang ingin saya bahas bukanlah sinopsis filmnya, karena ada bahasan yang bagi saya lebih penting untuk diulas daripada pahitnya kisah Alie yang berakhir bunuh diri itu: pola yang mengarahkan Alie pada keputusannya untuk "tidak lagi menjadi anak pembawa sial bagi keluarga" dengan cara bunuh diri.
Perlu diingat, film ini mengandung adegan kekerasan dalam rumah tangga dan, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, adegan bunuh diri. Saya akan mencoba membahas pola-pola perjalanan bunuh diri Alie tanpa bermaksud membocorkan seluruh isi filmnya secara detail.
Sekilas Keluarga (dan Kekacauan) Alie
Dalam filmnya, penonton awalnya akan diberitahu bahwa ayah Alie dahulu memiliki seorang istri yang melahirkan keempat kakak Alie (Rendra, Dipta, Samuel, dan Natta) sebelum akhirnya meninggal saat meliput perang di negara konflik. Sang ayah akhirnya menikahi asisten rumah tangga mereka, Ibu Gianla, dan memiliki anak bernama Alie. Ya, dialah tokoh utama kita.
Lalu, Alie, Dipta, Rendra, dan Gianla mengalami kecelakaan dalam perjalanan. Sejak itulah, kehidupan keluarga Alie suram. Ayah mengalami masalah dalam usaha periklanan (kemudian sering mabuk minuman keras), salah satu kaki Dipta cacat, Gianla meninggal, dan seisi keluarga menyalahkan Alie atas meninggalnya Ibu Gianla.
Awalnya, Alie menghadapi pengabaian dari keempat kakak dan ayahnya sendiri. Pada titik ini, hanya Natta yang mau sekurang-kurangnya berbicara dengan Alie. Dampak dari pengabaian keluarganya langsung jelas terlihat pada saat Alie membuat tugas kelompok bersama kedua temannya, Marsela dan Aji.
Saat Marsela dan Aji membahas perbedaan kata home dan house dalam bahasa Inggris (dan bagaimana salah satu kata tersebut membahas rasa nyaman tinggal di dalam "rumah"), Alie terdiam hingga Marsela perlu menyadarkannya dari lamunan. Bagaimana bisa ia membayangkan "rumah" yang nyaman tatkala kakak dan ayahnya sendiri menganggapnya "anak sial keluarga"?
Pahitnya, karena KDRT dari ayah ditambah kekesalan kakak-kakaknya, Alie selalu cepat sekali menyatakan bahwa ia yang salah dan takut menerima bantuan. Bayangkan saja: Alie ingin pulang dari kerja kelompok saat hari sudah malam, dan tidak ada yang bisa menjemput selain teman laki-lakinya. Hubungan mereka hanyalah teman, tetapi ayah Alie menuduhnya telah menjadi "wanita tidak tahu aturan" sambil menyiramnya dengan air bak mandi berkali-kali.
Bahkan, sejak awal Alie akan dijemput oleh temannya (Aji, teman laki-laki sekelas yang tadi dibicarakan), Alie terus menolak karena takut menghadapi masalah dengan ayahnya sendiri. Lebih pahit lagi jika mengetahui bahwa disiram bapak sendiri bukan satu-satunya hal kekerasan yang dihadapi Alie saat pulang dengan temannya.
Lalu, efek KDRT ayah ditambah sebutan "anak pembawa sial" juga sangat terasa di lingkungan sekolah. Saat ada korsleting listrik di laboratorium sekolah, Alie (lagi-lagi) langsung dengan cepat menyatakan bahwa itu salahnya karena kurang berhati-hati dengan stopkontak sekolah. Padahal, Alie tidak sengaja saat mencolok stopkontak tersebut.
Gara-gara itu semua, Alie sempat mencoba bunuh diri di rel kereta dan untungnya diselamatkan. Namun, rasa sakit Alie tidak berakhir dengan percobaan tersebut. Ia dimarahi kakak sendiri karena kejadian itu viral di media sosial dan dianggap membuat malu keluarga, dirundung serta difitnah kakak kelas, hingga diusir oleh ayahnya sendiri.
Semua masalah ini pada akhirnya membuat Alie benar-benar melakukan bunuh diri untuk kedua kalinya. Dari peristiwa-peristiwa ini, bisa terlihat pola bagaimana korban KDRT berakhir menjadi korban bunuh diri.
Dimulai dari pengabaian keluarga ditambah perundungan di sekolah, Alie merasa rendah diri dan selalu menyalahkan dirinya sendiri. "Alie pulang dengan teman laki-laki"? Dianggap salah Alie, bukan karena kakaknya telat menjemput. "Korsleting listrik"? Dianggap salah Alie lagi, bukan karena ketidaksengajaan. "Hidup ayah terasa sial"? Lagi-lagi Alie yang minta maaf, dan itu pun tetap membuatnya dihajar oleh sang ayah.
Begitu Alie mencoba bunuh diri di rel kereta, kakak-kakaknya bahkan nekat bercanda dengan keinginannya tersebut. "Bunuh diri saja setiap hari di rel kereta, biar kami kasihan!" Kalimat yang sangat pedih untuk orang yang sedang depresi.
Semua adegan KDRT pada film mungkin terasa "tertahan", namun KDRT tetaplah menyakitkan dan bisa membuat orang depresi. Akhir filmnya pun sangat sedih: Alie melakukan bunuh diri kembali setelah mendonorkan darah untuk kakaknya.
Trauma kehilangan orang tua memang menyakitkan. Namun, pengabaian dan perundungan hingga masuk tingkat depresi, ditambah dijadikan bahan bercandaan saat mencoba bunuh diri, jelas sangat menyakitkan. Lebih pahit lagi kalau penonton tahu bahwa Alie sebenarnya tidak ingin mati, ia hanya ingin berhenti merasa sakit.
Baca Juga
-
Bencana Medis dari Piring Makan Yudis
-
Perbandingan Banjir Jakarta Dulu dan Sekarang: Cerita Warga Kelapa Gading Timur
-
Penerbangan Terakhir: Antara Lelaki Judol dan Wanita Korban Manipulasi
-
Tiga Ancaman Potensial Indonesia di Masa Depan dalam Hitam 2045
-
Kembali ke Istiqlal, Menemukan Masjid yang Berbeda
Artikel Terkait
-
3 Rekomendasi Smart TV 100 Inch untuk Nonton Film Layaknya di Bioskop
-
Bocoran Pengembangan Film BioShock, Bakal Diadaptasi dari Game Pertama
-
Dari Cinema Outdoor hingga Pasar Ilustrasi, Intip Keseruan Tomo Land Volume 3
-
Tak Ada Ampun, Pinocchio: Unstrung Mengubah Dongeng ke Teror Berdarah 2026
-
Film The Strangers: Chapter 3, Sebuah Akhir Trilogi yang Mengecewakan!
Ulasan
-
Novel Logika Asa: Tak Apa untuk Mencintai Kelemahan Diri
-
Film The Strangers: Chapter 3, Sebuah Akhir Trilogi yang Mengecewakan!
-
Novel Orang-Orang Proyek: Potret Korupsi yang Membumi
-
Novel Beauty and The Best: Siapa Bilang Cewek Cantik Itu Bodoh?
-
Saat Keluarga Menjadi Medan Perang: Ulasan Nyaliku Kecil Seperti Tikus