Di tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur, sehelai kain bukan sekadar busana. Ia adalah lembaran sejarah, simbol status, dan utamannya adalah sebagai identitas bagi perempuan yang melahirkannya.
Masyarakat setempat meyakini bahwa kemahiran dalam menenun merupakan tolok ukur kedewasaan dan kesempurnaan seseorang.
Diana Kalera Lena, seorang penenun asli Sumba mengungkapkan dengan penuh kebanggaan betapa dalamnya akar tradisi ini tertanam dalam dirinya di tanah kelahirannya.
“Perempuan Sumba tidak bisa disebut sebagai perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun,” ujarnya lantang.
Baginya dan perempuan Sumba lainnya, menenun adalah napas kehidupan yang sudah dipelajari sejak jemari mereka masih mungil. Keterampilan ini tidak bisa dikuasai hanya dengan sekejap, semalam, melainkan butuh kesabaran yang diwariskan turun-temurun dari nenek moyang.
“Proses menenun dari tahapan awal sampai menjadi sehelai kain it
u butuh proses panjang. Sejak usia 6 tahun, saya sudah membantu Ibu saya dan mulai menenun sendiri pada usia 17 tahun,” ujar Diana.
Menghidupkan Kembali Rahasia Alam
Sejak kehidupan semakin modern, selama bertahun-tahun banyak penenun yang mulai beralih ke pewarna sintetis demi kepraktisan. Namun, terasa ada sesuatu yang hilang ketika bahan kimia mencoba menggantikan keajaiban yang bisa dibuat oleh alam. Kain menjadi kehilangan sedikit “jiwa” dan kedalaman makna.
Melalui inisiatif Bakti BCA yang menggandeng Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI), Diana dan penenun-penenun lainnya dari komunitas Kambatatana hingga Prai Kilimbatu, mulai menjemput warisan yang sempat terpinggirkan. Kini disebut dengan “Wastra Warna Alam”.
Resep pewarnaan alami yang berasal dari akar mengkudu, kayu secang, hingga daun nila, dahulu adalah rahasia sakral yang tidak dibagikan secara terbuka. Melalui pembinaan yang terstruktur, “rahasia dapur” para leluhur ini kembali dibuka. Perempuan-perempuan Sumba belajar meracik kembali warna-warna yang ibu pertiwi punya. Tentunya warna-warna ini lebih ramah lingkungan. Nilai seninya tidak tertinggal, bahkan nilai ekonominya justru lebih tinggi.
Dari Upacara Adat Menuju Panggung Dunia
Kain tenun Sumba selama ini masih berputar hanya di lingkungan upacara adat, seperti pernikahan dan prosesi kematian. Namun kini, para perempuan Sumba memiliki visi yang mulai meluas. Mereka ingin mahakarya turun-temurun ini tidak hanya menjadi saksi bisu ritual, tetapi juga menjadi produk gaya hidup yang kelak dapat diakui dunia.
Dengan keterlibatan laki-laki dalam membantu pengolahan bahan dan pengembangan motif, ekosistem tenun di desa-desa Sumba menjadi lebih hidup. Hal ini kemudian tidak hanya menjadi warisan budaya yang statis, melainkan juga perlahan-lahan sebagai penggerak ekonomi keluarga.
Bagi Diana, hasil tangan dan ketelatenan jari jemarinya yang tulus tersebut mampu membantu sang suami dan memastikan pendidikan anak-anaknya dapat terus berlanjut.
Upaya menjaga kelestarian tenun warna alam ini merupakan pesan yang kuat untuk tetap berdiri tegak menjaga warisan, memegang teguh jati diri perempuan, dan memastikan bahwa setiap helai benang yang dipintal akan terus bercerita untuk generasi-generasi masa depan walaupun gempuran modernitas semakin riuh bertebaran.
Baca Juga
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Wajah Kusam dan Bruntusan? Coba 4 Exfoliating Face Wash Murah Cuma Rp30 Ribuan!
-
Begadang Nonton Bola? Ini 5 Trik Biar Gak Kelihatan Zombie di Kantor
-
5 Cushion untuk Menyamarkan Pori-Pori Besar agar Makeup Lebih Mulus
-
Misteri Lagu Favorit: Mengapa Kita Tidak Pernah Bosan Memutar Musik yang Sama?
-
Punya Kulit Kering & Berjerawat? 4 Moisturizer Ini Aman Tanpa Bikin Pori Tersumbat
Terkini
-
Paradoks Kekerasan dan Agama dalam Film In the Hand of Dante
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Menggugat Stigma Panti Jompo dan Makna Berbakti
-
Comeback Sensasional Afrika Selatan: Resmi Lolos 32 Besar Pertama Kalinya
-
Misi Mustahil: Saat Negara Kecil Berpenduduk 500 Ribu Jiwa Siap Guncang Argentina di Piala Dunia
-
Koneksi dan Loyalitas Jadi Jalan Pintas, Apa Kabar Meritokrasi?