Bagi Bram, hutan bukan sekadar ekosistem, tempat itu jadi galeri piala. Di dinding rumahnya yang megah di pinggiran kota, kepala-kepala rusa, babi hutan, hingga macan tutul menatap kosong dengan mata yang tak bernyawa. Tewas.
Namun, ada satu tempat kosong di tengah ruang tamunya yang ia siapkan untuk Sang Penjaga Lembah, harimau yang memiliki garis loreng berwarna perak di punggungnya. Hasil mutasi genetis yang sangat langka.
Perburuan itu ilegal, tentu saja. Namun, bagi pria dengan koneksi sedalam Bram, hukum hanyalah barisan kata yang bisa dihapus dengan lembaran uang. Semua aparat berbaris datang untuk membantunya.
Setelah tiga minggu melacak di kedalaman hutan yang belum terjamah, Bram akhirnya menemukannya. Di bawah rembulan yang pucat, harimau itu tampak agung sekaligus rapuh. Mangsa yang sangat menggugah. Ia sudah tua, kurus, dan kakinya pincang terkena jerat lama. Tak ada perlawanan berarti. Satu letusan dari senapan kaliber tinggi milik Bram merobek keheningan malam, tepat di jantung sang legenda. Harimau itu tumbang.
Saat Bram mendekat untuk memastikan kematian buruannya, harimau itu membuka matanya yang kuning keemasan untuk terakhir kali. Tidak ada geraman. Hanya sebuah tatapan dalam yang seolah sedang memotret jiwa Bram, kemudian napas terakhirnya keluar berupa uap dingin yang anehnya berbau seperti tanah basah dan melati busuk.
"Tamat sudah riwayatmu, Kucing Besar," tawa Bram sembari mengusap bulu perak yang kasar itu.
Kepulangan Bram disambut dengan perayaan kecil bersama rekan-rekan bisnisnya. Namun, malam itu, sesuatu mulai berubah. Saat menyantap steak wagyu yang mahal, Bram merasa daging itu terasa seperti jerami. Hambar dan kering. Ia merasakan rasa lapar yang aneh, bukan lapar perut, melainkan lapar yang berasal dari sumsum tulangnya. Rasanya tak tergambarkan.
Satu minggu berlalu. Kulit Bram mulai terasa terlalu sempit untuk tubuhnya. Ia merasa gatal yang luar biasa di sepanjang tulang belakangnya. Saat ia bercermin, ia melihat garis-garis samar berwarna gelap di bawah kulitnya, seperti memar yang memanjang.
"Mungkin alergi hutan," gumamnya. Pupilnya kini mulai berbentuk vertikal, tajam, dan memantulkan cahaya kuning saat lampu padam.
Puncaknya terjadi pada malam ke-14 setelah perburuan itu. Bram terbangun dengan rasa sakit yang tak tertahankan di mulutnya. Giginya rontok satu per satu, digantikan oleh taring-taring yang tumbuh secara paksa melalui gusi yang berdarah.
Trak, trak, trak. Tulang-tulangnya berderak, memendek, dan menyusun ulang anatomi tubuhnya. Ia ingin berteriak minta tolong, namun yang keluar dari tenggorokannya hanyalah geraman rendah yang menggetarkan kaca jendela.
Transformasi itu tidak instan dan tidak bersih. Proses yang menyiksa di mana kesadaran manusianya dipaksa menyaksikan tubuhnya berubah menjadi binatang yang paling dibencinya. Pagi harinya, Bram bukan lagi pria kaya di rumah mewah itu. Ia jadi seekor harimau dengan loreng perak di punggungnya. Persis seperti buruannya.
Namun, balas dendam hutan tidak berakhir di sana. Pintu kamar pribadinya didobrak. Bukan oleh polisi, melainkan oleh dua orang pemuda yang dikenalinya, putra sulungnya, Satya, dan putra bungsunya, Reno. Keduanya memegang senapan laras panjang koleksi Bram.
"Ayah? Ayah di mana?" teriak Satya. Mereka melihat kekacauan di kamar itu, baju-baju yang robek dan darah di lantai. Lalu, mata mereka tertuju pada sesosok makhluk yang meringkuk di sudut gelap dekat lemari besi.
Bram dalam wujud harimaunya mencoba berdiri. Ia ingin bicara. Ia ingin mengatakan, "Ini aku, ayahmu!" Namun, lidahnya yang kasar hanya bisa mengeluarkan lenguhan berat. Di mata anak-anaknya, yang ada hanyalah seekor monster yang telah memangsa ayah mereka.
"Sat, lihat itu! Harimau perak yang diceritakan Ayah!" bisik Reno dengan mata berbinar oleh ketamakan yang sama dengan yang dimiliki Bram. "Kalau kita membunuhnya sekarang, kita bisa bilang kita membalaskan dendam Ayah, sekaligus mendapatkan kulitnya."
Bram melihat moncong senapan itu diarahkan tepat ke wajahnya. Ia melihat jari Satya, putra yang ia ajari cara membidik sasaran, mulai menarik pelatuk. Bram mencoba berlari ke arah jendela, namun kakinya yang pincang, sebuah sisa luka dari harimau asli yang ia bunuh.
Dor! Peluru pertama menyerempet bahunya. Rasa sakitnya nyata, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat. Ia melihat kegembiraan di wajah anak-anaknya. Ia telah membesarkan mereka menjadi pemburu tanpa belas kasih. Sekarang, ia adalah targetnya. Menyedihkan.
Bram melompat keluar jendela, memecahkan kaca. Ia lari menuju hutan di belakang rumahnya, berharap bisa bersembunyi di kegelapan. Namun, ia lupa telah memasang pagar listrik dan sensor gerak paling canggih di sekeliling propertinya untuk mencegah pencuri. Kini, teknologi itu menjebaknya di dalam area perburuannya sendiri.
Dari kejauhan, ia mendengar gonggongan anjing-anjing pemburu yang dilatihnya sendiri. Anjing-anjing itu mengenali baunya, namun insting mereka telah dipicu oleh aroma darah. Mereka mengejar dengan haus darah dan tanpa ampun.
Bram terus berlari hingga terpojok di tepi tebing yang menghadap ke lembah hitam tempat ia membunuh harimau perak itu dua minggu lalu. Ia berbalik dan melihat kedua putranya mendekat dengan senter yang menyilaukan.
"Jangan tembak kepalanya, Reno! Kulit kepalanya harus utuh untuk dipajang di ruang tamu!" seru Satya sambil membidik tepat ke arah jantung Bram.
Saat peluru kedua menembus dadanya, tepat di titik yang sama dengan harimau perak itu dulu, Bram merasa lega. Sebelum kesadarannya hilang, ia melihat bayangan harimau tua di antara pepohonan, seolah sedang menonton dengan tenang. Puas.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Paman Leo dan Buku dengan Halaman Kosong
-
7 Cleansing Balm Korea Terbaik 2026 untuk Semua Jenis Kulit
-
Kasus Pelecehan Seksual Ramai, Leona Agustine Ungkap Trauma Serupa
-
Dua Nama, Dua Dunia: Menyelami Dinamika Remaja dalam Jingga dan Senja
-
Mauro Zijlstra Gabung Persija, Media Lokal Pertanyakan Fungsi Naturalisasi!