Novel Mirah karya Elisabeth Ika yang diterbitkan oleh Bhuana Sastra merupakan potret sosial yang getir dan jujur. Ia menghadirkan sosok perempuan bernama Mirah Paramastri, seorang janda muda yang harus bertahan hidup di tengah stigma sosial, keterbatasan ekonomi, serta konflik keluarga yang rumit.
Novel ini menjadi penting bukan karena dramanya yang besar, melainkan karena realisme sunyinya yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang. Mirah adalah representasi perempuan kelas menengah ke bawah yang hidupnya penuh lapisan beban.
Ia tidak berpendidikan tinggi, pernikahannya gagal sebelum sempat tumbuh dewasa, dan ia pulang ke rumah ibu dalam kondisi ekonomi yang rapuh. Di kampung, status janda bukan sekadar kondisi sosial, tetapi identitas yang mengundang gunjingan.
Stereotip itu terasa kuat dalam kalimat novel: “Stereotip janda begitu purba. Mungkin tidak semua orang begitu, memandang janda adalah golongan orang ‘kelas dua’.” Kalimat ini bukan hanya narasi, tetapi kritik sosial yang telanjang terhadap cara masyarakat memandang perempuan yang gagal dalam pernikahan.
Konflik keluarga Mirah memperdalam lapisan cerita. Ia menjadi anak tengah yang “paling waras” di antara kakak yang preman dan adik yang hidupnya penuh tanda tanya. Ibu yang sakit-sakitan membuat Mirah berada di posisi moral yang sulit.
Antara mengejar masa depan pribadi atau bertahan demi keluarga. Dalam konteks ini, Mirah bukan tokoh romantik yang menunggu diselamatkan cinta, tetapi figur perempuan yang mencoba bertahan hidup secara praktis. Bekerja, menabung, dan menunda mimpi demi kebutuhan sehari-hari.
Masuknya tokoh Adhirajasa Gama Saputra (Dhira), kepala gudang pabrik kecap tempat Mirah bekerja, membuka dimensi romansa yang justru terasa dewasa dan realistis. Dhira bukan figur klise novel romansa: bukan CEO, bukan konglomerat, bukan pewaris kerajaan bisnis. Ia hanyalah pria dengan hidup stabil, pekerjaan tetap, dan nilai moral yang matang.
Relasi Mirah–Dhira dibangun perlahan, tidak meledak-ledak, tidak penuh romantisasi berlebihan. Ada cemburu, ada konflik, tetapi tetap berada dalam batas yang manusiawi. Inilah kekuatan novel ini: romansa tidak menghapus realitas, justru tumbuh di dalamnya.
Menariknya, konflik dalam Mirah tidak bertumpuk secara melodramatis. Masalah ekonomi, gosip kantor, hubungan kerja, konflik keluarga, dan trauma masa lalu berjalan paralel tanpa saling menenggelamkan.
Relasi Dhira dengan Tyas dan Danti, misalnya, tidak dijadikan alat drama berlebihan, tetapi sekadar bumbu konflik yang realistis. Hubungan Mirah dan Dhira pun dibangun dengan kedewasaan emosional. Lebih banyak dialog, pengertian, dan perjuangan konkret daripada sekadar gestur romantis kosong.
Mirah percaya bahwa hidupnya telah “selesai” setelah perceraian, namun narasi justru membuktikan sebaliknya: bahwa kehancuran bukan akhir, melainkan fase.
Pesan ini tidak disampaikan secara menggurui, tetapi melalui pilihan hidup tokoh: resign demi ibu, gagal kuliah lagi, mencoba membangun usaha kecil, dan tetap bertahan meski terus jatuh.
Perempuan kelas ekonomi bawah, pekerjaan entry-level, kehidupan pabrik, serta relasi keluarga yang tidak ideal. Ini membuat cerita terasa dekat, bukan fantasi eskapistik.
Ada konflik yang tidak tuntas, seperti nasib adik Mirah yang menghilang begitu saja, serta kondisi ekonomi Mirah yang belum benar-benar stabil di akhir cerita. Namun, justru ketidaksempurnaan ini memperkuat kesan realisme: hidup tidak selalu memberi resolusi rapi.
Pada akhirnya, Mirah bukan novel tentang cinta semata, melainkan tentang martabat perempuan, daya tahan manusia, dan hak setiap orang untuk memulai ulang. Ia mengajarkan bahwa kesempatan kedua bukan hadiah, tetapi perjuangan.
Dan dalam hidup yang keras, harapan sering dalam sosok manusia biasa yang memilih bertahan, jujur, dan setia menemani proses.
Identitas Buku
- Judul: Mirah
- Penulis: Elisabeth Ika
- Penerbit: Bhuana Sastra
- Tanggal Terbit: 18 September 2024
- Tebal: 292 halaman
- ISBN: 978-623-04-1983-6
- Kategori: Novel Fiksi
Baca Juga
-
Terluka Bertubi-tubi di Novel Asavella Karya Alfida Nurhayati Adiana
-
Belajar Rela saat Takdir Tak Selalu Memihak di Novel L Karya Kristy Nelwan
-
Novel Melukis Langit Dermaga: Pemulihan Diri di Kota Pelabuhan Kecil Jerman
-
Ulasan Novel Deuce: Tak Semua Remaja Tumbuh dengan Kenyamanan
-
Buku Jelek itu Ada dan Justru Penting untuk Ada!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Sianida di Balik Topeng Kesopanan Bangsawan Inggris dalam An English Murder
-
Jeng Yah dan Perlawanan Sunyi Merebut Ruang Sejarah dalam 'Gadis Kretek'
-
Terluka Bertubi-tubi di Novel Asavella Karya Alfida Nurhayati Adiana
-
Film Jangan Seperti Bapak: Drama Aksi yang Sarat Pesan Keluarga
-
Belajar Rela saat Takdir Tak Selalu Memihak di Novel L Karya Kristy Nelwan
Terkini
-
Harga Sebuah Peluang: Mengapa Pengambil Risiko Lebih Sering Menang dalam Perlombaan Karier?
-
Melindungi Anak, Melindungi Masa Depan: Mengapa Imunisasi Tak Bisa Ditawar?
-
9 Drama China tentang Dunia Kerja yang Seru dan Edukatif
-
Long Weekend ke Sukabumi? 5 Spot Seru Dekat Stasiun yang Bisa Kamu Kunjungi
-
Sultan Fattah: Perjalanan Hidup Raja Islam Pertama di Tanah Jawa