M. Reza Sulaiman | dede dermawan
Ilustrasi yang menggambarkan pabrik PT Sumber Arta (gemini.google)
dede dermawan

Di bawah kepemimpinan Direktur Arya, pabrik pengalengan PT Sumber Arta mencapai masa keemasannya secara finansial. Namun, di balik angka keuntungan yang melonjak tajam, terdapat lantai pabrik yang berbau karat, keringat, dan ketakutan. Arya menjadi tipe atasan yang percaya bahwa nyawa manusia hanyalah onderdil yang bisa diganti kapan saja. Cuan yang terpenting.

"Keamanan itu mahal, dan saya tidak suka pemborosan," cetus Arya saat rapat bulanan.

Kepala teknisi, Pak Danu, mencoba menyela dengan tangan gemetar. "Tapi Pak, Mesin Pengalengan Nomor 7 sudah aus. Sensor penghentian daruratnya sering malfungsi. Jika tidak segera diperbaiki, risikonya fatal bagi operator."

Arya menyesap kopinya, lalu menatap Danu dengan pandangan menghina. "Dengar, Danu. Mesin itu menghasilkan dua ratus kaleng per menit. Jika kita matikan untuk perbaikan selama tiga hari, kita kehilangan ratusan juta. Selama mesin itu masih berputar, biarkan dia bekerja. Kalau operatornya tidak becus, cari yang baru. Banyak pengangguran di luar sana."

Dua minggu kemudian, peringatan Pak Danu menjadi kenyataan pahit. Seorang buruh muda bernama Galang terjepit saat mencoba membersihkan sisa daging yang tersangkut di ban berjalan. Karena sensor darurat yang rusak tidak berfungsi, mesin itu terus menarik tubuh Galang masuk ke dalam penggilingan. Jeritan menghilang.

Jeritan Galang tenggelam di balik deru mesin yang bising. Saat mesin akhirnya dimatikan secara manual, yang tersisa dari Galang hanyalah serpihan tulang dan darah yang bercampur dengan adonan daging kalengan.

Bukannya merasa bersalah, Arya justru murka karena produksi harus berhenti selama dua jam untuk pembersihan. "Buang sisa-sisanya, bersihkan mesinnya, dan jalan lagi! Jangan sampai pembeli tahu ada masalah di produk kita."

Penyelidikan polisi memperjelas bahwa itu kecelakaan kerja. Keluarga Galang hanya dibayar uang belasungkawa yang cukup kecil. Media tidak ada yang memberitakan kejadian itu karena takut akan diberhentikan iklannya oleh PT Sumber Arta. Selesai.

Malam Jumat Kliwon, Arya memutuskan untuk lembur sendirian di kantornya yang berada di lantai dua, tepat di atas area produksi. Ia sedang menghitung bonus pribadinya yang bernilai miliaran rupiah. Suasana sangat sunyi, hanya ada suara rintik hujan di luar. Tiba-tiba, suara mesin di bawah menyala.

Deg-deg... sreeek... deg-deg... sreeek...

Itu adalah suara khas Mesin Nomor 7. Arya mengerutkan kening. "Siapa yang menyalakan mesin jam satu pagi?" gumamnya kesal. Ia berjalan keluar menuju balkon yang menghadap langsung ke lantai pabrik.

Lampu area produksi padam, namun Mesin Nomor 7 bersinar dengan cahaya merah redup yang aneh. Ban berjalannya berputar dengan kecepatan tinggi, padahal tidak ada operator di sana. Arya menuruni tangga besi dengan langkah angkuh, berniat mematikan mesin itu sendiri dan memaki satpam yang lalai.

Saat ia sampai di depan Mesin Nomor 7, bau anyir yang sangat menyengat menusuk hidungnya. Bau itu bukan bau daging sapi biasa, melainkan bau darah segar yang sudah membusuk. Jijik.

"Siapa di sana?" teriak Arya dengan nada sangat marah.

Tiba-tiba, tuas mesin bergerak sendiri. Sebuah kaleng kosong meluncur di ban berjalan. Arya mendekat untuk melihat. Kaleng itu tidak berisi daging, melainkan berisi potongan kain baju kerja yang sangat ia kenali; itu adalah sobekan seragam milik Galang. Gemetar.

Arya mencoba mundur, tetapi kakinya terasa lengket. Ia menoleh ke bawah dan menyadari bahwa lantai di sekitarnya telah berubah menjadi genangan darah yang kental. Dari dalam corong penggilingan mesin, muncul tangan pucat yang jemarinya sudah tidak utuh lagi. Tangan itu mencengkeram dasi sutra milik Arya.

"Pak Direktur... target hari ini belum tercapai..." suara parau berbisik dari dalam mesin.

Arya meronta, mencoba melepaskan dasinya, namun kekuatan tarikan itu tidak manusiawi. Mesin Nomor 7 mulai menderu lebih kencang. Piston-piston besinya naik turun dengan irama yang menyerupai detak jantung yang marah.

"Lepaskan! Aku akan memberimu uang! Aku akan memperbaiki mesin ini!" teriak Arya histeris.

"Terlambat," bisik suara itu lagi. "Keamanan itu mahal, Pak. Dan malam ini, Bapak yang akan membayarnya."

Dasi Arya terlilit masuk ke dalam mesin. Tubuhnya terseret paksa ke atas ban berjalan. Arya melihat pemotong otomatis di ujung ban itu berkilat tajam di bawah cahaya merah. Ia mencoba berpegangan pada pinggiran besi, namun jari-jarinya tergelincir oleh lemak dan darah yang melumuri mesin.

Perlahan namun pasti, kaki Arya masuk ke dalam corong penggilingan. Suara tulang yang patah berderak memenuhi ruangan, bersahutan dengan teriakan Arya yang memecah malam. Namun, tidak ada satu pun orang yang mendengar. Pabrik itu telah diisolasi oleh kegelapan yang ia ciptakan sendiri.

Tubuh sang direktur diproses secara sistematis. Mesin itu bekerja dengan presisi yang mengerikan, seolah-olah memang dirancang untuk mengolah manusia. Arya merasakan setiap inci tubuhnya dicacah, dihaluskan, dan dicampur dengan bumbu-bumbu pengawet kimiawi yang sering ia banggakan karena harganya yang murah.

Keesokan paginya, Pak Danu dan para buruh datang. Mereka terkejut melihat Mesin Nomor 7 bersih mengilap, seolah baru saja dipoles. Tidak ada jejak darah, tidak ada jejak Arya. Namun, di ujung ban berjalan, terdapat satu kaleng hasil produksi yang tersegel sempurna tanpa label.

Pabrik itu akhirnya ditutup setahun kemudian karena kebangkrutan misterius. Namun, konon katanya, siapa pun yang berani masuk ke sana di malam hari akan melihat sosok pria tanpa kulit yang terus berjalan di atas ban mesin pengalengan. Menangis.