Hayuning Ratri Hapsari | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Perempuan Gaun Putih dan Bagas (Gemini AI/Nanno Banana)
Ukhro Wiyah

Waktu sudah hampir memasuki tengah malam saat Bagas bersiap pulang. Namun, sesaat kemudian notifikasi di ponselnya berbunyi. Ada order masuk dengan nominal yang cukup lumayan.

Pemuda 28 tahun yang sudah akan melepaskan jaket ojolnya itu langsung mengurungkan niat. Sebagai seseorang yang sudah nyaris setahun hidup di perantauan tanpa pekerjaan tetap, ia harus menggunakan semua peluangnya untuk mendapatkan rezeki.

Setelah berkali-kali gagal melamar kerja dengan gelar sarjananya, Bagas akhirnya memanfaatkan satu-satunya aset yang ia miliki: sepeda motor bekas yang ia beli dengan tabungannya selama bertahun-tahun. Sudah enam bulan terakhir ia bekerja sebagai driver ojek online demi bertahan hidup di kota ini.

Tanpa banyak berpikir, Bagas menerima order-an tersebut setelah melihat tujuannya masih searah dengan kos.

"Narik lagi, Gas?" Pak Toni bertanya sembari mengembuskan asap rokok. Pria 50 tahunan itu memang dikenal baik dan ramah di kalangan pengemudi ojek online.

"Iya, Pak. Sekalian pulang nanti. Pamit dulu, ya, Pak."

"Hati-hati, Gas. Jalanan sepi, tapi banyak kendaraan besar." Bagas hanya mengangguk kecil sebelum mengenakan helmnya.

Sekitar lima belas menit kemudian, ia tiba di depan rumah sakit yang terlihat cukup sepi. Kendaraan yang terparkir bisa dihitung jari. Bagas menurunkan kecepatan motornya perlahan. Matanya menyapu sekitar hingga akhirnya berhenti pada sosok perempuan yang berdiri sendirian di pinggir jalan.

Gaun putih panjang yang dikenakannya tampak sedikit basah di bagian bawah. Rambut hitamnya terurai menutupi sebagian wajah pucatnya. Di pelukannya, seorang bayi tertidur pulas. Bagas menghentikan motor tepat di depannya.

"Atas nama Bu Anita?"

Perempuan itu perlahan mendongak. Wajahnya sangat pucat. Matanya kosong, tidak ada ekspresi sama sekali. Beberapa detik berlalu dalam hening yang terasa begitu dingin dan mencekam. Setelah terdiam sambil menatap Bagas cukup lama, perempuan itu akhirnya mengangguk. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia mengenakan helm yang disodorkan oleh Bagas lalu naik ke jok belakang motor.

Kendaraan melaju membelah jalanan malam yang tampak lebih sepi dari biasanya. Hawa dingin menerpa tengkuk belakangnya. Dari kaca spion, ia bisa melihat, penumpangnya duduk tenang dengan seluruh wajah tertutup helm.

Waktu berlalu, jalan yang ia lalui dengan mengikuti peta digital mulai terasa asing, tapi sudah cukup dekat dengan tujuan. Bulu kuduk Bagas meremang, perempuan di belakangnya tiba-tiba berbisik dengan suara yang sangat lembut.

“Berhenti di depan rumah itu, ya, Mas.”

Di depan sana, Bagas melihat sebuah rumah yang tak begitu besar. Ia mengangguk dan memelankan laju kendaraannya. Tepat di depan rumah yang dimaksud penumpangnya, Bagas berhenti. Perempuan itu turun, mengembalikan helm, lalu menyerahkan beberapa lembar uang sejumlah Rp35.000 padanya.

“Terima kasih sudah mengantar saya pulang, Mas.” Ucapnya lirih—sebelum berjalan dan menghilang di balik pagar rumahnya.

Dan sesuai rencana sebelumnya, setelah menyelesaikan orderan di aplikasi, Bagas benar-benar pulang ke kos.

***

Hari demi hari berlalu dengan tenang. Bagas menjalani rutinitasnya sebagai pengemudi ojol seperti biasa, Malam itu, ia kembali mendapatkan order-an dari nama yang cukup familiar. Anita. Titik jemput dan tujuannya pun sama persis dengan minggu sebelumnya. Meski merasa sedikit aneh, Bagas tetap berusaha berpikir positif dan menerima pesanan tersebut.

Sampai di lokasi penjemputan, Bagas lagi-lagi melihat perempuan itu membawa bayi di pelukannya. Setelah memastikan penumpangnya aman di belakang, ia melajukan motor membelah malam.

Baru sekitar 10 menit dari rumah sakit, hawa dingin kembali terasa di tengkuk belakangnya—seolah ada yang meniup dari jarak yang sangat dekat. Bulu kuduk Bagas meremang. Sekujur tubuhnya terasa merinding. Ia berusaha keras mengendalikan sepeda motor yang tiba-tiba melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Namun, belum sempat mengerem, Bagas melihat seorang perempuan yang menyeberang di depannya. Agar tak menabrak, ia membanting setir.

Brak! Benturan terjadi. Motor yang dikendarai Bagas menabrak pagar pembatas di sisi kanan jembatan. Tubuhnya terjatuh di aspal yang terasa dingin dan kasar. Di sisa kesadarannya, samar-samar Bagas mendengar suara tangisan seorang wanita. Isakan itu terdengar begitu pilu.

“Mas …, antarkan saya pulang.”

“Antarkan saya pulang …,”

Suara yang terus diulang itu menjadi hal terakhir yang Bagas dengar sebelum kehilangan kesadaran.

***

Aroma obat-obatan langsung tercium begitu Bagas membuka mata. Rasa nyeri masih terasa menjalar di sekujur tubuhnya.

“Akhirnya kamu sadar juga, Gas.” Suara berat terdengar dari samping ranjang. Bagas melihat Pak Toni duduk di sana dengan wajah lelahnya.

“Pak …, penumpang saya …, apa dia baik-baik saja?”

Pak Toni menatapnya dengan kening mengernyit heran, “penumpang?”

“Iya, Pak. Perempuan. Dia gendong bayi.”

Pria paruh baya itu menghela napas berat. “Gas, kamu sendirian di sana. Nggak ada korban lain.”

“Tapi, Pak …, waktu itu saya yakin lagi bawa penumpang. Dia naik dari depan Rumah Sakit Harapan.”

Mendengar nama rumah sakit yang disebut Bagas, raut wajah Pak Toni langsung berubah serius. Dia kembali mendekati Bagas lalu bertanya, “Gas …, apa perempuan itu namanya Anita?”

“Iya, Pak. Benar.” Detik berikutnya, Bagas menatap Pak Toni heran, “Kok … bapak bisa tahu?”

Pria yang cukup dikenalnya dengan baik itu mengembuskan napas sebelum bercerita, “Nak Bagas, kamu mungkin bakal kaget dengar ini. Tapi saya rasa, kamu perlu tahu. Anita sudah meninggal lima tahun lalu. Dia bersama anaknya menjadi korban tewas dalam kecelakaan beruntun di depan rumah sakit itu.”

Deg! Jantung Bagas seketika berdegup kencang. Dengan gemetar, dia bertanya, “Pak …, berarti penumpang saya kemarin itu …?”

Pak Toni mengangguk. “Banyak yang bilang, setiap malam Rabu, dia selalu menunjukkan dirinya dan minta diantarkan pulang. Sebelum ini, kamu pernah nganterin dia juga kan?”

Saat itu juga, Bagas mengecek ponsel yang layarnya sedikit retak akibat kecelakaan. Untungnya, masih bisa menyala. Dia membuka aplikasi untuk melihat riwayat order dari Anita. Dan entah bagaimana … tidak ada riwayat pemesanan dengan nama tersebut.

Dompet yang berada di meja sebelah ranjang pasien juga tak lupa ia periksa. Dengan tangan gemetar, ia menghitung lembar demi lembar uang di sana. Badannya terasa lemas saat tahu uang Rp35.000 yang diberikan Anita minggu lalu lenyap begitu saja—berganti dengan beberapa lembar daun kering yang entah sejak kapan berada di dompetnya.