Bila ditanya film apa yang paling berkesan dan memorable abis, maka aku akan menjawab The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe. Sebuah film bergenre isekai pertama yang kutonton dengan menganga, bahkan meninggalkan euforia.
Menurut IMDb, The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe merupakan film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya C. S. Lewis. Film arahan sutradara Andrew Adamson berdurasi 143 menit ini sukses mengusung genre fantasi dan branding isekai via lemari yang telah mengakar dalam pikiran selama ini.
Mengungsi Karena Perang Dunia, Eh Malah Isekai
Film berjuluk Narnia 1 ini mengisahkah empat anak keluarga Pevensie yakni: Peter (William Moseley), Susan (Anna Popplewell), Edmund (Skandar Keynes), dan Lucy (Georgie Henley) yang harus mengungsi ke rumah seorang profesor di desa karena situasi Perang Dunia yang brutal.
Suatu hari saat mereka bermain petak umpet karena bosan, Lucy yang bersembunyi di sebuah lemari kayu tua justru menemukan dunia baru yang memukau. Termasuk pertemuan dengan makhluk faun bernama Tuan Tumnus (James McAvoy). Namun saat Lucy menceritakan pengalamannya pada ketiga kakaknya, tidak ada yang percaya.
Hingga beberapa waktu kemudian, mereka berempat yang memecahkan kaca jendela rumah memutuskan untuk sembunyi agar terhindar dari amukan. Namun siapa sangka, sejak anak-anak Pevensie bersembunyi di dalam lemari kayu tua itu, mereka telah diincar oleh Jadis si Penyihir Putih (Tilda Swinton) yang takut akan ramalan.
Begitu empat saudara menemukan dunia Narnia, mereka dilibatkan pada peperangan dua kubu berseteru yang mengancam keselamatan masing-masing. Akankah mereka berhasil lolos dari peperangan dan kembali ke dunia asli? Atau akankah mereka berakhir menjadi bagian Narnia itu sendiri?
Film yang Bikin Delusi Tentang Lemari Kayu
Nggak bisa berkata-kata, itu reaksiku setelah pertama kali nonton di layar TV ketika masih SD dulu. Dunia fantasi dengan visual gaya historical, makhluk-makhluk mitologi, dan visual pemeran yang menawan sukses bikin aku kesengsem.
Gaya sinematografi Donald McAlpine terasa magical, menyentuh inti fantasi anak-anak, dan berhasil menanamkan branding film dengan berani. Apalagi dipadukan dengan backsound majestic, bernafaskan gothic, dan memorable nyaris di setiap scene dari komposer Harry Gregson-Williams.
Buatku, film ini sukses menciptakan branding kuat dan kesan mendalam. Terutama pada branding isekai via lemari kayu tua, tiang lampu antik yang rupanya berada di Taman Nasional Adrspach di Czech Republic, dan tentu saja backsound perang dengan degub jantung bertalu. Asli, sampai sekarang pun aku masih ingat bagaimana memesonanya film ini.
Akting Terbilang Kikuk, Tapi Justru Menguatkan Plot
Oke, dari segala sisi film ini adalah masterpiece yang majestic. Pun pada akting masing-masing pemeran terasa kian menguatkan plot. Henley yang menurut data masih berusia 9-10 tahunan saat itu sukses mencuri perhatian atas scene di tiang lampu. Keynes yang 13-14 tahunan dan sempat menjadi villain juga memorable sekali. Magnet utamaku tentu saja akting Moseley dan Popplewell yang agak kikuk tapi justru semakin menambah daya tarik film.
Pada saat itu usia mereka sekitar 17-18 tahunan di real life, dan dalam skrip harus menaklukkan penyihir kejam tuh sadis banget. Ada beberapa ekspresi bimbang yang relate, menyatu dengan karakter dan plot, yang selalu buat terkesima.
Tilda Swinton dalam memerankan karakter Jadis terbilang ampuh dan sadis. Pembawaan manipulatif, sorot mata tajam, dan tentu fashion ala villain-nya sungguh kontras dengan pembawaan kalem nan bijaksana Liam Neeson sebagai seiyu Aslan. Betulan kontra dan bak langit dengan bumi, tapi begitulah realitas duniawi. Keren parah lah!
CGI, Lewis, dan Narnia
Oke, nyaris semua scene tuh terbilang keren dan magnificent termasuk set bersalju ala winter, para faun, dan kehadiran singa Aslan. Namun, seingatku ada satu scene dimana Peter, Susan, dan Lucy yang dikejar kawanan serigala dan terjun ke tebing tuh kentara sekali fake dan editing CGI-nya cukup kasar. Selain itu, semuanya sangat smooth dan terlihat realistis.
Pada beberapa trivia di internet, kisah Narnia sendiri ditulis oleh C. S. Lewis sebagai pandangan pribadinya. Mengenai konsep alam semesta, dan nilai rohani keyakinannya. Jujur, aku mengetahui makna Narnia tersebut baru-baru ini, karena perbedaan keyakinan antara aku dengan Lewis.
After all, secara fantasi dan isekai, film dengan nilai 9/10 ini bisalah ditonton untuk segala usia.
Identitas Film
- Judul: The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe
- Adaptasi: novel karya C. S. Lewis
- Sutradara: Andrew Adamson
- Genre: fantasi, isekai
- Rilis: 8 Desember 2005 (Indonesia)
- Negara Asal: United Kingdom, United States
- Bahasa: Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Isyarat Brazil
- Durasi: 143 menit
Baca Juga
-
Fakta Unik Daun Salam: Bumbu Masakan Rumahan yang Jadi Simbol Berbagi di Pedesaan
-
Penyelamat Tanggal Tua! Ini Alasan Bayam Jadi Sayuran Wajib Buat 'Survive in This Economy'
-
Seni Mengenang dan Mengikhlaskan dalam Drama The Rainbow in Our Memory
-
Review Fatal Proximity to Him: Poster Bikin Kepincut, Eksekusi Agak Kecut
-
Don't Disturb Me Farming: Love-Hate yang Dibalut Pertanian dan Peternakan
Artikel Terkait
-
Uang Asuransi 2 Miliar Melayang Gara-Gara Mati Suri? Intip Serunya Film Gak Ada Matinya!
-
Review Fatal Proximity to Him: Poster Bikin Kepincut, Eksekusi Agak Kecut
-
Destiny Unchain Online Tayang 2027, Ikumi Hasegawa Isi Suara Karakter Crim
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah
Ulasan
-
A Separation: Ketika Urusan Rumah Tangga, Agama, dan Kemiskinan Berubah Jadi Teror yang Nyata
-
Mengingat Kembali Pentingnya Pendidikan Lewat Novel Ronggeng Dukuh Paruk
-
Juni and the Anything Tree, Suara Kecil Anak-Anak untuk Menyelamatkan Alam
-
Membongkar Mitos: Benarkah Pemimpin Harus Galak dan Toksik Agar Perusahaan Sukses?
-
Mencermati Arti Kehidupan: Buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon
Terkini
-
Fakta Unik Daun Salam: Bumbu Masakan Rumahan yang Jadi Simbol Berbagi di Pedesaan
-
489 Hektare Hutan Malang Selatan Hilang, Kini 63 Hektare Kembali Terancam
-
PIH dan Kusam Auto Hempas! 4 Pelembap Pencerah Kemasan Tube Lebih Higienis
-
Sweet Child O' Mine Guns N' Roses: Cinta Axl Rose dan Kenangan Masa Remaja
-
Bye-Bye Lapar Mata! Saat Pajak E-Commerce Bikin Anak Muda Otomatis Jadi Minimalis