Baru-baru ini, aksi boikot ramai dilakukan para penggemar K-Pop terutama oleh mereka yang semula merupakan penggemar salah satu grup naungan SM Entertainment, NCT. Grup yang beranggotakan 27 member tersebut dikabarkan melakukan kerja sama dengan Starbucks Korea yang diduga memberi dukungan secara finansial pada Israel.
Menyadur Koreaboo pada Rabu (5/6/2024), dalam permintaan email ke Koreaboo, manajer Komunikasi Global Starbucks menyampaikan posisi perusahaan mengenai situasi tersebut. Dia mengklarifikasi bahwa Starbucks tidak termasuk dalam daftar boikot resmi yang disediakan oleh gerakan BDS (gerakan Boikot, Divestasi, Sanksi) yang dipimpin Palestina dan menekankan sikap resmi perusahaan tersebut “tentang konflik di Timur Tengah.”
"Starbucks adalah perusahaan global yang berkomitmen untuk menyediakan tempat di mana setiap orang merasa diterima dan dirangkul, di mana pun di dunia. Kami membenci kebencian dan sangat menolak kekerasan terhadap orang yang tidak bersalah.
Meskipun pernyataan palsu tersebar melalui media sosial, Starbucks tidak pernah berkontribusi pada operasi pemerintah atau militer dengan cara apa pun."
Di situs resmi perusahaan, Starbucks juga berbicara tentang partisipasinya dalam upaya bantuan di Gaza melalui kolaborasi dengan pemain lokal seperti Alshaya Starbucks dan Starbucks Indonesia.
Meskipun demikian, gerakan boikot global tetap teguh dalam komitmennya untuk memboikot Starbucks karena sejumlah permasalahan yang belum terselesaikan atau ditangani secara tidak memuaskan.
Dapat dikatakan bahwa katalis utama dari boikot yang terjadi saat ini dan yang sedang berlangsung yang masih harus diperbaiki adalah kecaman perusahaan terhadap serikat pekerja mereka, ungkapan solidaritas Starbucks Workers United terhadap Palestina setelah 7 Oktober.
Para pendukung boikot menyebutkan kekhawatiran bahwa Starbucks secara tidak langsung berkontribusi dan mendukung Israel. CJPME mencatat bahwa mantan CEO Starbucks Howard Schultz, yang masih menjadi pemegang saham utama dan Ketua Emeritus perusahaan tersebut, merupakan pendukung vokal Zionisme.
Khususnya, Schultz menjadi berita utama pada tahun 2021 karena menginvestasikan 1,7 USD miliar dolar di startup keamanan siber Israel bernama Wiz. Beberapa pemegang saham terbesar perusahaan juga merupakan investor besar di perusahaan militer yang memiliki hubungan dengan Israel, termasuk organisasi seperti The Vanguard Group dan BlackRock.
Namun CJPME menegaskan bahwa Starbucks tidak memberikan dukungan keuangan langsung kepada Israel dan tidak mengoperasikan toko apa pun di sana sejak tahun 2003.
Bagaimana pendapatmu? Apakah kamu merupakan salah satu penggemar K-Pop yang melangsungkan aksi boikot?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Kondisi Kesehatan Menurun, Manon KATSEYE Umumkan Hiatus Sementara Waktu
-
Update Netizen Awards: Kim Seon Ho Melejit ke Posisi Atas!
-
Duet Maut Member IVE: Gaeul dan Rei Terpilih Jadi MC M Countdown
-
CORTIS Konfirmasi Comeback Bulan April, BIGHIT Sebut Persiapan Intensif
-
Alami Cedera Pergelangan Kaki, Dahyun Absen dari Tur Dunia TWICE di Amerika
Artikel Terkait
Entertainment
-
Kondisi Kesehatan Menurun, Manon KATSEYE Umumkan Hiatus Sementara Waktu
-
Sambut Ultah ke-20 BigBang, Program Good Day Bareng G-Dragon Garap Season 2
-
Akhirnya Terungkap! Intip 4 Buah Iblis Terpenting dalam Sejarah One Piece
-
Anime Witch Hat Atelier Rilis PV: Ungkap Tanggal Tayang, Seiyuu, Lagu Tema
-
Sinopsis Hot Stove League Versi Jepang, Dibintangi Kazuya Kamenashi
Terkini
-
Keajaiban Ramadan dan Kasih Allah
-
Stoikisme di Bulan Puasa: Mengatur Hasrat, Menjaga Akal Sehat
-
Gula: Dari Simbol Kebahagiaan Menuju Penanda Kelas Sosial di Era Modern
-
Kawan Lama Ayahmu: Wajah Suram Australia di Era Kolonial
-
Mengelola Euforia Ramadan: Antara Tradisi Bising Petasan dan Keselamatan Anak