Dahulu, hidup itu simpel. Manis itu berarti senang. Kalau ada tamu datang ke rumah, indikator penghormatan kita kepada mereka adalah dengan menyuguhkan teh yang manisnya sampai membuat gigi ngilu. Gula adalah kemewahan yang merakyat. Ia adalah hadiah bagi anak kecil yang baru disunat, atau sekadar dua sendok teh yang membuat kopi hitam bapak-bapak terasa seperti harapan hidup di tengah cicilan yang mencekik.
Namun maaf, Kawan-kawan, romantisasi itu sudah kedaluwarsa. Sekarang, gula bukan lagi soal seberapa manis perayaanmu, melainkan seberapa dalam isi dompetmu. Kalau kamu masih hobi menenggak es teh manis jumbo setiap siang, dunia mungkin akan melihatmu bukan sebagai orang yang bahagia, melainkan sebagai orang yang—maaf—ekonominya sedang tidak baik-baik saja atau setidaknya kurang akses ke pusat kebugaran.
Selamat datang di era di mana gula telah berubah dari simbol perayaan menjadi penanda kelas sosial.
Sekarang coba kita tengok Amerika Serikat atau Eropa Barat. Di sana, gula sudah dianggap seperti penjahat kelas kakap, mungkin setingkat di bawah bandar narkoba atau politikus yang hobi korupsi. Konsumsi gula di sana anjlok parah. Kenapa? Karena di negara maju, sehat itu adalah gaya hidup kelas atas. Orang kaya di sana sudah tidak lagi bangga memamerkan donat dengan topping melimpah. Mereka lebih bangga memamerkan jus kale yang rasanya seperti rumput lapangan sepak bola, tetapi harganya setara jatah makan kita dua hari.
Pemerintah di sana juga ikut campur. Ada pajak gula yang membuat harga minuman soda menjadi tidak masuk akal. Belum lagi serangan obat-obatan semacam Ozempic atau Mounjaro. Ini adalah obat ajaib yang membuat orang tidak ingin makan manis sama sekali. Masalahnya, yang bisa mengakses hal ini hanyalah mereka yang uangnya bersisa. Akhirnya apa? Si kaya semakin langsing dan sehat, sementara industri gula dunia mulai ketir-ketir karena pasar utamanya mulai insaf.
Lalu, bagaimana dengan kita di negara berkembang? Nah, di sinilah ironinya terasa perih. Gula adalah kalori paling murah yang bisa dibeli manusia. Bagi seorang buruh bangunan atau kuli panggul yang harus bekerja 10 jam di bawah terik matahari, satu botol minuman manis adalah bahan bakar paling masuk akal. Gula memberikan rasa kenyang palsu dan lonjakan energi instan yang dibutuhkan untuk terus bergerak. Saat protein dan lemak sehat harganya selangit, gula tetap setia menemani rakyat jelata dengan harga yang terjangkau.
Ambil contoh India. Di sana, jurang kelas ini terlihat sangat jelas. Orang kaya di Mumbai mungkin sudah mengganti gula putih dengan pemanis dari daun-daunan mahal atau madu organik. Namun, bagi jutaan warga lainnya, gula pasir adalah sumber energi utama agar bisa bertahan hidup sampai besok. Pemerintahnya pun bingung. Mau dipajaki agar rakyat tidak terkena diabetes, tetapi nanti rakyat yang paling miskin malah tidak bisa membeli kalori untuk bekerja. Serba salah, bukan?
Inilah fase yang disebut "transisi nutrisi". Sebuah fase yang agak kurang ajar sebenarnya. Begitu sebuah negara mulai agak makmur, rakyatnya semakin menyukai gula karena makanan olahan menjadi semakin banyak. Namun, begitu sudah benar-benar kaya, mereka malah membuang gula dan kembali lagi ke makanan alami. Gula menjadi semacam "ujian" yang harus dilewati sebelum akhirnya seseorang bisa sombong dengan gaya hidup sehatnya.
Di negara maju, gula adalah "tembakau baru". Sesuatu yang harus dijauhi, dibatasi, dan diberi label peringatan. Namun, di negara yang ekonominya masih megap-megap, gula adalah napas. Ia adalah kompensasi atas hidup yang pahit. Selama harga sepotong dada ayam atau alpukat masih lebih mahal daripada segelas teh manis, maka gula akan tetap menjadi raja di meja-meja makan orang kecil.
Jadi, lain kali kalau kamu mengaduk gula ke dalam cangkirmu, ingatlah satu hal: setiap butiran kristal itu sedang menceritakan posisi ekonomimu di mata dunia. Pahit memang, tetapi ya itulah kenyataannya. Dunia ini memang sudah terbelah, dan ironisnya, ia terbelah justru oleh sesuatu yang rasanya manis.
Baca Juga
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
-
Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Jangan-jangan Ini Jawabannya
Artikel Terkait
-
Bagaimana Cara Membuat Susu Kurma? Ini 5 Rekomendasi Kurma yang Enak tanpa Gula Tambahan
-
Rahasia Puasa Tetap Kenyang Lebih Lama Tanpa Loyo, Ini Pendamping Sahur yang Tepat
-
Perempuan Sabu Raijua, Penjaga Tradisi dan Motor Ekonomi Gula Semut
-
Aturan Wajib Label untuk Produk Tinggi Gula Ditargetkan Rampung Tahun Ini
-
Anak Muda Kian Banyak Kena Diabetes, Pemerintah Siapkan Label Khusus Pada Kemasan Produk Gula Tinggi
News
-
Connect Community: Bergerak dari Kampus, Berdampak bagi Remaja Desa
-
Mengayuh Inspirasi ke Sekolah: Konsistensi Guru Matematika dalam Gaya Hidup Bike to Work
-
The Alana Yogyakarta Hadirkan "Alana Langgam Rasa", Destinasi Kuliner Authenthic Jawa di Yogyakarta
-
Petir Cup 2026 Usai, Semangat Menendang Masih Menggelegar
-
Tak Sekadar Riding, Begundal War Wer Tunjukkan Sisi Positif Komunitas Motor
Terkini
-
Dari Chat 5 Menit Menjadi FBI Kasur Lipat: Saat Cinta Menjadi Obsesi
-
Review Buku The Power of Sun Tzu: Panduan Taktis Menghadapi Tekanan Hidup Modern
-
Siapakah Lelaki Misterius yang Mendorong Brankar Jenazah Dini Hari Itu?
-
Soul Plate: Ketika Member Astro Berubah Jadi Malaikat Restoran, Efektifkah Promosinya?
-
Kisah Tragedi Berdarah di Apartemen Virgil dalam film, They Will Kill You