Kawan Lama Ayahku merupakan kumpulan cerpen karya Henry Lawson, salah satu penulis besar Australia pada masa kolonial. Melalui 26 cerpen, Lawson menghadirkan potret Australia yang jauh dari romantisasi: tanah keras yang dijanjikan sebagai surga kesempatan, tetapi nyatanya dibangun di atas perampasan, kerja paksa, dan mimpi-mimpi yang runtuh.
Cerpen pembuka, Kawan Lama Ayahku, bersifat semi-otobiografis. Lawson mengisahkan kedatangan seorang kawan lama ayahnya yang dahulu bekerja di tambang emas. Mereka berbincang tentang masa muda, impian memiliki tambang sendiri, dan kenangan berjalan di bekas galian tanah selection milik Inggris pada 1860-an.
Percakapan itu juga menyinggung peristiwa bersejarah seperti pemberontakan penambang emas dalam Eureka Stockade di Ballarat, sebuah perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Inggris. Dari sini, pembaca langsung diperlihatkan kerasnya kehidupan penambang dan rapuhnya harapan di tanah koloni.
Tema besar tentang tanah yang dijanjikan tetapi kemudian dirampas terus berulang. Banyak orang berkoar-koar mengajak menetap di Australia, namun justru menjadi squatter—penguasa lahan ilegal yang belum dialokasikan pemerintah. Tanah yang katanya terbuka bagi siapa saja ternyata dikuasai segelintir orang.
Dalam cerpen Enter Mitchell, Lawson menggambarkan kehidupan kaum swagman—pekerja pengembara yang berjalan kaki melintasi padang semak Australia, membawa alas tidur dan barang-barang mereka dari desa ke kota. Mereka hidup nomaden, tanpa kepastian, hanya bertahan dari musim ke musim.
Cerpen Ketika Matahari Terbenam menghadirkan kisah dramatis penyelamatan penggali tambang yang tertimbun reruntuhan menjelang senja, memperlihatkan bagaimana nyawa manusia begitu rapuh di hadapan alam dan kerakusan tambang.
Orang yang Lupa mengisahkan penujum tua sekaligus pencukur bulu domba yang eksentrik dan perlahan kehilangan ingatan tentang dirinya sendiri—sebuah metafora tentang identitas yang tercerabut.
Dalam Hungerford, Lawson menulis pengalaman berkemah di daerah perbatasan Queensland yang keras dan tandus, sembari menyindir keburukan sistem koloni. Sementara Obrolan Api Unggun menghadirkan kisah lebih ringan tentang tukang kayu muda yang melarikan diri dari perempuan tua yang ingin menikahinya, namun tetap menyisakan satire sosial.
Cerpen Perdebatan menghadirkan percakapan panas di dalam kereta kuda tentang Selandia Baru—apakah ia negeri indah atau tanah paling malarat. Perdebatan itu berkembang menjadi sindiran tajam tentang patriotisme: ketika rakyat berteriak “negeriku”, yang sesungguhnya memiliki negeri itu adalah para elit, majikan, dan spekulan tanah.
Ada pula kisah menyentuh tentang seekor anjing yang selama dua belas tahun setia menemani tuannya yang miskin di tengah kelaparan, bahkan menjadi satu-satunya makhluk yang membelanya saat diserang perampok.
Dalam Jam Weker Aspinall, Lawson menyinggung berita anak kecil yang tidur di emperan pabrik karena takut terlambat bekerja pukul enam pagi—ia tidak memiliki jam. Cerita ini menjadi kritik halus atas sistem kerja yang tidak manusiawi.
Orang Buangan menggambarkan kehidupan keras pekerja serabutan pencukur bulu domba yang berkelana demi bertahan hidup hingga musim berikutnya tiba. Solidaritas pekerja juga muncul dalam Pemakaman Anggota Serikat, ketika para buruh menghadiri pemakaman seorang pemuda 25 tahun yang hampir tak mereka kenal—bukan karena kedekatan pribadi, tetapi karena rasa persaudaraan kelas.
Melalui cerpen-cerpen ini, Lawson memperlihatkan Australia kolonial sebagai ruang yang dipenuhi kegagalan, kesepian, dan perjuangan bertahan hidup. Alamnya keras, sistem sosialnya timpang, dan masyarakat Aborigin memandang para pendatang sebagai penjajah yang merampas ruang hidup mereka.
Edisi terjemahan yang saya baca dilengkapi catatan kaki yang membantu menjelaskan istilah khas Australia, sehingga pembaca Indonesia dapat memahami konteks budaya dan sejarahnya. Namun, sayangnya, kualitas terjemahan tidak selalu konsisten. Beberapa cerpen terasa mengalir dan menghanyutkan, tetapi sebagian lain sulit dipahami karena tanda baca yang kurang tepat dan kalimat yang rancu.
Meski demikian, benang merah kumpulan ini tetap kuat: di belahan dunia mana pun, penjajahan tidak pernah benar-benar meninggalkan warisan yang indah. Yang tersisa hanyalah tanah yang berubah kepemilikan, mimpi yang retak, dan manusia-manusia kecil yang bertahan dengan caranya sendiri.
Identitas Buku
Judul: Kawan Lama Ayahmu
Penulis: Henry Lawson
Format: Paperback, 240 halaman
Penerbit: Araska Publisher
Terbit: 2 Maret 2018
ISBN: 9786025147197
Bahasa: Indonesia
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Dunia Sindhunata dalam Mata Air Bulan: Sebuah Perjumpaan Iman dan Budaya
-
Dilema Pengantin Baru dan Anekdot Misterius dalam Perempuan Kelabu
-
Siklus Kekuasaan dalam Animal Farm: Cermin Retak Realitas Indonesia
-
Simalakama Plastik: Antara Lonjakan Harga dan Napas UMKM yang Sesak
-
1984: Dialektika Kebebasan di Bawah Cengkeraman Absolutisme Negara
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel Ikhlas Penuh Luka: Kisah Dua Hati yang Sama-Sama Saling Menyembuhkan
-
Dunia Sindhunata dalam Mata Air Bulan: Sebuah Perjumpaan Iman dan Budaya
-
Mr. & Mrs. Egois: Saling Mencintai, Tapi Kenapa Harus Saling Menyakiti?
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
-
Violets: Melawan Masa Kecil Kurang Bahagia dari Anak yang Tidak Diinginkan
Terkini
-
Impian Banyak Pria, Harley-Davidson Pamerkan CVO Road Glide RR Paling Mahal
-
Rajanya HP Murah? HP Oppo Rp1,6 Juta Bawa Baterai 6.500 mAh dan Layar 120Hz
-
Bye Keriput! 5 Body Wash Kolagen untuk Kulit Lebih Kencang
-
Drama Melo Movie: Refleksi Luka, Kehilangan, dan Keberanian Mencintai Lagi
-
Bukan Sekadar Melindungi Rakyat, Ini Alasan Pemerintah Menahan Kenaikan BBM