Langit kota itu berbeda dengan langit kampung halaman Rahma. Tidak ada suara ayam berkokok saat sahur. Tidak ada aroma masakan Ibu yang mengepul hangat dari dapur kecil mereka. Yang ada hanya suara kendaraan dan angin malam yang menyelinap di sela-sela jendela kos sederhana tempat Rahma tinggal.
Ini adalah Ramadan pertamanya jauh dari orang tua.
Rahma merantau untuk kuliah di kota besar. Ia mendapat kesempatan berkuliah di universitas terbaik di kota, sesuatu yang membuat kedua orang tuanya bangga sekaligus haru. Namun, kebahagiaan itu terasa sedikit hambar ketika bulan suci datang dan ia tidak bisa pulang.
Malam pertama Ramadan, Rahma menatap layar ponselnya. Wajah Ibu dan Ayah muncul di sana melalui panggilan video.
"Kamu sahur yang benar, ya, Nak," pesan Ibunya berkali-kali.
"Iya, Bu. Tenang saja," jawab Rahma sambil tersenyum, meski hatinya terasa sesak.
Setelah panggilan berakhir, kamar kos kembali sunyi. Rahma duduk sendirian dengan sepiring nasi dan telur dadar yang dibelinya dari warung. Ia mengunyah perlahan, berusaha menahan rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak.
Hari-hari pertama puasa terasa berat. Bukan hanya karena lapar dan haus, melainkan juga karena kesepian. Biasanya di rumah, Ayah selalu bercanda menjelang berbuka. Ibu sibuk menyiapkan kolak dan gorengan. Suasana hangat itu kini tergantikan oleh dinding kamar yang sepi.
Suatu sore, Rahma duduk termenung di teras kos saat azan hampir berkumandang. Ia melihat beberapa mahasiswa lain berjalan bersama, tertawa, dan membawa kantong makanan untuk berbuka bersama.
"Rahma, kamu tidak ikut?" tanya seorang teman kelasnya, Nina.
Rahma tersenyum tipis. "Tidak, Nin. Mau buka di kos saja."
Nina mengerutkan dahi. "Lho, kenapa? Kita mau buka bareng di masjid kampus. Ada acara berbagi takjil juga."
Rahma ragu sejenak. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan. Namun, Nina sudah menarik lengannya dengan ramah.
"Ayo saja. Ramadan itu tidak enak kalau sendirian; lebih enak kalau berbuka ramai-ramai."
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat hati Rahma mencair.
Di masjid kampus, suasana berbeda. Banyak mahasiswa duduk melingkar. Beberapa ibu warga sekitar ikut membantu membagikan takjil. Aroma teh manis dan kurma memenuhi udara. Rahma duduk di sudut, masih merasa canggung. Namun, tidak lama kemudian, seorang ibu paruh baya menghampirinya.
"Kamu anak baru, ya? Kok Ibu jarang lihat," tanyanya lembut.
"Iya, Bu. Saya dari luar kota."
Ibu itu tersenyum hangat. "Anggap saja di sini rumah sendiri. Kalau butuh apa-apa, bilang saja, tidak usah malu."
Rahma hanya mengangguk, tidak menyangka akan disapa sehangat itu.
Saat azan Magrib berkumandang, semua berbuka bersama. Suara doa terdengar serempak. Untuk pertama kalinya sejak Ramadan dimulai, Rahma tidak merasa sendirian.
Hari-hari berikutnya, Rahma mulai rutin datang ke masjid kampus. Ia ikut membantu membagikan takjil di pinggir jalan bersama Nina dan teman-teman lainnya. Suatu sore, mereka membagikan makanan kepada para pengendara dan pekerja yang pulang menjelang berbuka. Rahma melihat seorang bapak tua yang tampak ragu mendekat.
"Silakan, Pak," kata Rahma sambil tersenyum dan menyerahkan satu kotak takjil.
Bapak itu menerimanya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Nak. Semoga Allah membalas kebaikan kalian."
Rahma tersentuh. Ia teringat Ayahnya di kampung. Mungkin di tempat lain, ada orang yang juga memperlakukan Ayahnya dengan baik. Sejak saat itu, Rahma mulai memahami bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar. Ramadan adalah tentang saling berbagi dan menguatkan.
Suatu malam, Rahma sakit. Demamnya tinggi. Ia tidak sempat memberi tahu orang tuanya karena tidak ingin membuat mereka khawatir. Nina yang mengetahui kondisi Rahma langsung datang ke kos membawa obat dan bubur hangat.
"Kamu pikir keluarga itu cuma yang sedarah?" kata Nina sambil tertawa kecil. "Di perantauan, kita ini keluarga."
Tidak lama kemudian, ibu-ibu dari masjid juga datang menjenguk. Salah satu dari mereka membawakan sup hangat.
"Kalau kamu sakit, bilang ya, Mbak Rahma. Jangan dipendam sendiri," ujar ibu itu lembut.
Air mata Rahma hampir jatuh. Ia tidak menyangka akan mendapat perhatian sebesar itu dari orang-orang yang sebelumnya tidak ia kenal. Malam itu, untuk pertama kalinya Rahma menyadari bahwa kebaikan bisa datang dari mana saja.
Menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, masjid semakin ramai. Ada tadarus bersama, pembagian sembako untuk warga kurang mampu, dan buka puasa bersama setiap hari. Rahma menjadi salah satu panitia kecil yang membantu membungkus makanan. Ia bekerja dengan semangat, merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar.
Suatu malam setelah tarawih, Rahma duduk sendirian di serambi masjid. Ia menatap langit yang penuh bintang. Rindu pada orang tua masih ada. Namun, kali ini rindu itu tidak terasa menyakitkan. Ia tahu, meski jauh secara jarak, doa-doa mereka selalu dekat.
Nina duduk di sampingnya. "Kamu kelihatan berbeda sekarang," katanya.
"Berbeda bagaimana?"
"Lebih tenang dan lebih ceria. Andai kamu begini sejak dulu, Rahma."
Rahma tersenyum. "Mungkin karena aku sadar rumah itu bukan cuma bangunan. Rumah itu tempat di mana kita diterima."
Hari terakhir Ramadan tiba. Rahma kembali melakukan panggilan video dengan orang tuanya.
"Ramadanmu bagaimana, Nak?" tanya Ayahnya.
Rahma tersenyum lebar. "Awalnya berat, Yah. Tapi ternyata Allah mempertemukan Rahma dengan orang-orang baik. Rasanya seperti punya keluarga baru di kota besar ini."
Ibunya tersenyum haru. "Itu namanya rezeki pertemuan, Nak. Ingat, rezeki pun tidak melulu soal harta. Kesehatan dan bertemu dengan orang yang baik itu juga rezeki."
Setelah panggilan berakhir, Rahma duduk termenung. Ia menyadari satu hal penting: kebaikan di bulan Ramadan bukan hanya tentang memberi materi, tetapi tentang kehadiran, perhatian, dan kepedulian. Ramadan telah mengajarkannya bahwa meski jauh dari orang tua, ia tidak pernah benar-benar sendiri. Allah selalu menghadirkan orang-orang baik sebagai perantara kasih sayang-Nya supaya hamba-Nya tidak merasa sepi dan sedih.
Di malam takbiran, Rahma berdiri di tengah keramaian masjid kampus. Suara takbir menggema, memenuhi udara dengan getaran haru. Ia menatap sekeliling; teman-teman yang tertawa, ibu-ibu yang tersenyum, anak-anak kecil berlarian. Hatinya hangat.
Dalam diam ia berdoa, "Ya Allah, terima kasih telah menunjukkan bahwa keluarga tidak selalu tentang darah, tapi tentang hati yang saling menjaga."
Ramadan tahun ini mungkin bukan tentang pulang kampung. Namun, ini tentang menemukan rumah di tempat yang tidak disangka. Dan Rahma tahu, ke mana pun ia pergi kelak, pelajaran itu akan selalu ia bawa: bahwa di setiap kesepian, selalu ada peluang untuk menemukan kebaikan. Dan di setiap perantauan, selalu ada tangan-tangan yang siap menjadi keluarga asal hati mau membuka diri dan tetap bersikap baik terhadap sesama.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
7 Rekomendasi Susu Kurma untuk Sahur Agar Puasa Tidak Lemas
-
Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
-
Perjalanan Spiritual Rekan Cristiano Ronaldo Menjadi Mualaf di Bulan Ramadan 2026
-
Cerita Zainab Pemain Keturunan Jalani Puasa di Inggris: Melawan Semua Godaan Hawa Nafsu
-
Jadwal Imsakiyah dan Subuh Kota Yogyakarta Hari Ini Minggu 22 Februari 2026
Cerita-fiksi
Terkini
-
Stoikisme di Bulan Puasa: Mengatur Hasrat, Menjaga Akal Sehat
-
Gula: Dari Simbol Kebahagiaan Menuju Penanda Kelas Sosial di Era Modern
-
Kawan Lama Ayahmu: Wajah Suram Australia di Era Kolonial
-
Mengelola Euforia Ramadan: Antara Tradisi Bising Petasan dan Keselamatan Anak
-
4 Serum Korea Diperkaya Galactomyces Atasi Kulit Bertekstur dan Kusam