Sekar Anindyah Lamase | Ancilla Vinta Nugraha
Waluh Kukus (Instagram/falconpictures_)
Ancilla Vinta Nugraha

Kisah Waluh Kukus yang sempat viral di X pada 2021 akan segera diangkat ke layar lebar. Falcon Pictures resmi mengumumkan proyek film tersebut sebagai adaptasi dari thread yang menyentuh hati banyak netizen. 

Melalui akun Instagram @falconpictures_ yang diunggah pada Senin (10/11/2025), production house tersebut mengumumkan proyek film adaptasi Waluh Kukus.

Dalam unggahannya, Falcon Pictures mengunggah poster bergambar potongan labu oranye dengan tulisan “Segera di bioskop”.

Berawal dari akun X @ainayed yang diunggah pada Minggu (18/7/2021), thread tersebut menceritakan sosok Yati, seorang anak kecil yang tanpa sengaja membuat kenangan pahit bagi si penulis. Cerita ini berpusat pada pengalaman masa kecil penulis dan ibunya yang hidup dalam kesederhanaan. 

Kisah di Balik Waluh Kukus

Penulis thread Waluh Kukus membuka kisahnya dengan kalimat sederhana tapi menyayat, “Kayaknya aku sudah sering nyebutin ya kalo dulu kami miskin. Serius ini beneran miskin banget.” 

Ia tumbuh dalam keluarga sederhana bersama sang ibu yang bekerja serabutan setelah ditinggalkan suami. Upah yang diterima pun tak selalu berupa uang, kadang hanya bahan makanan. 

Suatu hari, sang ibu membantu panen waluh (labu kuning) dan mendapat dua buah labu sebagai upah, satu besar dan satu kecil. Waluh itu dibiarkan hingga matang oranye, menunggu waktu yang tepat untuk dijadikan takjil di bulan Ramadan. 

Penulis mengenang ibunya yang begitu bahagia saat berkata, “Alhamdulillah punya waluh, bisa buat nyumbang takjil orang tadarus. Sedih, ndak pernah ngasih apa-apa untuk orang ngaji.” 

Waluh itu akhirnya dikukus dan dibawa ke langgar sebagai camilan anak-anak ngaji. Dengan penuh harap, ibunya berpesan, “Wadahnya nanti dibawa pulang ya, enteng kok gak ada isinya.”

Akan tetapi, harapan itu runtuh ketika salah satu anak, Yati, mengejek bentuk waluh kukus itu.

Hi panganan opo iki? Mosok koyok taek ngene dikekno uwong? (Hi, makanan apaan ini? Masa bentuk kaya kotoran gini dikasih ke orang?)” ucapnya.

Tak hanya mengejek, Yati juga menghasut anak lain untuk mengejek sang penulis.  Anak-anak lain ikut menertawakan, membuat penulis kecil malu dan marah. Malam itu, waluh kukus pemberian ibunya hampir tak tersentuh.

Setelah tadarus, ia memakannya sendiri di teras rumah orang, berusaha menghabiskan sambil menahan tangis. Ia tak peduli saat itu perutnya penuh, yang penting waluh kukus tersebut habis. 

“Aku makan terus sebanyak-banyaknya. Perut penuh gak peduli, pokoknya kudu kumakan kalau bisa sampai habis,” tulisnya. 

Nahasnya, penulis menceritakan saat dalam perjalanan pulang, ia terjatuh dan waluhnya berantakan di tanah. Sambil menangis, ia membuang sisa makanan itu ke parit agar tak ketahuan.

Sesampainya di rumah, sang ibu bertanya siapa saja yang makan waluhnya. Ia menyebut nama anak-anak di langgar, dan ibunya pun bersyukur, “Alhamdulillah, ndak mubazir.” 

Malam itu ia hanya diam, menahan perasaan bersalah yang membekas hingga dewasa.

“Sejak itu aku nggak pernah makan waluh kukus lagi,” tutupnya.

Kisah Waluh Kukus yang penuh emosi ini menjadi salah satu thread paling membekas di X kala itu. Dengan diangkatnya ke layar lebar, banyak warganet berharap Falcon Pictures mampu mempertahankan kesederhanaan dan ketulusan cerita aslinya.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS