Dalam rangka memperingati Hari Perempuan, FISTFEST menghadirkan pre-event bertajuk "Seputar FISTFEST" yang menggabungkan musik dan ruang perayaan bagi perempuan. Kegiatan ini diusung untuk menciptakan ruang yang nyaman dan inklusif bagi perempuan untuk berkumpul dan merayakan musik.
Diselenggarakan di Buaian Coffee & Service pada Minggu (8/3/2026), kegiatan ini diawali dengan sesi merangkai bunga yang diikuti para peserta sebagai bentuk simbolis merayakan perempuan dan mengekspresikan diri. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sesi pemutaran piringan hitam.
Perempuan dan Kelopak Bunga
Sesi merangkai bunga menjadi pembuka dalam rangkaian kegiatan Seputar FISTFEST. Berkolaborasi dengan 57 Studio Blooms, para peserta diajak untuk menyusun dan merangkai berbagai bunga. Di antara warna dan aroma bunga yang beragam, peserta perlahan menyusun kelopak demi kelopak menjadi rangkaian yang penuh makna.
Di sisi lain, agar suasana tetap terasa intim dan hangat, sesi ini dihadirkan dalam dua sesi atau kloter. Dalam setiap sesi, para peserta merangkai bunga sembari diiringi alunan lagu-lagu dari musisi perempuan yang mengisi ruangan dengan nuansa lembut dan reflektif.
Aktivitas ini tidak hanya menjadi ruang untuk berkreasi, tetapi juga menghadirkan suasana hangat bagi perempuan untuk saling berbincang dan berbagi cerita. Melalui kelopak-kelopak bunga yang dirangkai bersama, sesi ini menjadi simbol sederhana tentang perempuan yang terus tumbuh dan merayakan diri mereka dalam ruang yang aman dan nyaman.
Merayakan Musik dalam Putaran Piringan Hitam
Selain sesi merangkai bunga, Seputar FISTFEST juga menghadirkan sesi mendengarkan musik melalui piringan hitam. Sesi ini menjadi simbol ruang aman bagi perempuan untuk merayakan musik dan mengekspresikan diri secara bebas.
Sesi ini turut menampilkan Multiselection Backspin Groop (MBG) yang diisi oleh Luqman dari The Peal, Fatur dari The Subcults, serta Sanggit. Melalui pilihan lagu yang mereka putar, ketiganya menghadirkan pengalaman mendengarkan yang hangat dan penuh warna.
Piringan hitam diputar langsung menggunakan turntable, menghadirkan suasana yang hangat sekaligus membuka ruang bagi perempuan untuk menikmati, berbagi, dan terhubung melalui musik. Dalam ruang ini, musik menjadi medium bahwa perempuan bisa merayakan musik dengan aman dan nyaman, sekaligus menunjukkan bahwa setiap acara musik juga bisa menjadi ruang yang inklusif untuk dinikmati oleh perempuan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan sederhana, tetapi juga menjadi langkah untuk menghadirkan ruang yang lebih inklusif dalam menikmati musik dan berekspresi. Melalui rangkaian bunga dan putaran piringan hitam, Seputar FISTFEST menunjukkan bahwa perempuan dapat merayakan diri, berbagi cerita, dan menikmati musik dalam ruang yang aman serta nyaman.
Lebih jauh lagi, FISTFEST berusaha menghadirkan ruang konser yang aman, nyaman, dan inklusif bagi perempuan untuk menikmati musik tanpa rasa khawatir. Melalui pesan “Setara di Belantara”, FISTFEST ingin menegaskan bahwa ruang musik yang seharusnya menjadi tempat di mana setiap gender dapat berdiri setara, saling menghargai, dan merayakan kebebasan berekspresi.
Baca Juga
-
Menebar Kebaikan di Bulan Suci, FISTFEST Berkolaborasi dengan Waroeng Steak
-
Tanam Mangrove dan Berkarya, Kolaborasi Seniman dan Penulis di Pantai Baros
-
4 Rekomendasi Social Space di Jogja untuk Nongkrong dan Diskusi Santai
-
Lagu Digunakan Tanpa Izin, Band Wijaya 80 Laporkan Pelanggaran Hak Cipta
-
Menunggu Hari Perempuan Bisa Benar-Benar Aman dan Nyaman di Konser Musik
Artikel Terkait
-
Angka Kekerasan di Jakarta Tembus 35 Ribu Kasus, Pemprov DKI Diminta Segera Cari Solusi
-
Doa Zakat Fitrah untuk Anak Laki-Laki dan Perempuan Lengkap dengan Tata Cara yang Benar
-
Klub Ada, Kompetisi Tiada: Sepak Bola Perempuan Indonesia Ada Masa Depannya Gak?
-
Hari Perempuan Internasional: Saatnya Berhenti Membeli Narasi Kesempurnaan
-
Bakti Tanpa Gaji Anak Perempuan: Karier Melesat, Tapi di Rumah Otomatis Jadi Perawat
News
-
Gara-Gara Potongan Video, Kebijakan Bupati Sumba Jadi "Gorengan" Panas Medsos
-
Pelecehan Kok Dibilang Fetish? Mengenal Rage Bait, Konten Sampah yang Hobi Makan Korban
-
Overtourism Bahayakan Lingkungan? Ketika Jejak Karbonmu Lebih Berat dari Koper
-
Harapan di Phoenix Library: Ketika Kertas Lebih Galak daripada Rudal
-
Mohon Maaf Lahir Batin ke Tetangga Udah, ke Diri Sendiri Kapan?
Terkini
-
Jadwal F1 GP China 2026: Apakah Kemenangan Mercedes Berlanjut ke Shanghai?
-
Dituding Plagiat, Tim The King's Warden Sebut Cerita Berdasar Fakta Sejarah
-
Kala Media Sosial sebagai Medan Perang Baru Propaganda Global
-
Perut Kenyang tapi Tas Kosong: Ketika Nasi Gratis Tak Bisa Gantikan Buku Tulis
-
Tanteku Seorang Coder: Ketika Urutan Bangun Tidur Jadi Pelajaran Sains Paling Keren