Sutradara Ismail Basbeth tengah menyiapkan film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang yang mengangkat isu rasisme terhadap keluarga Tionghoa. Proyek ini diadaptasi dari novel karya Wisnu Suryaning Adji dan digarap bersama deretan aktor keturunan Tionghoa.
Cerita film ini berfokus pada perjuangan sebuah keluarga Tionghoa yang harus menghadapi diskriminasi dan rasisme dalam kehidupan sehari-hari. Kisah tersebut digarap oleh sutradara asal Yogyakarta, dengan pendekatan yang menonjolkan sisi personal para tokohnya.
Mengutip dari beberapa sumber, sang produser, Imran Hasibuan, menyebut bahwa film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang menempatkan sosok Encek, seorang laki-laki Tionghoa, sebagai pusat cerita yang menapaki hidup penuh tekanan. Ia menjelaskan bahwa Encek lahir pada era 1950-an sebagai yatim piatu dari keluarga miskin dan dibesarkan di panti asuhan berisi anak-anak muslim tanpa pernah mengetahui siapa orang tuanya.
Menginjak remaja, Encek kabur dari panti asuhan dan bekerja sebagai kuli panggul di sebuah pasar, karena buta huruf dan tak pernah bersekolah. Kisah ini berlanjut hingga ia jatuh cinta pada Encim, putri pedagang beras keturunan Tionghoa.
Imran menyebut cerita ini menggambarkan cara keluarga Tionghoa memaknai identitas di tengah diskriminasi dan rasisme, termasuk ketika Encek dan Encim menikah tanpa restu keluarga serta membesarkan tiga anak.
Di sisi lain, tragedi 1965 meninggalkan luka mendalam bagi Encim yang menjadi korban kekerasan seksual saat peristiwa itu terjadi. Keluarga ini kembali diguncang ketika kerusuhan Mei 1998 ikut menyeret mereka dalam ketakutan dan tekanan sosial.
Kehidupan Encek semakin runtuh setelah Encim meninggal, membuatnya merasa kehilangan pegangan. Pada usia 72 tahun, ia yang tak lagi akur dengan anak-anaknya mulai meyakini bahwa hidupnya tak berarti dan memutuskan untuk merencanakan bunuh diri.
Pergulatan panjang yang dialami Encek dan keluarganya inilah yang membuat film ini menonjolkan lapisan emosi yang kuat. Cerita tersebut tidak hanya menampilkan realitas pahit diskriminasi, tetapi juga upaya manusia untuk bertahan di tengah luka yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Film ini tentunya melibatkan aktor dan aktris keturunan Tionghoa seperti Ferry Salim, Melissa Karim, dan Verdi Solaiman. Film ini juga dilengkapi dengan hadirnya Nicholas Anderson serta Jessy Davita yang ikut memperkuat karakter dalam cerita.
Dengan tema yang dekat dengan sejarah dan pengalaman masyarakat Tionghoa di Indonesia, film ini diharapkan mampu membuka ruang refleksi baru bagi penonton. Proyek garapan Ismail Basbeth tersebut kini tengah dipersiapkan menuju tahap produksi lanjutan sebelum akhirnya dirilis ke publik.
Baca Juga
-
Tanam Mangrove dan Berkarya, Kolaborasi Seniman dan Penulis di Pantai Baros
-
4 Rekomendasi Social Space di Jogja untuk Nongkrong dan Diskusi Santai
-
Lagu Digunakan Tanpa Izin, Band Wijaya 80 Laporkan Pelanggaran Hak Cipta
-
Menunggu Hari Perempuan Bisa Benar-Benar Aman dan Nyaman di Konser Musik
-
Diduga Selingkuh Lagi, Jennifer Coppen Singgung Sosok Jule di Live
Artikel Terkait
-
Wajib Tonton: 7 Film Adaptasi Kisah Nyata dengan Cerita Penuh Makna
-
Akhirnya Terwujud! Jackie Chan dan Chris Tucker Bakal Reuni di Rush Hour 4
-
Ulasan Film Korea Mantis: Ketika Pembunuh Bayaran Jadi Pekerjaan Tetap
-
Pelangi di Mars: Akhirnya Film Sci-Fi Indonesia Sekelas Hollywood Terwujud?
-
Ironi Baru Sinema: Bioskop Kian Sepi di Tengah Ramainya Platform Streaming
Entertainment
-
Penuh Chemistry! 3 Rekomendasi Drama Korea Go Yoon Jung di Netflix yang Bikin Baper
-
Anime Coming-of-age The Ramparts of Ice Siap Tayang April di Netflix
-
Terseret Isu Penelantaran Anak, Denada Unggah Pesan Haru untuk Mendiang Ibu
-
Garap Reboot, Kristen Stewart Ingin Kembali ke Twillight Jadi Sutradara
-
Resmi Berakhir, Para Pemeran Utama Taxi Driver 3 Sampaikan Salam Perpisahan