Demi apa pun, trailer Film Pelangi di Mars sungguh menakjubkan! Bukan sebatas visualnya keren saja, atau karena teknologi yang digunakan canggih, tapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kita bisa melihat sineas Indonesia bisa membuat film sebesar ini.
Selama bertahun-tahun, kita terbiasa dijejali sci-fi dengan standar tinggi hanyalah milik Hollywood, Jepang, atau Eropa. Kita menerima film yang dunia visualnya megah (misalnya bentuk planet baru, makhluk artifisial) sebagai sesuatu yang diciptakan dari industri besar (bukan dari Indonesia).
Namun, munculnya Film Pelangi di Mars secara otomatis meruntuhkan anggapan itu. Ada sesuatu yang sangat ‘baru’, tapi sekaligus sangat ‘Indonesia’.
Upie Guava, sang sutradara yang selama ini suka menggarap video klip musik (sedikit jumlah film layar lebar yang dibuatnya), akhirnya mengambil langkah yang mungkin terasa gila bagi sebagian besar orang. Yup, dia masuk ke genre yang terbilang sulit dan paling gampang dikritik.
Bukan drama, bukan horor, bukan romansa yang aman, melainkan sci-fi. Genre yang bahkan bila ada dana melimpah pun bisa gagal total kalau eksekusinya kacau.
Menariknya, kegilaan Upie kali ini terasa sebagai keputusan paling tepat. Karena hanya orang yang benar-benar berani dan nekad yang mau menggabungkan Extended Reality, Unreal Engine, dan desain visual futuristik ke dalam sebuah produksi lokal.
Hasilnya? Dari cuplikan trailernya bikin kening bergetar, bulu kuduk naik, dan hati ingin berteriak bangga. Nggak ada satu pun shot yang terasa murahan. Cahaya, atmosfer Mars, komposisi warnanya, semuanya terkurasi dengan gaya khas Upie: bold, halu, dan banyak eksplorasi.
Soal cerita, mungkin nggak benar-benar original, tapi layak kita apresiasi. Jelas tentunya, ini cerita tentang anak yang lahir di tempat yang seharusnya bukan rumahnya. Anak yang nggak pernah mencium aroma tanah, nggak pernah merasakan angin bumi, dan tumbuh bersama para robot: Batik, Sulil, Kimchi, Yoman, Petya.
Kelihatan menarik, kan? Cerita seperti ini jelas nggak sebatas sci-fi, tapi sebagai sinefil, kita juga punya hak untuk bersikap kritis. Karena film sebesar ini bukan cuma soal teknologi yang memukau, tapi juga harus punya hati yang kuat dan konsisten.
Mampukah Pelangi di Mars menjaga keseimbangan itu? Mampukah merangkai hubungan antara Pelangi dan robot-robotnya menjadi sesuatu yang organik, bukan gimmick?
Mampukah membangun konflik yang matang tanpa terjebak melodrama? Mampukah menyajikan dunia Mars yang asing, tapi tetap terasa dekat secara emosional bagi penonton Indonesia?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan untuk menjatuhkan, melainkan buat menjaga ekspektasi agar sinkron dengan potensi filmnya. Karena kalau film ini berhasil menjawabnya dengan baik, maka nggak hanya akan jadi film bagus.
Betewe, yang bikin haru tuh proses panjang di balik pembuatannya. Dari 2020 hingga 2025, proyek ini digarap dengan ketekunan yang nggak umum. Lima tahun adalah waktu yang panjang, terutama di industri film (dalam negeri) yang serba cepat dan sering terjebak dalam mindset ‘yang penting rilis’.
Fakta bahwa Upie dan Mahakarya Pictures mau menghabiskan waktu selama itu demi memastikan kualitasnya menunjukkan bahwa film ini bukan proyek cari untung; ini proyek mimpi, cinta, sekaligus pembuktian.
Melihat Messi Gusti tampil sebagai Pelangi juga ngasih harapan besar. Anak ini punya kemampuan akting natural yang jarang dimiliki aktor seusianya.
Lutesha dan Rio Dewanto pun membawa stabilitas emosional yang dibutuhkan film sebesar ini, termasuk Livy Renata dan Myesha Lin. Kombinasi para pemeran ini membuat film ini nggak hanya megah secara visual, tetapi juga ada kemungkinan besar menyentuh hati penonton dengan cara yang lebih intim.
Dan jujur saja, lewat trailer ini, sineas Indonesia ternyata mampu bangkit dari tontonan pasaran. Sekarang tinggal menunggu 2026. Yuk, kita nantikan kabar menarik selanjutnya!
Baca Juga
-
Review Lingsir Wengi: Tembang Jawa, Mitos, dan Teror di Motel Tua Malioboro
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
-
Review The Disciple: A Wu-Tang Fable dan Ironi Album Eksklusif Wu-Tang Clan
Artikel Terkait
-
Ironi Baru Sinema: Bioskop Kian Sepi di Tengah Ramainya Platform Streaming
-
Rio Dewanto Enteng Pisahkan Karakter di Film dan Kehidupan Pribadi: Makanya Saya Dibayar Mahal
-
6 Film Terbaik FFI Angkat Isu Perempuan
-
5 Film Horor Klasik Terbaik Sepanjang Masa, Tak Kalah dari yang Modern
-
Film Exorcist Terbaru Lagi Dipersiapkan, Scarlett Johansson Jadi Bintangnya
Ulasan
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
The Lament of Autumn: Drama Republik dalam Vibes Love Hate yang Bikin Baper
-
Review Burning: Tentang Misteri yang Mungkin Hanya Ada di Kepala Kita
Terkini
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
-
Stop Scroll Medsos Seharian! Ini Terapi Paling Manjur Bebas dari Brain Fog
-
Warisan Resep Dapur Ibu
-
Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai
-
Siap Debut Jepang, Baby DONT Cry Akan Rilis Single "Replay" di 2 Negara!