M. Reza Sulaiman | Imas Hanifah N
Ilustrasi ruang kelas di sebuah sekolah. (Pexels/Diana)
Imas Hanifah N

Berbeda denganku yang hanya seorang anak rumahan dan hampir tidak pernah pergi ke mana-mana, Eliano menjalani hidupnya dengan penuh kebebasan. Bukan dalam arti yang buruk, tetapi mungkin berbeda dari itu. Agak aneh. Lucunya, ia bangga. Hal itulah yang membuatku tak habis pikir.

“Rin, aku pernah merokok.”

Eliano tersenyum seakan-akan anak SMA lain tidak pernah seberani dirinya. Padahal, sudah banyak kok yang pernah merokok.

“Ya, terus kenapa?” tanyaku ketus sembari berpikir, memang di mana letak kerennya orang yang merokok?

“Tidak enak, pahit. Kamu tidak usah coba.”

Oh, ya ampun. Tentu saja aku tidak akan melakukannya. “Okeee, terima kasih review gratisnya, tapi aku memang tidak pernah tertarik. Jadi, tidak usah khawatir.”

Ia hanya tersenyum mengejek mendengar aku mengatakan jawaban tadi. Lalu setelah itu, kuputuskan untuk pamit pergi ke perpustakaan—tempat paling menyenangkan, walaupun sebenarnya kadang-kadang aku merasa bosan.

Hal yang sangat berbeda sebetulnya. Sejak SD sampai sekarang kelas dua SMA, aku tidak pernah bosan terhadap perpustakaan. Buku-buku, suasana yang tenang, dan keramahan ibu penjaga perpustakaan termasuk hal yang aku sukai. Namun, ketika beranjak ke kelas tiga, perpustakaan menjadi tempat yang tak lagi ada di urutan nomor satu. Hal itu membuatku sedikit terpukul. Aku merasa sedih dengan perubahan yang menurutku tidak seharusnya terjadi.

Aku menyangkalnya sekuat tenaga, bahkan hingga detik ini. Saat aku ingin bermain ponsel di kelas karena jam pelajaran sedang kosong, aku tetap menggerakkan kakiku ke perpustakaan. Beruntung, kakiku masih mampu diajak kerja sama. Walaupun ternyata, sesaat setelah memilih satu buku, aku tidak bisa benar-benar fokus untuk membacanya.

Aku masih mencoba menatap deretan huruf di hadapanku, tetapi pikiranku justru teringat lagi pada senyum mengejek Eliano yang sempat kulihat tadi. Ada sesuatu yang mengusikku. Bukan tentang rokoknya—karena soal itu aku tidak akan pernah tertarik—tetapi tentang bagaimana ia dengan begitu ringan mengakui kegagalannya saat mencari pengalaman. Ia mencoba, ia merasa pahit, ia berhenti, dan akhirnya terlihat biasa-biasa saja. Seolah-olah itu memang bukan hal yang salah. Apa memang itu bukan hal yang salah?

Sementara aku? Aku terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja, yang kupikir adalah sesuatu yang benar. Membaca buku dan belajar. Hanya itu. Aku memang tidak ingin berubah. Aku merasa apa yang kulakukan selama ini adalah sesuatu yang tidak boleh dilanggar sedikit pun.

“Rin, kamu melamun?” Suara lembut Bu Lastri, penjaga perpustakaan, membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum tipis dan menggeleng, lalu buru-buru menutup buku yang sedari tadi hanya kubolak-balik halamannya.

Setelah beberapa saat, aku pun memutuskan untuk keluar. Bukan kembali ke kelas, melainkan menuju taman belakang sekolah yang jarang dikunjungi. Di sana, aku melihat Eliano lagi. Ia tidak sedang merokok atau melakukan hal aneh lainnya. Ia hanya duduk di atas pembatas beton sembari memakai headphone dengan tangan yang bergerak lincah di atas buku sketsa. Wajahnya terlihat begitu lepas seolah dunia di sekitarnya hanyalah latar belakang yang patut disepelekan.

Rasa penasaran yang memuncak akhirnya mengalahkanku. Aku mendekat, mencoba mengintip apa yang sedang Eliano lakukan. Ternyata, ia tidak sedang menggambar pemandangan. Ia sedang mencoret-coret garis abstrak dengan cat air yang berantakan. Perpaduan warnanya pun, entahlah, tampak bertabrakan.

“Katanya ke perpus? Kok nyasar ke sini?” tanya Eliano tanpa menoleh. Betapa mudahnya ia mengetahui keberadaanku.

“Bosan,” jawabku singkat. Kata yang selama ini tabu untuk kuucapkan tentang perpustakaan.

Eliano tertawa kecil, lalu menyodorkan kuas lainnya dan palet kecil padaku. “Coba aja. Mau gak? Jangan mikir mau gambar apa. Corat-coret aja dulu.”

Aku sedikit ragu. Tanganku yang biasa memegang pulpen untuk mencatat rumus-rumus kaku kini gemetar memegang kuas. Aku terbiasa dengan kerapian dan hal yang pasti. Aku terbiasa dengan hasil yang harus selalu benar. Namun, melihat Eliano yang begitu santai meski bajunya terkena noda cat, aku pun memberanikan diri. Aku menggoreskan warna biru tua di atas kertas putih itu, lalu menambahkan warna jingga yang terang.

Rasanya aneh. Ada letupan kecil di dadaku. Selama ini aku selalu mencintai ketenangan, tetapi hari ini aku tidak begitu.

“Mana sini, lihat. Oke juga,” ucap Eliano. Terdengar tidak serius. Ia mungkin hanya bicara asal.

Pulang dari sekolah, aku tidak langsung ke rumah untuk belajar. Aku mampir ke sebuah toko alat tulis di ujung jalan. Aku membeli beberapa kanvas kecil dan cat akrilik. Saat kasir menyebutkan total harganya, aku merasa seperti sedang membeli barang favorit yang selama ini aku idam-idamkan. Perasaan yang betul-betul baru dan menantang!