Ghost in the Cell, film terbaru garapan Joko Anwar, resmi merilis first look teaser dan poster perdana pada Kamis, 4 Desember 2025. Informasi tersebut dibagikan langsung melalui akun Instagram sang sutradara dan disambut antusias oleh para penggemar film Indonesia.
Karya ini menjadi film ke-12 Joko Anwar setelah Siksa Kubur dan Pengepungan di Bukit Duri, sekaligus menandai momen kembalinya ia ke genre komedi setelah dua dekade, semenjak Janji Joni (2005).
Film yang diproduksi oleh Come and See Pictures dan diproduseri Tia Hasibuan ini mengusung pendekatan horor-komedi, genre kontras yang menuntut presisi dalam ritme, atmosfer, dan penampilan para aktornya. Tak heran Joko Anwar mengumpulkan 19 aktor laki-laki sekaligus untuk memerankan karakter-karakter utama, sesuai dengan latar cerita yang sepenuhnya berlangsung di sebuah penjara pria di Jakarta.
Beberapa nama yang terlibat antara lain Abimana Aryasatya (Anggoro), Endy Arfian (Dinas), Morgan Oey (Bimo), Lukman Sardi (Pendi), Aming (Tokek), Bront Palarae (Jefry), Yoga Pratama (Six), Danang Suryonegoro (Irfan), Tora Sudiro (Anton), Michael Lucock (Wildan), Ho Yuhang (Rendra), dan Rio Dewanto (Endy).
Hadir pula nama-nama lain seperti Almanzo Konoralma, Magistus Miftah, Faiz Vishal, Haydar Salishz, Kiki Narendra, Jaisal Tanjung, Arswendy Bening Swara, serta Dewa Dayana.
Joko Anwar menjelaskan bahwa ide Ghost in the Cell lahir dari pengalamannya menggarap berbagai film horor yang sering mengambil latar apartemen atau rumah susun (tempat-tempat yang masih memungkinkan karakter untuk melarikan diri). Dalam konferensi pers di Epicentrum XXI Jakarta Selatan, ia mengungkapkan bahwa ia menginginkan ruang yang membuat para karakter benar-benar tidak punya pilihan untuk kabur.
"Saya kepikiran di mana tempat yang kalau misalnya ada hantu, kita enggak bisa kabur. Jadi muncullah ide, ada hantu di penjara," ujarnya.
Konsep tersebut berkembang menjadi cerita tentang dua geng yang saling bermusuhan dan sama-sama menjalani hukuman di penjara yang padat. Konflik mereka seharusnya menjadi sumber kekacauan utama, namun keadaan berubah drastis ketika para narapidana mulai tewas satu per satu.
Pembunuhnya bukan musuh mereka, melainkan sesosok hantu ganas yang menghantui seluruh blok. Dalam kondisi terpojok, dua geng itu akhirnya harus bekerja sama untuk bertahan hidup.
Sebagai sutradara, Joko Anwar menekankan bahwa film ini menuntut kemampuan akting yang matang dari seluruh pemainnya karena Ghost in the Cell memadukan dua genre yang berbeda secara ekstrem: horor dan komedi. Menurutnya, ritme komedi harus sangat presisi agar tidak mengganggu intensitas horor, sementara adegan-adegan menegangkan tetap harus memberikan ruang bagi elemen humor yang organik.
"Ini harus dimainkan oleh aktor-aktor yang bukan cuma bisa menguasai dua genre berbeda yang sangat sulit itu, tapi juga mereka harus paham isu-isu nyata yang kami masukkan ke dalam cerita," tuturnya.
Tia Hasibuan menambahkan bahwa kehadiran 19 aktor laki-laki sebagai pemeran utama merupakan tantangan besar dalam proses produksi. Genre horor-komedi menuntut suasana yang gelap sekaligus ringan, sehingga keseimbangan energi para aktor menjadi hal yang sangat penting.
Ia menekankan bahwa meskipun latar cerita berlangsung di penjara yang suram, atmosfer selama proses syuting tetap dijaga agar positif dan menyenangkan demi menghasilkan energi komedi yang natural dalam film.
Sebagai proyek yang telah melalui riset intensif selama enam tahun, sejak 2018 hingga 2024, Ghost in the Cell diposisikan sebagai salah satu film lokal paling ambisius yang akan dirilis pada 2026. Joko Anwar menyatakan bahwa komitmennya terhadap detail cerita menjadi alasan mengapa persiapan film ini berlangsung begitu panjang.
Ia ingin memastikan bahwa seluruh elemen cerita (dari misteri, humor, hingga dinamika antarkarakter) dapat menyatu secara kuat dalam satu dunia yang imersif.
Dengan jajaran aktor yang solid, ide cerita yang kuat, dan perpaduan genre yang jarang digarap di Indonesia, Ghost in the Cell diperkirakan menjadi salah satu film nasional yang paling dinantikan tahun depan. Film ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga eksplorasi baru dari salah satu sutradara paling berpengaruh di industri film Indonesia saat ini.
Baca Juga
-
Produser Mononoke Pensiun, Minta Maaf soal Recasting Sakurai di Film Ketiga
-
Ha Seok Jin dan Hani EXID Resmi Bintangi Drama Romantis Baru Love Is Coming
-
Kembali Beraktivitas, Kim Soo Hyun Gabung Proyek Iklan untuk Merek Filipina
-
Pembelaan Diri Nana Diterima, Pelaku Perampokan Divonis 7 Tahun Penjara
-
Rilis Visual Utama, You and I Are Polar Opposites Season 2 Tayang 5 Juli
Artikel Terkait
-
4 Fakta Menarik Film Merias Mayat yang Bakal Tayang 2026, Reza Rahadian Jadi Jenazah
-
Renegades: Tim Navy SEALs Nekat Curi Emas Nazi 27 Ton di Dasar Danau, Malam Ini di Trans TV
-
10 Tahun Setia Jadi Risa di Danur, Ini Alasan Prilly Latuconsina Tolak Banyak Tawaran Film Horor
-
Deretan Serial dan Film Marvel yang Bertema Natal, Mana Favoritmu?
-
Sinopsis The Legend of Aang: The Last Airbender, Tampilkan Aang Versi Dewasa
Entertainment
-
Suka Teach You a Lesson? 5 Drama Korea Ini Fokus Beresin Kriminal Remaja
-
BTS Kembali setelah 4 Tahun, War Tiket di Jakarta Tembus 540 Ribu Antrean!
-
5 Rekomendasi Film dan Serial di Netflix yang Rilis Pekan Ini, Ada Drama hingga Dokumenter Kriminal
-
Kim So Yeon Terjebak dengan Mantan Suami di Drama Rediscovery of Love
-
Drakor A Bona Fide Killer Tayang Juli, Intip Jajaran Pemain Utamanya!
Terkini
-
Paket Datang, Bahaya Tak Terbilang: Sisi Gelap Sampah Belanja Online
-
Ambisi Besar Macan Kemayoran: Datangkan Shin Tae-yong, Persija Siap Dominasi Liga 1!
-
Di Balik Misteri Nabi Khidir: Mengapa Kisahnya Tidak Pernah Usai untuk Dibahas?
-
15 Tahun Penantian dan Cinta yang Setara di Drama Korea Lovely Runner
-
Seni Menertawakan Luka yang Tak Terlihat di Buku Furiously Happy