M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Warga memilih takjil yang dijajakan di Pasar Takjil Ramadhan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, Rabu (4/3/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Vicka Rumanti

Merantau bukanlah hal yang asing lagi bagi saya. Ini bukan sekadar pindah lokasi, melainkan juga melatih lidah untuk beradaptasi. Perjalanan saya dimulai dari Wonogiri, tempat tinggal dan kelahiran saya. Lalu SMA saya merantau ke Solo, kuliah di Jogja, dan kini meluncur ke Jakarta untuk menjalani masa magang.

Di antara tumpukan tugas dan kemacetan, makanan menjadi salah satu healing dan stress release bagi saya. Namun, tampaknya di sini ada kontras rasa.

Lahir di Wonogiri dan bergeser sedikit ke Solo membuat lidah saya seakan terkunci pada rasa gurih dan pedas. Itulah mengapa saat kuliah di Jogja, saya sempat mengalami culture shock kecil, bahkan soto pun rasanya manis.

Di Jakarta, saya merasa normal-normal saja. Rasa di sini cenderung netral, ada manis, asin, gurih, dan pedas yang masih sangat bisa saya toleransi. Namun, untuk menu harian, saya rasa masih terlalu di zona nyaman. Lebih ke mungkin malas berpikir mau makan apa. Paling sering seputar ayam. Kalau nggak ayam geprek, ayam penyet, atau ayam bakar. Selalu itu-itu saja.

Sebenarnya ada bakso dan mi ayam, tapi sebagai orang Wonogiri, rasanya saya sudah bosan karena itu makanan sehari-hari di kampung halaman. Jika sedang bingung, Warung Tegal (Warteg) selalu jadi juara. Selain karena malas berpikir mau makan apa, Warteg telah menyediakan banyak pilihan, mulai dari lauk kering, hingga sayur berkuah.

War Takjil

Bulan puasa ini lumayan menambah warna di kehidupan magang Jakarta. Di bulan pertama ketika kantor masih di Kuningan, saya sempat merasakan hiruk-pikuk war takjil. Walaupun saya tidak puasa, war takjil tetap jadi budaya. Banyak sekali street food di daerah Jalan Minangkabau, Setiabudi, Jakarta Selatan. Dari pisang coklat hingga es cincau, semua tumpah ruah di sana, bahkan jajanan SD seperti papeda, telur gulung, cimol, semua ada.

Keseruan itu berlanjut saat saya pindah kos dekat kantor baru di Palmerah, Jakarta Barat. Tak lagi di Jalan Minangkabau, tapi di Bendungan Hilir (Benhil). Bazar Takjil di sini jauh lebih ganas. Ratusan orang berdesak-desakan demi berburu takjil dambaan. Ada rasa sesak dan pusing karena terlalu banyak orang, tapi juga menyenangkan ketika kita harus berjuang demi seplastik gorengan atau segelas es campur untuk berbuka puasa.

Bertahan Hidup di Dapur Kos

Setelah satu bulan sibuk beradaptasi di lingkungan kerja, satu minggu belakangan ini saya bersama teman saya yang tinggal satu kos akhirnya memutuskan untuk mulai memasak sendiri. Selain demi kesehatan, ini adalah strategi jitu untuk bertahan dengan lebih hemat.

Rutinitas pagi kami kini berubah. Belanja ke pasar berburu bahan masakan, mulai dari sayur, tofu, telur, tempe, hingga stok bumbu dapur yang wajib. Kami mulai berkreasi dengan Tumis Tofu Jamur Enoki, Balado Terong, hingga Capcay.

Meski membutuhkan waktu yang tidak singkat saat memasak, kepuasan yang didapatkan itu tak ternilai. Sekali masak karena agak banyak, ini bisa untuk makan kami dua kali –pagi dan sore.

Kehidupan magang di Jakarta memang terasa repetitif. Bangun, makan, siap-siap, kerja, pulang, tidur. Namun, hari Minggu selalu menjadi tombol reset, terutama bagi saya. Itu adalah hari yang selalu saya tunggu untuk bisa pergi ke Gereja dan istirahat. Ini menjadi waktu untuk menyerahkan seluruh lelah dan rencana satu minggu ke depan ke dalam tangan Tuhan. Bagi saya, sekeras apa pun usaha kita di perantauan, rencana Tuhan sajalah yang berjalan.