Hayuning Ratri Hapsari | Natasya Regina
Manohara (Instagram/manodelia)
Natasya Regina

Manohara Odelia Pinot kembali menjadi sorotan publik setelah mengunggah surat terbuka melalui akun Instagram pribadinya.

Dalam unggahan tersebut, Manohara menyampaikan pesan tegas yang ditujukan kepada media Indonesia serta berbagai platform digital terkait penyebutan namanya dalam pemberitaan.

Setelah cukup lama tak muncul ke publik, Manohara memilih bersuara untuk meluruskan narasi yang selama ini menurutnya keliru dan berulang kali digunakan oleh media.

Menolak Label Mantan Istri

Dalam surat terbuka itu, Manohara secara jelas menyatakan keberatannya disebut sebagai mantan istri Pangeran Kelantan. Ia menilai penyebutan tersebut tidak mencerminkan fakta yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya.

"Selama bertahun-tahun, saya telah berulang kali disebut dalam artikel dan berita utama sebagai 'Mantan Istri [kosong]'" tulis Manohara pada Senin, (5/1/2026).

Menurutnya, label tersebut memberi kesan seolah ia pernah menjalani hubungan pernikahan yang sah dan romantis, padahal kenyataannya jauh berbeda dari gambaran tersebut.

Pernikahan yang Disebut Tidak Konsensual

Manohara menjelaskan alasan mengapa ia menolak penyebutan mantan istri. Ia menegaskan bahwa pernikahan yang pernah terjadi bukanlah hasil dari kesepakatan dua pihak, apalagi hubungan yang dibangun atas dasar cinta.

"Saya menulis untuk dengan hormat menjelaskan bahwa deskripsi ini tidak akurat dan menyesatkan. Apa yang terjadi selama masa remaja saya bukanlah hubungan romantis, bukan hubungan konsensual, dan bukan perkawinan sah,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa pada saat itu dirinya masih di bawah umur dan berada dalam kondisi terpaksa ketika pernikahan tersebut berlangsung.

Menyoal Makna dan Implikasi Bahasa

Lebih lanjut, Manohara menekankan bahwa penggunaan istilah mantan istri membawa implikasi yang serius. Menurutnya, istilah tersebut menggiring opini seolah pernikahan tersebut dilakukan secara sukarela dan dalam kondisi dewasa.

"Menggunakan istilah 'Mantan istri' berarti hubungan dan pernikahan yang sah, sukarela, dan dewasa. Implikasi itu salah. Ini membingkai ulang situasi paksaan sebagai hubungan yang sah dan mendistorsi realitas apa yang terjadi,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta media dan platform digital untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata serta konteks saat menulis tentang dirinya.

Seruan untuk Etika Jurnalistik

Melalui surat terbuka tersebut, Manohara secara khusus meminta agar media berhenti menggunakan label mantan istri yang merujuk kepadanya. Ia menilai kesalahan penyebutan tersebut mencerminkan praktik jurnalistik yang tidak etis dan kurang bertanggung jawab.

Ia menegaskan bahwa permintaan ini bukan upaya untuk mengungkit kembali masa lalu, melainkan bentuk penegasan terhadap pentingnya akurasi dan etika dalam pemberitaan.

"Permintaan ini bukan tentang mengunjungi kembali masa lalu. Ini tentang akurasi, etika, dan penggunaan bahasa dan konteks yang bertanggung jawab," imbuhnya.

Pesan untuk Media dan Publik

Di bagian akhir unggahannya, Manohara mengingatkan bahwa setiap kata yang ditulis dalam sebuah berita memiliki dampak dan konsekuensi. Ia berharap para penulis dan jurnalis dapat lebih berhati-hati serta berempati saat mengangkat kisah seseorang.

"Hati-hati bahasa itu penting. Kata-kata memiliki konsekuensi. Orang-orang yang selamat layak untuk memiliki cerita mereka digambarkan dengan jujur dan dengan martabat," tutur Manohara.

Kilasan Kasus Lama yang Pernah Menggemparkan

Sebagai pengingat, nama Manohara sempat menjadi perhatian luas publik pada 2008. Saat itu, ia dikabarkan mengalami kekerasan selama pernikahannya dengan Pangeran Kelantan Tengku Muhammad Fakhry.

Ketika pernikahan tersebut berlangsung, Manohara masih berusia 16 tahun. Kasus ini kala itu memicu perbincangan nasional hingga internasional dan meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan hidupnya hingga kini.