Hayuning Ratri Hapsari | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi gedung-gedung perkotaan (Pixabay)
Yayang Nanda Budiman

Bagi banyak orang di kampung halaman, merantau ke kota metropolitan seperti Jakarta identik dengan keberhasilan. Nama Jakarta seolah menjadi simbol prestise. Siapa pun yang bekerja di ibu kota dianggap telah menapaki tangga kesuksesan. Gaji besar, hidup mapan, dan masa depan cerah sering kali dilekatkan begitu saja pada mereka yang menyebut diri sebagai karyawan di Jakarta.

Namun, realitas tidak selalu seindah imajinasi. Di balik gedung-gedung tinggi dan pusat perbelanjaan yang gemerlap, ada perjuangan sunyi yang jarang terlihat. Banyak perantau hidup dalam ritme yang keras, dengan penghasilan yang habis untuk kebutuhan dasar. Status bekerja di Jakarta tidak otomatis menjadikan seseorang berkecukupan.

Ironisnya, ekspektasi itu memuncak setiap kali musim mudik tiba. Dalam jamuan Lebaran, pertanyaan yang terdengar sederhana sering terasa menekan. “Kerja di Jakarta pasti sudah sukses, ya?” atau “Kapan beli rumah?” menjadi sapaan yang berulang. Di ruang tamu yang hangat oleh silaturahmi, para perantau kerap berada di posisi serba salah, antara menjaga citra dan menyimpan kenyataan.

Kota Mahal dan Hidup Pas-Pasan

Jakarta menawarkan peluang, tetapi juga menuntut harga yang tinggi. Biaya hidup menjadi tantangan pertama yang harus dihadapi. Harga kosan di kawasan strategis bisa setara dengan cicilan rumah di daerah. Bagi karyawan dengan gaji standar, pilihan sering kali terbatas pada kamar sempit dengan fasilitas seadanya, jauh dari bayangan hidup nyaman yang dibayangkan keluarga di kampung.

Belum lagi soal makanan. Harga kebutuhan pokok di kota besar cenderung lebih mahal. Makan siang sederhana di dekat kantor bisa menggerus anggaran bulanan secara signifikan. Banyak perantau akhirnya belajar berhemat secara ketat, membawa bekal dari kos, atau menahan diri dari sekadar nongkrong yang dianggap lumrah bagi gaya hidup urban.

Kemacetan menjadi biaya lain yang tidak selalu terlihat dalam hitungan rupiah, tetapi terasa dalam energi dan waktu. Perjalanan pergi dan pulang kerja bisa memakan waktu berjam-jam. Tubuh lelah, pikiran terkuras, sementara esok hari rutinitas yang sama menanti. Dalam kondisi seperti itu, bekerja di Jakarta lebih sering terasa sebagai perjuangan bertahan daripada menikmati kemewahan.

Sebagai karyawan, posisi tawar pun tidak selalu kuat. Target kerja tinggi, persaingan ketat, dan ancaman evaluasi kinerja menjadi bagian dari keseharian. Tidak sedikit yang harus lembur tanpa kompensasi memadai, sekadar demi menjaga stabilitas pekerjaan. Di tengah tekanan itu, menabung untuk membeli rumah atau kendaraan seperti yang dibayangkan keluarga sering kali menjadi rencana yang terus tertunda.

Lebaran dan Panggung Ekspektasi

Semua realitas itu seakan menguap ketika momen Lebaran tiba. Mudik bukan hanya perjalanan pulang, tetapi juga panggung sosial. Para perantau hadir sebagai representasi keberhasilan keluarga. Pakaian baru, oleh-oleh, dan cerita tentang pekerjaan menjadi simbol yang dibaca oleh lingkungan sekitar.

Di meja makan saat jamuan keluarga, percakapan sering mengarah pada perbandingan. Ada yang bertanya tentang gaji, jabatan, atau rencana investasi. Tidak jarang pula muncul candaan yang menyiratkan tekanan, seolah bekerja di Jakarta pasti identik dengan kesejahteraan berlimpah. Dalam situasi itu, mengakui bahwa hidup masih pas-pasan terasa seperti membuka aib.

Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Banyak perantau harus membagi gaji untuk biaya kos, transportasi, makan, cicilan, hingga membantu keluarga di kampung. Sisa yang ada sering kali tidak seberapa. Mereka hidup dalam perhitungan ketat setiap bulan. Namun, ekspektasi sosial membuat kisah perjuangan itu jarang diungkapkan.

Kalimat sederhana seperti, “Om, Tante, bekerja di Jakarta tidak selalu indah seperti yang dibayangkan,” sering kali tertahan di ujung lidah. Ada kekhawatiran mengecewakan harapan orang tua atau meruntuhkan kebanggaan keluarga. Maka yang muncul adalah senyum dan jawaban normatif, bahwa semua baik-baik saja.

Di titik inilah beban psikologis muncul. Perantau tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi di kota besar, tetapi juga tekanan sosial di kampung halaman. Mereka berada di antara dua dunia. Di Jakarta, mereka berjuang untuk bertahan. Di kampung, mereka diharapkan tampil sebagai bukti keberhasilan.

Menggeser Cara Pandang tentang Sukses

Sudah saatnya cara pandang tentang sukses digeser. Bekerja di Jakarta tidak otomatis berarti kaya. Kota ini memang menyediakan peluang, tetapi juga menyimpan tantangan struktural yang tidak ringan. Harga properti yang tinggi, biaya hidup yang terus naik, dan kompetisi kerja yang ketat adalah realitas yang harus dihadapi.

Sukses seharusnya tidak semata diukur dari lokasi bekerja atau simbol material. Ketekunan bertahan di tengah kerasnya kota besar pun merupakan pencapaian. Mampu mengelola keuangan dengan disiplin, membantu keluarga meski dalam keterbatasan, dan tetap menjaga integritas dalam pekerjaan adalah bentuk keberhasilan yang sering luput dari apresiasi.

Lebaran seharusnya menjadi ruang saling memahami, bukan ajang membandingkan. Percakapan yang lebih empatik dapat membuka ruang bagi para perantau untuk berbagi cerita secara jujur. Dengan begitu, beban ekspektasi dapat berkurang, digantikan oleh dukungan yang lebih realistis.

Merantau ke Jakarta memang pilihan berani. Namun, keberanian itu tidak selalu berbuah gemerlap. Ada keringat, ada air mata, dan ada perjuangan diam-diam yang tidak terlihat dalam foto media sosial. Di balik label kota metropolitan, ada manusia-manusia yang sedang belajar bertahan.

Mungkin, di suatu meja Lebaran nanti, akan ada perantau yang akhirnya berani berkata pelan, bahwa bekerja di Jakarta tidak selalu indah seperti yang dibayangkan. Dan semoga, jawaban itu disambut dengan pengertian, bukan penghakiman.