Hayuning Ratri Hapsari | Raysazahra A.M
Potret Cate Blanchett di Squid Game Musim 3 (Netflix)
Raysazahra A.M

Tampaknya rencana besar Netflix untuk mengekspansi dunia Squid Game dari Korea Selatan ke ranah Hollywood harus terhenti di lampu merah.

Menyadur laporan dari The Playlist, pada Jumat (7/8/2026), proyek spin-off Squid Game versi Amerika Serikat yang kabarnya akan digarap oleh David Fincher, dilaporkan telah dibatalkan seiring dengan perombakan strategi waralaba Netflix.

Selama lebih dari dua tahun terakhir, desas-desus mengenai keterlibatan sutradara di balik mahakarya Se7en dan Fight Club dalam adaptasi berbahasa Inggris dari Squid Game terus menjadi perbincangan hangat di kalangan penikmat film.

Sebelumnya, proyek yang kerap disebut sebagai Squid Game: America ini bahkan santer dikabarkan produksi pada akhir tahun 2025 di Los Angeles.

Namun, laporan terbaru menyebut bahwa ambisi ini secara diam-diam telah dimasukkan ke dalam kotak arsip Netflix. Dengan kata lain, proyek yang sempat berjalan dengan judul sementara Heckler ini sudah dinyatakan mati langkah.

Detail mengenai apa yang sebenarnya direncanakan untuk Heckler cukup menarik untuk ditelisik. Netflix ternyata sempat menggandeng Dennis Kelly untuk menulis naskah proyek ini.

Ketika Cate Blanchett tiba-tiba muncul sebagai perekrut asal Amerika di Los Angeles pada episode penutup tersebut, jagat maya sontak geger.

Banyak teori penggemar menyimpulkan bahwa cameo tersebut adalah semacam backdoor pilot atau pancingan langsung untuk spin-off.

Namun, pihak The Playlist mengklaim bahwa proyek Heckler sejak awal tidak pernah dikembangkan dengan melibatkan nama Cate Blanchett dan sang aktris sama sekali tidak memiliki peran dalam rencana spin-off ini.

Pertanyaannya kemudian, mengapa Netflix membuang potensi dari proyek besar ini? Jawabannya disinyalir terletak pada dinamika di kursi eksekutif dan perubahan prioritas waralaba mereka.

Daripada mengalokasikan anggaran raksasa untuk memproduksi satu serial berbahasa Inggris yang berskala masif, Netflix kini dinilai lebih tertarik untuk mengembangkan versi adaptasi lokal yang disesuaikan secara spesifik dengan pasar internasional.

Sebagai contoh, perusahaan mungkin akan lebih memilih memproduksi spin-off independen untuk target pasar wilayah Eropa, seperti Prancis atau Norwegia, yang dinilai memiliki ikatan emosional lebih kuat dengan penonton setempat.

Selain faktor efisiensi anggaran, Netflix tampaknya mulai mengevaluasi risiko yang muncul dari perluasan cerita waralaba populer mereka.

Fakta menunjukkan bahwa tidak semua serial turunan mampu mereplikasi kesuksesan serial induknya. Hal ini tercermin pada performa penonton serial Stranger Things: Tales from '85 yang dilaporkan gagal memenuhi target.

Tren serupa juga terjadi pada waralaba Squid Game itu sendiri, tepatnya pada acara realitas Squid Game: The Challenge.

Meski musim pertamanya cukup sukses, musim kedua acara tersebut dilaporkan mengalami penurunan jumlah penonton yang sangat drastis, yakni mencapai 80 persen.

Squid Game sendiri merupakan drama thriller distopia karya Hwang Dong-hyuk. Serial ini mengangkat kisah kelam tentang ratusan peserta yang tengah mengalami keputusasaan finansial dan terlilit utang dalam jumlah besar.

Mereka diundang untuk mengikuti turnamen rahasia yang berisi berbagai permainan anak-anak tradisional Korea. Tujuan utama dari turnamen tersebut adalah memperebutkan hadiah uang tunai raksasa sebesar 45,6 miliar won.

Namun, ada harga sangat mahal yang harus dibayar. Setiap peserta yang tereliminasi atau kalah dalam permainan akan langsung dieksekusi mati dengan cara yang brutal.

Sejak penayangan perdananya pada tahun 2021, Squid Game berhasil menjelma menjadi fenomena budaya pop di seluruh dunia. Serial ini bahkan mencetak rekor sejarah sebagai tayangan orisinal Netflix yang paling banyak ditonton.