Sekar Anindyah Lamase | Athar Farha
Scene Film Best of the Best (Netflix)
Athar Farha

Musik meriah, koreografi energik, dan persahabatan menjadi pintu masuk Film Best of the Best. Film ini lalu menyimpan persoalan menarik tentang perempuan, budaya, dan ambisi yang belum sepenuhnya berkembang. Penasaran kisahnya? Kepoin, yuk!

Best of the Best merupakan film komedi coming-of-age arahan Lena Khan, sutradara Flora & Ulysses. Skenarionya ditulis Hasan Minhaj dan Prashanth Venkataramanujam. Film ini diproduksi Rideback dan 186K Films, dengan Jonathan Eirich, Minhaj, dan Venkataramanujam sebagai produser.

Maitreyi Ramakrishnan memerankan Maya, sementara Priyanka Kedia menjadi Anjali. Pemeran lainnya mencakup Ankur Rathee sebagai Ronak, Chaneil Kular sebagai Arjun, Hasan Minhaj sebagai Professor Latif, Janina Gavankar, Lilly Singh, Shreya Navile, dan Nico Greetham sebagai Harry. Film berdurasi ±1 jam 52 menit ini tayang di Netflix sejak 18 September 2026.

Ceritanya mengikuti Maya dan Anjali, dua sahabat sejak kecil yang memasuki tahun pertama UCLA. Pengalaman pahit muncul setelah pertunjukan tari terakhir di sekolah menengah menjadi viral. Mereka awalnya enggan bergabung dengan Agni, tim tari Bollywood-fusion kampus, sampai sebuah penampilan mengubah pikiran mereka. Anjali tertarik pada Ronak, kapten tim, sedangkan Maya melihat kesempatan menyalurkan kemampuan koreografinya. Keduanya lolos audisi.

Masalah muncul ketika posisi penari utama perempuan untuk kompetisi nasional berubah dari Maya menjadi Anjali. Maya menyaksikan perubahan itu, tapi memilih diam. Ambisi, rasa tersisih, hubungan romantis, dan komunikasi buruk lalu menggerogoti persahabatan mereka.

Best of the Best Lebih Menarik untuk Dikritik!

Film ini membawa dua perempuan sebagai pusat cerita, menarik memang. Sayangnya, ukuran akuntabilitas bagi karakter laki-laki ringan banget. Ronak ikut memicu keretakan Maya dan Anjali, lalu penyelesaiannya mendapat ruang singkat hanya melalui pesan teks. Arjun salah memahami video Maya dan Ronak, pergi tanpa mendengarkan penjelasan, lalu Maya justru meminta maaf dan mengirim hadiah meski kesalahan berada di pihak Arjun. Pola semacam ini membuat konfliknya timpang banget. 

Film seolah-olah memperlihatkan rumitnya hubungan perempuan, sekaligus membiarkan karakter laki-laki melewati konflik dengan konsekuensi yang ringan banget. Akhirnya, beban memperbaiki hubungan lebih sering jatuh pada perempuan.

Masalah kedua muncul dari elemen yang seharusnya jadi daya tariknya, yakni tarian. Best of the Best dibangun di atas Bollywood-fusion dance, bahkan menghadirkan lagu baru A.R. Rahman berjudul “Aamaasee”. Para pemain menjalani latihan intensif. Sayangnya, editing sering bergerak cepat antara wide shot dan close-up. Energi memang terasa, tapi bentuk koreografi, ritme, formasi, dan hubungan antar penari kerap kehilangan kesempatan terlihat bersinar. 

Lebih-lebih, film tari ini kayak kurang percaya pada tariannya sendiri. Kamera terus bergerak ketika seharusnya membiarkan penonton menikmati gerakan. Lagu “Aamaasee” pun mengalami gangguan dalam pertunjukan klimaks sehingga alirannya terasa tersendat. Padahal, koreografi dan musik seharusnya memperoleh ruang untuk bernapas.

Persoalan berikutnya menyentuh budaya. Best of the Best membawa komunitas Asia Selatan ke ruang komedi kampus Amerika melalui musik, tari, bahasa, dan kehidupan sosial. Namun, kekhasan budaya tersebut kadang lebih seperti estetika daripada fondasi karakter. Film memperlihatkan energi komunitas, tapi pengalaman budaya Maya dan Anjali seharusnya bisa terasa lebih personal.

Bisa dibilang, Best of the Best punya bahan menarik: dua perempuan muda, persahabatan, ambisi, kompetisi, budaya diaspora, serta dunia tari. Maitreyi Ramakrishnan dan Priyanka Kedia juga menyuguhkan daya tarik besar. Sayangnya, film sering berhenti tepat ketika gagasannya mulai menarik ditonton. 

Best of the Best memang bukan film yang kekurangan warna. Warnanya begitu banyak sampai beberapa gagasan penting belum ngena di hati. Sayang banget, deh. Gimana menurut Sobat Yoursay?