Hayuning Ratri Hapsari | Natasya Regina
Sacrifice (dok. Netflix)
Natasya Regina

Netflix akan menghadirkan Sacrifice, film terbaru garapan sutradara Romain Gavras yang memadukan mitologi, satire tentang kaum elite, komedi gelap, hingga kisah penyelamatan dunia dalam sebuah thriller yang tidak biasa. Film ini dibintangi Chris Evans, Anya Taylor-Joy, Vincent Cassel, dan Salma Hayek-Pinault, dengan cerita yang membawa para karakter dari sebuah gala amal mewah menuju situasi penuh ancaman.

Gavras dikenal memiliki ketertarikan panjang terhadap kisah-kisah mitologi. Minat tersebut sudah tumbuh sejak masa kecil karena pengaruh ayahnya, sutradara film Yunani terkenal Costa-Gavras. Sang ayah kerap menceritakan kisah epik mengenai para dewa dan manusia, mulai dari Gunung Olympus hingga dunia bawah.

Bagi Gavras, mitologi memiliki cara tersendiri dalam memperbesar berbagai unsur cerita. Ia kemudian membawa pendekatan tersebut ke dalam Sacrifice dengan mempertemukan dunia kaum kaya dan terkenal dengan keyakinan ekstrem yang berkaitan dengan pengorbanan manusia.

Sinopsis Sacrifice 

Cerita Sacrifice berpusat pada Mike Tyler yang diperankan Chris Evans. Ia merupakan seorang bintang film laga yang sedang mengalami masa sulit dalam karier dan berusaha mendapatkan kesempatan untuk kembali menjadi sorotan.

Peluang tersebut datang melalui sebuah acara amal bertema lingkungan yang dihadiri berbagai selebritas dan orang-orang berpengaruh. Acara tersebut berlangsung di sebuah lokasi pertambangan Yunani yang memiliki suasana jauh dari kesan pesta glamor pada umumnya.

Gala tersebut diselenggarakan oleh miliarder Ben Bracken yang diperankan Vincent Cassel bersama istrinya, Gloria Bracken yang dimainkan Salma Hayek-Pinault. Dari luar, acara itu terlihat seperti pertemuan kalangan elite yang ingin menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Namun, Gavras sengaja memperlihatkan sisi lain dari acara semacam itu.

Para orang kaya dan berpengaruh datang, memberikan pernyataan mengenai sebuah isu, berfoto untuk menunjukkan dukungan, lalu melanjutkan kehidupan mereka seperti biasa.

Situasi berubah ketika Joan, pemimpin sebuah kelompok kultus yang diperankan Anya Taylor-Joy, bersama para pengikutnya mengambil alih acara tersebut. Mereka membawa keyakinan ekstrem bahwa sebuah bencana yang dapat menyebabkan kepunahan akan terjadi dalam tiga hari.

Untuk mencegahnya, mereka percaya bahwa tiga orang harus dikorbankan ke sebuah gunung berapi yang berada tidak jauh dari lokasi acara.

Chris Evans Terjebak di Antara Ego dan Keyakinan

Kehadiran kelompok Joan membuat Mike Tyler terseret ke dalam situasi yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Sebagai aktor yang sedang berusaha mengembalikan kariernya, Mike terbiasa hidup dalam dunia yang penuh pencitraan, popularitas, dan perhatian publik.

Namun, ancaman nyata yang muncul dalam acara tersebut memaksanya menghadapi pertanyaan yang jauh lebih dalam mengenai kehidupan dan ego.

Gavras menggambarkan Sacrifice sebagai film yang memiliki ritme seperti wahana permainan. Penonton tidak hanya diajak mengikuti satu jalur cerita, tetapi juga dipersiapkan untuk menghadapi perubahan arah secara tiba-tiba.

“Film ini seperti roller coaster,” kata Gavras, yang menulis skenario bersama Will Arbery, penulis Succession, dikutip dari Tudum pada Kamis (24/09/2026).

“Anda harus memasuki film ini seperti ketika Anda akan menaiki sebuah wahana dan membiarkan diri Anda terbawa. Ada banyak kejutan yang membalikkan keadaan dan Anda berpikir akan menuju ke satu arah, tetapi ternyata Anda dibawa ke arah lain.”

Pendekatan tersebut membuat film ini tidak hanya bergantung pada ancaman fisik. Perubahan situasi dan sudut pandang karakter menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dibangun Gavras.

Ketika Amal, Kekayaan, dan Pengorbanan Bertabrakan

Di balik premis penculikan dan ancaman bencana, Sacrifice membawa kritik terhadap cara sebagian kelompok elite memandang kegiatan amal. Film ini mempertanyakan apakah kepedulian terhadap sebuah isu benar-benar berasal dari keyakinan atau sekadar menjadi bagian dari citra sosial.

Anya Taylor-Joy melihat karakter Joan sebagai sosok yang berhadapan langsung dengan sikap apatis tersebut. Menurutnya, film ini berbicara mengenai perbedaan antara usaha individu dan kekuatan kelompok, sekaligus bagaimana masyarakat dapat menjadi terlalu terbiasa dengan berbagai hal yang sebenarnya penting.

“Film ini sangat meta untuk menjadi bagian di dalamnya,” ujar Taylor-Joy. “Saya melihat banyak hal mengenai usaha individu dibandingkan dengan usaha kolektif. Saya melihat banyak hal mengenai betapa kebalnya orang-orang terhadap berbagai hal, serta bagaimana hal-hal yang sebenarnya penting justru dianggap tidak berarti dibandingkan cara pandang yang lebih mudah dan menghibur. Ini adalah gagasan bahwa Anda bisa menyembunyikan semuanya di bawah karpet, dan saya pikir Joan serta kelompoknya hadir seperti siraman air dingin yang menyadarkan.”

Chris Evans juga melihat kontras yang kuat antara kedua kelompok dalam cerita. Di satu sisi terdapat kalangan Hollywood yang memiliki kekayaan dan popularitas, tetapi mengadakan acara amal dengan kepedulian yang dipertanyakan. Di sisi lain, kelompok Joan benar-benar percaya terhadap tujuan mereka sampai bersedia mempertaruhkan nyawa.

“Anda memiliki orang-orang Hollywood yang glamor dan dangkal yang bergerak dengan platform yang cukup munafik melalui kegiatan amal untuk alam, tetapi sebenarnya tidak ada dari mereka yang benar-benar peduli,” jelas Evans. “Kemudian Anda memiliki kelompok lain yang benar-benar peduli, yang bersedia mati demi tujuan mereka dan tidak menginginkan ego atau pujian.”

Menurut Evans, perjalanan cerita kemudian berkembang dari konflik antara orang kaya dan kelompok radikal menjadi persoalan mengenai ego manusia.

“Awalnya film ini hampir terlihat seperti cerita ‘makan orang kaya’, tetapi menurut saya film ini berkembang menjadi kematian ego, kematian dari keinginan dan hasrat yang berasal dari tempat yang dangkal,” tambah Evans.

Deretan Pemeran dengan Karakter yang Beragam

Sactrifice menghadirkan jajaran pemain yang cukup beragam. Chris Evans memerankan Mike Tyler, sementara Anya Taylor-Joy tampil sebagai Joan. Vincent Cassel menjadi Ben Bracken dan Salma Hayek-Pinault berperan sebagai Gloria Bracken.

Ambika Mod memerankan Daughter Nature, Jonatan “Yung Lean” Leandoer sebagai Arthur, Sam Richardson sebagai Oliver, Jade Croot sebagai Louise, dan Miriam Silverman sebagai Anna. Charli XCX tampil sebagai Mother Nature, sedangkan John Malkovich memerankan Gunnar.

Bagi Gavras, proses memilih pemain bukan hanya soal kemampuan akting. Ia mencari aktor yang mampu mengikuti berbagai lapisan cerita karena Sacrifice bergerak antara satire, mitologi, komedi, drama, dan thriller.

Gavras melihat Chris Evans sebagai aktor yang mampu memberikan pendekatan berbeda terhadap Mike. Ia menilai kemampuan komedi Evans menjadi salah satu kekuatan yang dapat membuat karakter tersebut semakin menarik.

“Chris sangat menarik,” ujar Gavras. “Kemampuan timing komedinya luar biasa. Dia adalah aktor yang sangat cerdas dan benar-benar memahami siapa dirinya serta hubungannya sendiri dengan ego. Jadi kami mengambil bagian tersebut dan meningkatkan gagasan tentang seorang aktor hingga 100 persen. Inilah yang dilakukan mitologi, Anda mengambil seorang karakter lalu meningkatkannya hingga 11.”

Anya Taylor-Joy Dinilai Cocok sebagai Joan

Untuk karakter Joan, Gavras melihat Anya Taylor-Joy sebagai sosok yang memiliki kualitas visual dan energi yang sesuai dengan dunia Sacrifice. Ia telah mengagumi Taylor-Joy sejak penampilan sang aktris dalam The Witch.

“Saya sudah menjadi penggemar Anya sejak sangat awal, sejak The Witch,” kata Gavras. “Dia memiliki sesuatu yang sangat tidak biasa dan penuh imajinasi yang mencolok dari sisi ikonik. Saya tidak melihat banyak orang lain yang bisa membawa karakter tersebut. Dia memiliki kekuatan yang begitu besar, tetapi juga kepekaan yang membuat karakternya menjadi sangat berdimensi dan menjadikannya kuat sekaligus rentan.”

Sementara itu, Vincent Cassel bukanlah nama baru bagi Gavras. Sacrifice menjadi kolaborasi ketiga mereka. Cassel sebelumnya juga menjadi produser film pertama Gavras, Notre Jour Viendra atau Our Day Will Come.

Menariknya, Cassel memiliki cara pandang tersendiri terhadap karakter Ben Bracken. Ia tidak langsung melihat tokoh tersebut sebagai sosok antagonis.

“Ketika saya membuatnya membaca skenario, dia berkata, ‘Saya menyukai karakternya. Saya tidak tahu mengapa kamu menganggapnya sebagai orang jahat. Dia sebenarnya mengatakan apa adanya dan memahami dunia, dia mencintai istrinya.’ Jadi, dia benar-benar mengambil karakter tersebut dengan pendekatan yang berbeda dan saya sangat menyukainya,” ungkap Gavras.

Yung Lean dan Charli XCX Ikut Memperkuat Nuansa Film

Sactrifice juga membawa unsur dunia musik melalui kehadiran Yung Lean dan Charli XCX. Gavras sendiri memiliki latar belakang sebagai sutradara video musik dan pernah menggarap karya untuk sejumlah musisi ternama seperti Jay-Z dan Kanye West.

Hubungan Gavras dengan Yung Lean bahkan sudah berlangsung sejak sang musisi masih berusia 16 tahun. Ia menjadi salah satu pemain pertama yang bergabung dalam proyek ini.

“Charli dan Yung Lean, kami sudah berteman sejak lama sekali. Saya mengenal Yung Lean sejak dia berusia 16 tahun, dan dia adalah orang pertama yang dipilih untuk film ini. Ketika saya sedang menulis, saya meneleponnya. Saya berkata, ‘Saya tahu kamu bukan aktor, tetapi saya memiliki peran yang ingin saya berikan kepadamu dalam film saya berikutnya.’ Charli memiliki cameo kecil di dalamnya, tetapi masuk akal sebagai bagian dari kelompok teman yang membuat film-film gila dan membangun karya mereka untuk memasukkannya juga.”

Kehadiran kedua musisi tersebut menambah karakter unik dalam film yang sejak awal memang tidak dibangun sebagai thriller konvensional.

Terinspirasi Mitologi Yunani hingga Lord of the Rings

Sactrifice tidak diadaptasi langsung dari satu karya tertentu. Gavras dan Will Arbery mengambil inspirasi dari berbagai kisah mitologi yang sudah dikenal Gavras sejak kecil, kemudian menggabungkannya dengan sejumlah referensi lain.

Salah satu sumber inspirasinya berasal dari mitologi Yunani dan kisah-kisah Prancis seperti Joan of Arc. Namun, Gavras juga menyelipkan referensi budaya populer yang lebih modern.

“Inspirasinya berasal dari mitologi Yunani hingga cerita-cerita Prancis seperti Joan of Arc,” ujar Gavras. Ia kemudian menambahkan dengan nada bercanda, “Dan ada satu mitos lain yang lebih baru, yaitu Lord of the Rings. Will dan saya sedang menulis, lalu pada suatu titik kami berkata, ‘Oh, kita sedang membuat Lord of the Rings.’ Ini adalah perjalanan orang-orang yang ingin melempar cincin kekuasaan ke dalam gunung berapi, dan kami sedang melakukan perjalanan yang sama.”

Perpaduan berbagai sumber tersebut menjadi fondasi bagi Sacrifice untuk membangun cerita tentang kekuasaan, keyakinan, ego, pengorbanan, dan cara manusia mencari makna di tengah dunia yang penuh kepalsuan.

Jadwal Tayang Sacrifice di Netflix

Dengan Romain Gavras sebagai sutradara, Chris Evans sebagai pemeran utama, serta Anya Taylor-Joy, Vincent Cassel, Salma Hayek-Pinault, John Malkovich, Charli XCX, dan Yung Lean dalam jajaran pemerannya, Sacrifice menawarkan konsep yang memadukan thriller, satire sosial, mitologi, dan drama psikologis.

Film ini akan membawa penonton dari sebuah gala amal mewah menuju situasi penyanderaan yang berkaitan dengan ramalan bencana besar. Di tengah kekacauan tersebut, karakter-karakternya dipaksa mempertanyakan batas antara pertunjukan dan keyakinan, kepedulian dan pencitraan, serta ego dan pengorbanan.

Sacrifice dijadwalkan streaming di Netflix pada 16 Oktober 2026. Dengan konsep yang tidak biasa dan jajaran pemain yang terdiri dari aktor Hollywood hingga musisi populer, film ini menjadi salah satu rilisan Netflix yang menarik perhatian pada Oktober mendatang.