Ketika cuaca makin panas dan keringat tak berhenti menetes, ternyata bukan cuma manusia yang merasa tidak nyaman, nyamuk pun ikut berpesta.
Prof. Hartono Gunadi, Sp.A(K), Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengingatkan bahwa kenaikan suhu global bisa memperburuk penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.
“Kalau suhu udara meningkat, banyak [penyakit] yang bisa meningkat, antara lain penyakit yang ditularkan oleh vektor nyamuk,” ujarnya.
Prof. Hartono juga mengatakan bahwa setiap kenaikan suhu sebesar 1°C dapat meningkatkan risiko penularan demam berdarah hingga 13%. Artinya, makin panas bumi ini, semakin cepat pula nyamuk menyebarkan penyakit.
Nyamuk Senang, Manusia yang Kewalahan
Di udara yang hangat, nyamuk berkembang biak lebih cepat, dan virus di dalam tubuh mereka juga matang dalam waktu yang lebih singkat. Itulah mengapa kasus demam berdarah, malaria, hingga zika bisa meningkat saat cuaca menjadi lebih ekstrem.
Meskipun virus Zika belum menjadi masalah besar di Indonesia, Prof. Hartono mengingatkan bahwa potensi ancamannya tetap ada.
“Virus Zika masih belum bermasalah di Indonesia, masih jarang. Tapi malaria bisa meningkat,” tambahnya. Indonesia, dengan iklimnya yang lembap dan tropis, memang menjadi "surga" bagi nyamuk untuk berkembang biak tanpa henti.
Krisis Iklim dan Anak-anak yang Menjadi Korban
Lonjakan kasus demam berdarah yang terjadi di kawasan Pasifik menjadi peringatan nyata akan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan anak-anak. Dalam laporan The Guardian pada 12 Agustus 2025, negara-negara seperti Samoa, Fiji, dan Tonga mencatat lebih dari 16 ribu kasus demam berdarah dan 17 kematian hanya sejak awal tahun.
Para ahli menyebut bahwa peningkatan suhu, curah hujan yang tinggi, serta kelembapan yang ekstrem membuat musim penularan kini menjadi lebih panjang, bahkan di beberapa daerah bisa berlangsung sepanjang tahun. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang sempurna bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak lebih cepat dan menyebarkan virus dengue tanpa henti.
Krisis iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, tapi sudah menjadi ancaman langsung bagi kesehatan generasi muda. Di wilayah tropis yang padat penduduk, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena mereka lebih sering beraktivitas di luar rumah dan sulit untuk terhindar dari gigitan nyamuk.
Kondisi tersebut menggambarkan masa depan yang bisa terjadi di mana saja, termasuk di Indonesia. Cuaca makin panas, musim makin tidak menentu, dan nyamuk makin aktif.
Jadi, ketika suhu terus naik dan malam hari terasa lebih gerah dari biasanya, waspadalah. Mungkin ada penyakit lain yang ikut terbawa oleh para "tamu" tak diundang itu.
(Flovian Aiko)
Tag
Baca Juga
-
Babi Tua dan Rahasia Lumbung
-
Dari Kaset ke SD Card: Bagaimana Teknologi Mengubah Cara Kita Mengabadikan Momen
-
Seni Memahami Luka Tersembunyi di Novel Joyvika karya Oktyas
-
Harry Styles Rilis Album Kiss All the Time. Disco, Occasionally 6 Maret
-
Filosofi Warung Madura dan Seni Ngecer untuk Bertahan Hidup
Artikel Terkait
-
Target Emisi Indonesia Mundur Tujuh Tahun, Pemerintah Didesak Dengarkan Suara Rakyat
-
84 Persen Terumbu Karang Dunia Sudah Memutih, Ilmuwan: Waktu Kita Hampir Habis
-
Dibalik Kampanye Hijau, Industri Fosil Tetap Jadi Sumber Masalah Iklim
-
Birokrasi Jadi Penghambat Ambisi Ekonomi Hijau Indonesia? MPR Usul Langkah Berani
-
Singgung Situasi Global, SBY: Uang Lebih Banyak Digunakan untuk Kekuatan Militer, Bukan Lingkungan
Health
-
Waspada Gagal Ginjal Akut Akibat Luka Bakar: Kenali Gejala dan Penyebabnya
-
Rahasia Otak Tajam: 6 Makanan Penambah Daya Ingat Berdasarkan Jurnal Medis
-
Bukan Sekadar Pahit, Ini Kandungan Nutrisi Pare yang Ampuh Tangkal Radikal Bebas
-
Matcha Kemasan Infus Viral, Menarik tapi Picu Dilema Etik Keamanan Pangan
-
Waspada Super Flu Subclade K: Gejala, Penyebaran, dan Cara Mencegahnya
Terkini
-
Babi Tua dan Rahasia Lumbung
-
Dari Kaset ke SD Card: Bagaimana Teknologi Mengubah Cara Kita Mengabadikan Momen
-
Seni Memahami Luka Tersembunyi di Novel Joyvika karya Oktyas
-
Harry Styles Rilis Album Kiss All the Time. Disco, Occasionally 6 Maret
-
Filosofi Warung Madura dan Seni Ngecer untuk Bertahan Hidup