Melansir laporan dari Financial Planning Association mengenai manajemen keuangan keluarga, salah satu tantangan rumah tangga terbesar di masa perayaan seperti Ramadan adalah pengeluaran impulsif yang dipicu oleh tekanan sosial. Salah satu pemicu utamanya? Ya, apalagi kalau bukan budaya arisan yang mendadak jadi "padat jadwal" menjelang Idulfitri.
Hayo, siapa di sini yang notifikasi WhatsApp-nya sudah mulai penuh dengan tagihan iuran arisan? Sebagai sesama Ibu pekerja, saya paham betul rasanya. Di satu sisi, kita butuh uang arisan itu cair untuk "mengamankan" stok daging dan kue kering. Tapi di sisi lain, kalau iurannya terlalu banyak, gaji dan THR bisa habis hanya untuk setor sana-sini. Jadi, sebenarnya arisan Ramadan itu menyelamatkan atau malah membebani, sih?
Arisan: Menabung Paksa yang Menyelamatkan
Jujur saja, kita para Ibu sering kali sulit menabung secara sukarela jika melihat diskon flash sale baju anak atau mukena baru. Nah, arisan ini adalah "polisi keuangan" yang paling ampuh. Dengan ikut arisan, kami dipaksa disiplin menyisihkan uang. Versi bijak saya, saya selalu mengincar arisan yang cairnya di minggu ketiga atau keempat Ramadan.
Kenapa? Karena di saat itulah harga-harga sembako sedang di puncak "kegilaan". Mendapat uang arisan di saat kritis seperti rasanya seperti menemukan oase di tengah padang pasir, bukan? Kita tidak perlu mengambil dana darurat atau tabungan pendidikan anak hanya untuk membeli rendang.
Waspada Jebakan "Bukber Arisan"
Tapi tunggu dulu ya Moms. Ada satu hal yang sering bikin kita kecolongan: agenda kocokan yang dibalut buka puasa bersama (bukber). Sering kali, lokasi bukber dipilih di resto atau hotel yang harganya bisa buat belanja sayur seminggu. Di bawah prinsip "Bijak Berkonsumsi" kami telah diuji. Kalau iuran arisannya hanya Rp100.000 tapi biaya bukber dan dresscode -nya sampai Rp300.000, bukankah itu namanya tekor?
Siasat saya simpel: Saya hanya ikut arisan yang teman-temannya "sefrekuensi" dan bukan hobi pamer. Kalau lingkungannya terlalu menuntut gaya hidup mewah, saya lebih memilih mundur sejak awal tahun. Ingat, Ramadan adalah bulan untuk menahan diri, bukan bulan untuk "balapan" gaya di depan teman arisan. Setuju kan?
Strategi “Double Track” ala Ibu Cerdas
Agar arisan tidak jadi beban, saya menerapkan sistem Double Track. Pertama, saya ikut Arisan Paket Barang (sembako/daging) di lingkungan rumah. Ini sangat fungsional karena saat Lebaran, kami tidak pusing lagi memikirkan harga minyak goreng yang naik. Kedua, Arisan Uang di kantor yang nominalnya kecil saja, maksimal 5% dari gaji. Tujuannya bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk dana tambahan mudik atau amplop Lebaran buat keponakan. Dengan pembagian seperti ini, konsumsi kita jadi lebih terukur dan tidak ada istilah "uang THR numpang lewat".
Menariknya, momen terima uang arisan ini juga saya jadikan ajang edukasi untuk anak-anak di rumah. Saya perlihatkan pada mereka: "Lihat, Nak, ini hasil Bunda menabung sedikit demi sedikit tiap bulan." Ini cara saya mengajarkan konsep penundaan kepuasan —bahwa untuk bisa belanja enak di hari Lebaran, ada proses menahan diri selama berbulan-bulan sebelumnya. Jadi, konsumsi kita bukan sekedar soal membeli barang, tapi soal mengajarkan nilai kehidupan pada generasi selanjutnya.
Jadi Moms, arisan itu akan jadi penyelamat kalau kita tahu batas kemampuan. Jangan sampai karena ingin dianggap "eksis" di grup arisan kantor, kita malah pusing memutar otak mencari pinjaman saat hari raya tiba. Bijak berkonsumsi versiku adalah berani jujur pada dompet sendiri. Kalau memang tahun ini terasa berat, tidak perlu memaksakan semua lingkaran arisan. Tuhan tidak menilai kita dari seberapa banyak iuran yang kita setor, tapi dari seberapa tulus kita mengelola rezeki untuk keluarga.
Bagaimana dengan pengalaman Moms tahun ini? Apakah uang arisannya sudah cair dan siap dibelanjakan dengan bijak, atau malah masih menunggak karena hobi jajan takjil yang berlebihan? Yuk, bagi cerita seru atau tips hemat versi Moms di kolom komentar!
Baca Juga
-
Surat Terbuka untuk HRD: Berhentilah Bertanya "Ngapain Aja Setahun Ini" kepada Ibu Baru
-
Ibu Rumah Tangga: Karyawan Tanpa Gaji, Tanpa Cuti, Tanpa Bonus
-
Katanya Sudah Merdeka, Tapi Kenapa Ibu Rumah Tangga Sulit Berinvestasi?
-
Gaji Istri Lebih Besar, Apakah Adil Kendali Finansial Tetap di Suami?
-
Body Shaming Pasca Melahirkan yang Menyamar Jadi Nasihat Sehat
Artikel Terkait
-
Beda Nuzulul Quran Dengan Lailatul Qadar, Ini Amalan yang Bisa Dilakukan
-
Analis Boni Hargens: Sinergi Polri dan Lembaga Negara Sukses Jaga Kondusivitas Ramadan
-
Puasa buat Perubahan Fisiologis, Begini Tips Jaga Kesehatan Kulit dari Skincare dan Asupan Nutrisi
-
4 Tips Jalani Ramadan versi Slow Living: Kurangi Drama, Perbanyak Makna
-
Gaji Rp2 Juta Zakat Berapa? Ini Hitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah
Lifestyle
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Kulit Remaja Bebas Jerawat Tanpa Kuras Dompet! 4 Acne Serum Rp30 Ribuan
-
Auto Glowing! 5 Rekomendasi Brightening Ampoule Pembasmi Noda Jerawat
-
5 Sunscreen Korea untuk Kulit Sensitif: Aman, Tanpa Alkohol dan Parfum
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening
Terkini
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia