Hayuning Ratri Hapsari | Leonardus Aji Wibowo
Ilustrasi jerawat (Pixabay.com/Kjerstin_Michaela)
Leonardus Aji Wibowo

Kulit tiba-tiba gampang merah, jerawat makin meradang, padahal sudah merasa rajin pakai skincare dan menjaga kebersihan wajah setiap hari? Kondisi tersebut ternyata tidak selalu dipicu oleh produk perawatan, melainkan bisa berkaitan dengan paparan polusi serta pola hidup yang kurang terkontrol.

Kulit pada dasarnya merupakan organ terluar yang setiap hari bersentuhan langsung dengan lingkungan. Artinya, paparan asap kendaraan, debu jalanan, hingga partikel radikal bebas dari udara berpotensi menempel dan memengaruhi kondisi kulit tanpa disadari.

Dokter spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika, Sri Awalia Febriana, Sp.DVE, juga menyinggung hal tersebut dalam tayangan di kanal YouTube FK-KMK UGM bersama dr. Tirta. Menurutnya, paparan polusi yang berlangsung terus-menerus tanpa perlindungan dapat memicu inflamasi dan memperburuk kondisi jerawat.

“Yang ketemu sama polutan itu malah paling banyak kan kulit,” ungkapnya dalam tayangan tersebut. Zat toksik dari udara, lanjutnya, dapat menyebabkan iritasi dan reaksi alergi, terutama pada individu dengan kulit sensitif atau skin barrier yang sedang terganggu.

Secara umum, peradangan pada kulit memang bisa dipengaruhi banyak faktor, termasuk respons imun tubuh terhadap paparan luar. Karena itu, kemerahan dan jerawat tidak selalu berkaitan dengan satu jenis makanan atau produk tertentu saja.

Dalam diskusi tersebut juga disampaikan bahwa masyarakat kerap salah fokus ketika gangguan kulit muncul. Alergen dari udara dan lingkungan sekitar justru menjadi salah satu pemicu yang lebih sering ditemui dibandingkan faktor makanan semata.

Di luar paparan lingkungan, pola hidup turut berperan besar dalam menjaga stabilitas kulit. Kurang tidur, stres berkepanjangan, serta konsumsi makanan tinggi gula dan lemak dapat meningkatkan proses inflamasi yang berdampak pada munculnya jerawat maupun kemerahan.

Pola makan ala western diet yang didominasi makanan olahan dan gorengan juga disebut berpotensi memperparah kondisi tersebut. Sebaliknya, konsumsi sayur dan buah segar yang kaya antioksidan dinilai lebih membantu menjaga keseimbangan kulit dari dalam tubuh.

Kebiasaan mencuci wajah pun sering dilakukan secara berlebihan karena panik melihat kondisi kulit memburuk. Padahal, membersihkan wajah cukup dua kali sehari atau setelah benar-benar kotor sudah memadai untuk menjaga kebersihan tanpa merusak skin barrier.

Fenomena self-diagnose di media sosial juga perlu disikapi dengan bijak. Tidak semua kemerahan menandakan penyakit serius seperti autoimun, sehingga pemeriksaan langsung oleh tenaga medis tetap diperlukan sebelum mengambil kesimpulan.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan kulit bukan sekadar soal memilih produk yang sedang tren atau viral. Paparan polusi, kualitas tidur, pola makan, hingga manajemen stres menjadi faktor yang saling berkaitan dan perlu diperhatikan secara menyeluruh agar kondisi kulit tetap stabil.