Tren bed rotting belakangan ramai di kalangan Gen Z yang menganggap rebahan seharian sebagai bentuk self-care. Fenomena ini memancing perdebatan karena dinilai bisa berdampak pada kesehatan mental jika dilakukan berlebihan.
Fenomena bed rotting sendiri merujuk pada kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur tanpa melakukan aktivitas produktif yang dilakukan sehari-hari. Biasanya orang hanya menonton video, menggulir media sosial, atau diam begitu saja untuk “mematikan” rutinitas.
Bagi sebagian Gen Z, bed rotting dianggap sebagai solusi untuk memulihkan energi setelah menghadapi tekanan pekerjaan dan akademik. Mereka menilai rebahan lama membantu menenangkan pikiran dari overstimulasi dan informasi yang datang terus-menerus.
Jadi sebenarnya aman atau justru berisiko?
Mengutip dari Health.com, tidur terlalu lama memang bisa memberi manfaat jangka pendek bagi sebagian orang. Namun hal itu mulai mengkhawatirkan jika berlangsung lebih dari satu atau dua hari, ujar Ryan Sultan, MD, asisten profesor psikiatri klinis di Columbia University Irving Medical Center/New York State Psychiatric Institute, kepada Health.
Ia menjelaskan bahwa kebiasaan tidur terlalu lama dapat menjadi tanda depresi atau masalah kesehatan mental lainnya. Sultan menegaskan pentingnya memperhatikan perubahan pola tidur sebagai bagian dari menjaga kondisi mental.
Di sisi lain, Nicole Hollingshead, PhD, psikolog sekaligus asisten profesor klinis di Ohio State University Wexner Medical Center, mengatakan kepada Health, bahwa apa yang dilakukan seseorang di tempat tidur juga berpengaruh pada kesejahteraan. Kebiasaan ini bisa menjadi masalah jika sebagian besar waktu dihabiskan dengan menatap gawai.
Ia menambahkan bahwa semakin banyak riset yang menunjukkan dampak negatif penggunaan media sosial dan ponsel terhadap kesehatan mental. Hollingshead menyebut hal ini sangat memengaruhi kondisi mental, terutama pada kalangan dewasa muda.
Lantas, bagaimana agar bed rotting tetap aman?
Masih dari Health.com, bed rotting masih bisa dilakukan dengan cara yang lebih sehat dan terkontrol. Para ahli menyarankan agar waktu istirahat di tempat tidur diisi dengan aktivitas yang membuat perasaan lebih baik, seperti membaca, meditasi, menulis, dan lainnya.
Selain itu, penting untuk menetapkan batas waktu agar tidak berlama-lama di tempat tidur. Dalam laporan yang sama, sang ahli menyarankan penggunaan pengingat atau timer di ponsel untuk membantu mengatur durasi. Kebiasaan ini juga sebaiknya tidak dilakukan setiap hari agar tidak berubah menjadi pola yang tidak sehat.
Ahli lainnya juga menambahkan bahwa meski bed rotting dapat memberi kelegaan sementara, kebiasaan ini tidak boleh dijadikan cara utama untuk menghadapi rasa lelah, keletihan, atau gejala depresi.
Hingga pada akhirnya, bed rotting bisa menjadi bentuk istirahat yang membantu selama dilakukan dengan sadar dan tidak berlebihan. Namun jika mulai menjadi pelarian utama atau dilakukan terlalu sering, penting untuk kembali menyeimbangkannya dengan aktivitas yang lebih produktif dan sehat.
Baca Juga
-
Tanam Mangrove dan Berkarya, Kolaborasi Seniman dan Penulis di Pantai Baros
-
4 Rekomendasi Social Space di Jogja untuk Nongkrong dan Diskusi Santai
-
Lagu Digunakan Tanpa Izin, Band Wijaya 80 Laporkan Pelanggaran Hak Cipta
-
Menunggu Hari Perempuan Bisa Benar-Benar Aman dan Nyaman di Konser Musik
-
Diduga Selingkuh Lagi, Jennifer Coppen Singgung Sosok Jule di Live
Artikel Terkait
-
3 Film Kriminal di Netlix Cocok untuk Gen Z yang Suka Menyelidiki Seperti Detektif
-
Mengapa Sikap Marissa Anita Tunda Momongan Sejalan dengan Karakter Gen Z?
-
Kenapa Standar Hubungan Gen Z Jadi Abu-abu? Membedah Tren 'Bare Minimum' dan 'Princess Treatment'
-
KB Bank Bangkitkan Semangat Wirausaha Muda, Gen Z Ramaikan GenKBiz dan Star Festival Batam 2025
-
Literasi Keuangan untuk Gen Z di Kampus: Bekal Wajib di Tengah Maraknya Layanan Finansial Digital
Health
-
Ngopi saat Sahur, Efektifkah untuk Menjaga Energi Selama Puasa?
-
Hindari Mi Instan, Pilih Telur Dadar Sayur Agar Puasa Tetap Berenergi
-
Bahaya di Balik Keharuman: Mengapa Vape Tetap Menjadi Racun bagi Tubuh?
-
Olahraga Saat Puasa: Mitos, Fakta, dan Panduan dari dr. Tirta
-
Melindungi Anak, Melindungi Masa Depan: Mengapa Imunisasi Tak Bisa Ditawar?
Terkini
-
Stoikisme di Bulan Puasa: Mengatur Hasrat, Menjaga Akal Sehat
-
Gula: Dari Simbol Kebahagiaan Menuju Penanda Kelas Sosial di Era Modern
-
Kawan Lama Ayahmu: Wajah Suram Australia di Era Kolonial
-
Mengelola Euforia Ramadan: Antara Tradisi Bising Petasan dan Keselamatan Anak
-
4 Serum Korea Diperkaya Galactomyces Atasi Kulit Bertekstur dan Kusam