Sudah lebih dari satu bulan bencana tak terduga melanda kawasan Sumatra. Sebagian Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat menjadi jejak musibah yang hingga kini masih menyisakan PR bagi semua kalangan.
Lebih dari 1000 warga menjadi Syuhada bencana hidrometeorologi yang meluluhlantakkan kawasan pemukiman. Pelbagai fasilitas umum rusak, jalan dan jembatan terputus. Akses menuju kawasan terdampak bencana pun begitu sulit dijangkau.
Tidak saling menyalahkan, tetap kuat menghadapi cobaan adalah langkah awal untuk pulih. Semangat kemandirian masyarakat terdampak bencana tak perlu diragukan lagi. Pelbagai kalangan baik pemerintah, swasta dari beragam suku bangsa ikut berduka dan tidak tinggal diam. Penyaluran bantuan yang menjadi pemenuhan darurat sigap dilangsungkan. Aneka kebutuhan pokok, makanan siap santap, pakaian layak pakai, kebutuhan bayi, balita hingga manula dimaksimalkan adanya.
Mengikuti perkembangan pemulihan pasca bencana melalui layar sosial media haruslah disertai sikap bijaksana. Tidak semua mampu melakukan banyak hal secara cepat dan sempurna dalam kondisi keterbatasan . Sarana dan prasarana infrastruktur pun sangat minimalis. Terlebih cuaca masih belum sepenuhnya bersahabat.
Koneksitas jalan dan revitalisasi jembatan menjadi sarana yang diharapkan dapat mempercepat pemulihan pasca bencana. Membuka akses mobitas tidak sekedar untuk penyaluran bantuan saja, melainkan menjadi tumpuan harapan masyarakat terdampak bencana.
Hal ini menjadi fokus sekaligus sinergi Ditjend Bina Marga Kementerian PUPR untuk tetap maksimal mengupayakan pemulihan akses masuk ke setiap wilayah yang terdampak bencana tanpa kecuali.
Salah satu yang menjadi fokus normalisasi akses untuk mendukung koneksitas antar daerah yang terputus oleh bencana antara lain jalur Padang- Bukittinggi, hingga ruas jalan nasional Takengon - Bireun disebutkan oleh beberapa media online sudah bisa berfungsi. Pemulihan atau normalisasi akses transportasi ini menjadi langkah penting pemulihan pasca bencana agar masyarakat lebih cepat terhubung dengan pusat fasilitas umum seperti misalnya sarana kesehatan.
Meski belum mencapai 100% perbaikan sarana dan prasana infrastruktur, namun pihak terkait dalam hal ini kolaborasi lintas sektor baik sumber daya air, Bina Marga hingga pemangku kepentingan baik nasional atau pun daerah tengah berupaya semaksimal mungkin untuk terus meningkatkan ketersediaan sarana akses koneksitas antar daerah di kawasan terdampak bencana.
Sarana Air Bersih, Oase Harapan Bagi Warga Terdampak Bencana
Beruntung, kini hingga normalisasi jalan hingga air bersih sebagai wujud dukungan sanitasi lingkungan terus ditingkatkan keberadaannya. Mobilisasi ratusan alat berat dimaksimalkan untuk membuka akses jalan agar bisa mendukung proses penyaluran bantuan.
Dan yang terpenting adalah penyediaan air bersih yang terdistribusi ke pelbagai lokasi pasca bencana sebagai oase yang mampu memberi kesejukan masyarakat terdampak. Normalisasi titik longsor dengan membersihkan material yang menumpuk dan menutup jalan terus dilakukan.
Koordinasi tim percepatan normalisasi pasca bencana dilakukan lintas stakeholder pemerintahan baik dari tim Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum bersama Pemerintah daerah di 3 wilayah hingga BNPB.
Semangat gotong royong haruslah dikedepankan. Semakin banyak pihak yang terlibat pemulihan pasca bencana maka harapan masyarakat untuk kembali pulih bisa maksimal dicapai. Meskipun untuk beberapa sektor, seperti misalnya akses jalan, Sanitasi hingga air bersih saat ini masih dilakukan oleh kalangan terbatas.
Bagi masyarakat terdampak, ketersediaan sarana air bersih menjadi harapan untuk pulih. Air bersih digunakan oleh masyarakat terdampak sebagai kebutuhan pokok untuk minum semata, melainkan untuk membersihkan lumpur dan memulihkan aset yang tersisa menjadi bersih adanya. Ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi, normalisasi akses jalan jembatan dan terpenuhinya kebutuhan air bersih menjadi percik semangat bagi warga terdampak bencana di sebagian wilayah Sumatra.
Lekas pulih Sumatra, optimis bahwa penanganan pasca bencana akan terus berlangsung hingga senyum masyarakat terdampak kembali mekar, seperti dalam penggalan lirik lagu Bungong Jeumpa.
Baca Juga
Artikel Terkait
News
-
Jurnalisme di Era Sosial Media Apakah Masih Relevan?
-
Mengumpulkan Kembali Puing-puing Sisa Kehancuran, Pasca Banjir Aceh
-
Banjir Bandang Sumatra: Dari Langkah Cepat Hingga Refleksi Jangka Panjang
-
Meski Bencana Banjir di Aceh dan Sumatra Sudah Surut, Tugas Kita Belum Usai
-
Bukti Tanggap Darurat: Jembatan Bailey Terpasang dalam Waktu 15 Hari
Terkini
-
3 Film Korea Tayang Januari 2026, Comeback Han So Hee hingga Choi Ji Woo
-
Tren Childfree dan Anti-Nikah: Apa yang Sebenarnya Dicari Gen Z?
-
Tablet Makin Gahar! Ini 6 Pilihan Terbaik untuk Multitasking 2026
-
Franchise Nanoha Rayakan 2 Dekade dengan Pengumuman Anime Baru, Tayang Juli
-
Grok Jadi Wajah Baru Kekerasan Digital, Alasan Manipulasi Foto AI Harus Dihentikan