Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Pecinan Kota Malang (Dok. Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Malang itu kaya akan sejarahnya. Namun sebagai warga Malang, saya sendiri baru mengetahui setelah mengobrak-abrik arsip lama. Orang Malang sendiri jarang sekali mau membahas tentang sejarah.

Bagi warga Malang, yang lalu ya sudah biarlah berlalu. Karena banyak sekali luka yang harus kembali terbuka ketika masa lalu harus dibahas di era ini. Jangankan membahas masa lalu yang kelam, menyalakan klakson di jalan macet saja rasanya seperti hal yang begitu tabu.

Pecinan Kota Malang karya Ratna Indraswari Ibrahim bukan novel yang meledak-ledak dengan konflik besar atau drama berlebihan. Namun justru dari kesederhanaannya, novel ini terasa begitu manusiawi dan menyakitkan. Dalam sekitar 150 halaman, Ratna berhasil membedah persoalan identitas, diskriminasi, sejarah politik, hingga posisi perempuan Tionghoa di Indonesia dengan sangat halus tetapi menghantam batin.

Sinopsis Buku

Secara singkat, novel ini berkisah tentang Anggraeni yang diminta sahabat masa kecilnya, Lely, untuk menuliskan kisah hidupnya. Anggraeni sendiri sedang mengalami kebuntuan dalam menyelesaikan disertasinya. Karena dulu pernah menulis cerpen, ia akhirnya menerima permintaan tersebut dan mulai mendengarkan perjalanan hidup Lely.

Namun semakin jauh cerita berkembang, proses menulis itu bukan lagi sekadar mendokumentasikan kehidupan seorang teman. Anggraeni perlahan ikut membuka kembali simpul-simpul dalam hidupnya sendiri. Ia mulai membandingkan jalan hidupnya dengan Lely, terutama tentang bagaimana dua perempuan Tionghoa bisa tumbuh dengan identitas dan cara pandang yang sangat berbeda.

Dan di situlah kekuatan novel ini.

Anggraeni berasal dari keluarga Tionghoa yang sangat merasa dirinya bagian dari Indonesia. Salah satu leluhurnya disebut sebagai pengikut Pangeran Diponegoro, bahkan ada anggota keluarganya yang gugur dalam perjuangan kemerdekaan. Ayahnya selalu menanamkan keyakinan bahwa menjadi keturunan Tionghoa tidak membuat mereka kurang Indonesia.

Bahkan dalam salah satu bagian paling menarik, ayah Anggraeni mengatakan bahwa beberapa Tionghoa muslim pada masa lalu datang ke Nusantara bukan hanya untuk berdagang, tetapi juga menyebarkan Islam. Meski kisah seperti itu jarang tercatat dalam sejarah resmi, keluarga Anggraeni menjadikannya sumber kebanggaan sekaligus pengingat bahwa mereka punya tanggung jawab terhadap negeri ini.

Karena itulah Anggraeni tumbuh dengan identitas yang sangat “Indonesia”. Ia menikah dengan laki-laki Jawa dan semakin jauh dari tradisi Tionghoa, kecuali lewat mamanya yang masih menjaga budaya keluarga.

Sementara itu, Lely tumbuh dalam lingkungan yang berbeda.

Ia adalah anak dari imigran generasi pertama asal Shanghai yang sangat mempertahankan identitas Tionghoa perantau. Hidupnya dibentuk oleh etos bisnis, kerja keras, dan keharusan untuk terus bertahan secara ekonomi. Jika keluarga Anggraeni berbicara tentang nasionalisme dan akar Indonesia, keluarga Lely lebih fokus pada cara bertahan hidup sebagai minoritas.

Perbedaan latar belakang itulah yang membuat novel ini begitu menarik secara sosial dan psikologis.

Lewat cerita Lely, kita melihat bagaimana sejarah politik Indonesia meninggalkan luka mendalam pada masyarakat Tionghoa. Salah satu bagian paling memilukan adalah ketika Lely harus berhenti sekolah setelah peristiwa G30S. Sekolah Tionghoa ditutup dan dicurigai berhubungan dengan komunisme, padahal guru-gurunya bahkan tidak pernah mengajarkan teori politik.

Adegan ketika guru sejarah mereka menangis sambil berkata, “Aku merasa bukan Tionghoa tapi orang Indonesia,” terasa sangat menyakitkan.

Kelebihan dan Kekurangan

Novel ini memperlihatkan bagaimana identitas seseorang bisa dipaksa menjadi masalah oleh situasi politik. Lely kehilangan pendidikan, keluarganya kehilangan toko, dan hidup mereka berubah hanya karena stigma yang dilekatkan negara pada etnis Tionghoa saat itu.

Sementara Anggraeni yang berstatus warga negara Indonesia tetap bisa sekolah dengan aman. Dari sini Ratna memperlihatkan betapa nasib dua orang yang berasal dari etnis sama pun bisa sangat berbeda karena status sosial dan politik.

Selain soal identitas Tionghoa, novel ini juga banyak membahas posisi perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Ada tekanan untuk menikah, tuntutan ekonomi, konflik rumah tangga, hingga bagaimana perempuan sering kali harus menjadi pihak yang paling kuat sekaligus paling banyak mengalah.

Salah satu kalimat yang terasa pahit adalah ketika disebut bahwa perempuan harus pintar mencari uang karena “perempuan tempat salah dan kalah”. Kalimat sederhana, tetapi menggambarkan bagaimana perempuan sering dibebani tuntutan bertahan hidup lebih keras.

Yang menarik, latar Kota Malang dalam novel ini juga terasa hidup. Ratna menggambarkan Malang tahun 1950-an sebagai kota yang sejuk, berkabut, dan tertata indah oleh arsitek Hindia Belanda, Herman Thomas Karsten. Kawasan Pecinan Malang hadir bukan hanya sebagai tempat, tetapi sebagai ruang sejarah yang menyimpan identitas, trauma, dan kenangan masyarakat Tionghoa.

Hari ini kawasan Pecinan Malang masih dikenal sebagai pusat budaya Tionghoa dengan arsitektur akulturasi kolonial dan kuliner khas yang legendaris. Namun melalui novel ini, kita diajak melihat bahwa di balik keramaian kawasan tersebut, ada sejarah panjang tentang diskriminasi, perjuangan bertahan hidup, dan pencarian identitas.

Pecinan Kota Malang bukan sekadar novel tentang etnis Tionghoa. Novel ini adalah potret tentang manusia-manusia yang berusaha mencari tempat di negeri yang mereka cintai, tetapi kadang tidak sepenuhnya menerima mereka.

Identitas Buku

  • Judul: Pecinan Kota Malang
  • Penulis: Ratna Indraswari Ibrahim
  • Penerbit: Human Publishing
  • Tahun Terbit: April 2008
  • ISBN: 978-979-17857-0-8
  • Tebal: 156 Halaman
  • Kategori: Novel, Sejarah, Etnis