M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Ilustrasi bedak bayi dengan botol kecil berwarna lembut yang biasa digunakan orang tua, menggambarkan praktik perawatan bayi yang kini perlu lebih diperhatikan dari sisi keamanan kesehatan. (Pexels/Matazu Multimedia)
Atalie June Artanti

Selama bertahun-tahun, bedak bayi seolah menjadi “ritual wajib” setelah mandi. Aroma lembutnya memberikan kesan bersih, kering, dan nyaman. Banyak orang tua merasa bayi belum benar-benar siap berpakaian sebelum ditaburi bedak. Saya pun tumbuh dengan kebiasaan itu: melihat bayi selalu dipakaikan bedak di leher, lipatan paha, bahkan area popok.

Namun, belakangan pandangan tersebut mulai berubah. Sejumlah tenaga kesehatan dan organisasi medis, termasuk American Academy of Pediatrics (AAP), justru tidak lagi merekomendasikan penggunaan bedak tabur pada bayi. Alasannya bukan sekadar tren baru, melainkan karena adanya risiko kesehatan yang selama ini mungkin kurang disadari.

Salah satu masalah utama adalah risiko terhirupnya partikel bedak. Bayi, terutama yang baru lahir, belum memiliki sistem penyaring alami di hidung yang matang seperti orang dewasa. Partikel halus bedak bisa masuk ke saluran napas hingga paru-paru dan memicu iritasi. Dalam beberapa kasus, paparan serbuk bahkan dapat berkontribusi terhadap gangguan pernapasan.

Selain itu, kulit bayi sebenarnya sangat sensitif. Bedak yang menumpuk di lipatan kulit dapat menyumbat pori-pori dan menyebabkan kemerahan atau ruam. Ironisnya, tujuan awal penggunaan bedak untuk menjaga kulit tetap kering justru bisa berbalik menjadi masalah baru ketika partikel bercampur dengan keringat atau urin di area popok.

Ada pula risiko infeksi di area genital. Lingkungan lembap akibat penggunaan bedak dapat memicu pertumbuhan jamur dan bakteri. Bagi sebagian bayi, kandungan tertentu dalam bedak juga dapat menimbulkan reaksi alergi, mulai dari ruam ringan hingga gangguan pernapasan.

Isu lain yang cukup banyak dibicarakan adalah kandungan talc. Beberapa penelitian mengaitkan penggunaan bedak berbahan talc di area genital dengan peningkatan risiko kanker ovarium pada paparan jangka panjang, seperti yang pernah dibahas dalam jurnal medis internasional JAMA. Walaupun konteksnya lebih banyak pada penggunaan pada perempuan dewasa, kekhawatiran ini membuat banyak pihak semakin berhati-hati terhadap penggunaan bedak sejak usia bayi.

Melihat berbagai risiko tersebut, muncul pertanyaan sederhana: apakah bayi sebenarnya membutuhkan bedak? Jawabannya, tidak selalu. Banyak dokter justru menyarankan perawatan kulit yang lebih sederhana. Mengeringkan tubuh bayi dengan handuk lembut, rutin mengganti popok, memilih pakaian berbahan katun yang menyerap keringat, serta menggunakan krim khusus bila diperlukan sudah cukup untuk menjaga kesehatan kulit bayi.

Perubahan rekomendasi ini mengingatkan kita bahwa tidak semua kebiasaan lama harus dipertahankan. Sesuatu yang dulu dianggap normal belum tentu masih relevan setelah ilmu pengetahuan berkembang. Dalam konteks perawatan bayi, prinsip utamanya bukan mengikuti tradisi, melainkan memastikan keamanan dan kesehatan si kecil.

Bagi orang tua, informasi seperti ini memang bisa terasa membingungkan. Apa yang dulu dianggap benar ternyata kini dipertanyakan. Namun, justru di sinilah pentingnya keterbukaan terhadap pengetahuan baru. Tidak ada orang tua yang sengaja ingin mengambil risiko terhadap anaknya. Sebagian besar hanya meneruskan kebiasaan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Mungkin yang perlu kita lakukan bukan langsung menolak atau menerima mentah-mentah, tetapi mulai lebih kritis. Mengamati reaksi kulit bayi, memahami kebutuhan sebenarnya, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika ragu bisa menjadi langkah bijak.

Pada akhirnya, merawat bayi tidak selalu harus rumit. Kadang, pendekatan yang paling aman justru yang paling sederhana. Dan mungkin, kini saatnya kita bertanya kembali: apakah bedak benar-benar kebutuhan bayi, atau hanya kebiasaan yang selama ini kita anggap perlu?