Bimo Aria Fundrika | Vicka Rumanti
Seporsi Mie Ayam (Pexels/kelvin agustinus)
Vicka Rumanti

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, stigma terhadap depresi masih kuat di masyarakat.

Tidak sedikit orang yang menganggap gangguan mental bukanlah penyakit yang nyata, melainkan sekadar tanda kurang bersyukur, kurang kuat, atau bahkan kurang beribadah.

Persoalan ini menjadi salah satu sorotan dalam syukuran cetakan ke-100 novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna yang digelar di Gramedia Jalma, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Acara tersebut tidak hanya merayakan pencapaian penjualan buku, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai depresi, empati, dan pentingnya dukungan sosial bagi mereka yang sedang berjuang dengan kesehatan mental.

Novel yang kini tengah diadaptasi ke layar lebar itu mengisahkan Ale, seorang pria yang bergulat dengan depresi dan kehilangan harapan hidup. Melalui kisah tersebut, para pemain film berharap masyarakat dapat melihat isu kesehatan mental dengan cara yang lebih manusiawi.

Salah satu pemeran film, Fira Maringka, menilai masih banyak orang yang memandang kesehatan hanya dari sisi fisik. Akibatnya, mereka yang mengalami depresi sering kali tidak mendapatkan pemahaman yang dibutuhkan.

“Aku merasa masih ada banyak orang yang merasanya tuh enggak ada penyakit mental, sakit tuh ya fisik gitu. Enggak ada sakit mental, ya berarti kamu kurang berdoa misalnya gitu,” ujar Fira.

Menurut dia, film ini diharapkan dapat membantu membuka perspektif masyarakat mengenai realitas yang dihadapi penyintas depresi. Sebab, tidak semua luka terlihat secara kasatmata, meskipun dampaknya dapat sangat memengaruhi kehidupan seseorang.

Pentingnya Mendengar Tanpa Menghakimi

Bagi Benedictus Siregar yang memerankan tokoh Ale, proses mendalami karakter utama justru memberinya pelajaran penting tentang relasi antarmanusia. Ia menyadari bahwa banyak orang sebenarnya hanya membutuhkan ruang untuk didengar.

“Mendengar dan didengar ternyata seberharga itu,” kata Benedictus.

Ia mengaku pengalaman membaca novel dan terlibat dalam proses produksi film membuatnya lebih peka terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Setelah membaca bukunya, mengikuti proses filmnya, aku akan mencoba menjadi orang yang mencari teman-temanku yang selama ini aku ternyata enggak mencoba mendengar dia,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah tingginya angka gangguan kesehatan mental yang sering kali tidak terdeteksi karena penyintas memilih menyimpan perasaannya sendiri. Banyak orang terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sesungguhnya sedang menghadapi pergulatan yang berat.

Validasi Kesedihan dan Ambil Jeda dalam Setiap Prosesnya

Syukuran Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati di Gramedia Jalma, Sabtu (23/5/26) (Dok. Pribadi/Vicka Rumanti)

Bagi sang penulis, Brian Khrisna, narasi Ale—karakter utama dalam novel, hadir untuk mengingatkan pembaca bahwa kesedihan sekecil apa pun adalah hal yang nyata. Menghadapi beban hidup tidak harus selalu ditunjukkan dengan kepura-puraan bahwa semua baik-baik saja. Brian menekankan setiap orang untuk berani mengambil jeda ketika kondisi mental sedang tidak baik-baik saja.

“Jangan memaksakan untuk berjalan ketika kamu terluka. Jangan sok dewasalah di depan orang... kesedihan setiap orang itu valid sekecil apapun itu,” tegas Brian.

Menemukan Harapan pada Hal-Hal Kecil

Novel ini memperlihatkan bahwa pemulihan kesehatan mental tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Perhatian kecil, percakapan tanpa penghakiman, atau bahkan ajakan sederhana makan seporsi mie ayam bisa menjadi jangkar yang menahan seseorang untuk tidak menyerah pada hidup mereka.

Bagi Fira, salah satu momen paling menyentuh dalam cerita ini adalah ketika Ale menyadari bahwa hidupnya ternyata masih memiliki arti bagi orang di sekitarnya. Melalui kisah yang ringan namun mendalam, karya ini bukan sekadar fiksi. Ia hadir menjadi ruang percakapan yang hangat, merangkul mereka yang merasa sendirian, dan menegaskan bahwa selalu ada alasan sederhana untuk bertahan hidup.