Menjelang gelaran Piala Asia 2023, timnas Indonesia kembali mendapatkan tambahan kekuatan. Salah satu pemain yang menjadi bidikan coach Shin Tae Yong, Shayne Pattynama kini secara resmi telah menjadi warga negara Indonesia. Disadur dari laman Suara.com (24/1/2023), Shayne telah mengambil sumpah di kantor kementerian Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jakarta pada tanggal 17 Januari 2023 lalu, namun, secara baru sah secara resmi untuk membela timnas Indonesia pada hari ini, Selasa, 24 Januari 2023.
Berkaca dari laman transfermarkt.com, Shayne Pattynama adalah pemain muda kelahiran 11 Agustus 1998. Dengan demikian, untuk tahun ini Shayne masih berusia 24 tahun, dan akan memasuki usia ke 25-nya pada bulan Agustus mendatang. Sebuah usia emas bagi seorang pesepakbola.
Secara posisi, pemain bertinggi badan 185 cm ini bisa bermain natural di sektor fullback kiri. Namun, Shayne Pattynama bukanlah pemain yang terpaku pada satu posisi saja. Pemain yang kini membela Viking FK di liga utama Norwegia ini juga bisa dimainkan dengan baik di posisi gelandang tengah, ataupun gelandang bertahan.
Sementara itu, untuk karir, Shayne memulainya dari usia muda. Tahun 2007, Shayne tercatat mulai berkarir dengan bergabung ke klub Ajax Youth selepas menyelesaikan akademinya di Lelystad67 Youth. Selama tiga tahun berada di Ajax Youth, pada tahun 2010, Shayne berpindah ke Utrech, dan membela klub ini di berbagai jenjang usia.
BACA JUGA: Sabda Ahessa Berubah Sejak Pacaran dengan Wulan Guritno, Ibunda: Saling Mempengaruhi
Tahun 2019, Shayne berpindah dari Utrech U-21 menuju ke Telstar, dan bertahan hingga tahun 2021. Terbaru, pada 1 April 2021 lalu, pemain yang pernah menjadi juara kompetisi U-17 pada tahun 2015 bersama FC Utrech tersebut bergabung bersama Viking FK di liga Norwegia, dan dikontrak hingga 31 Desember 2023 mendatang.
Dengan bergabungnya Shayne Pattynama ke timnas Indonesia, kekuatan skuat Garuda tentu menjadi lebih baik. Setidaknya, dua posisi saat ini, yakni fullback kanan dan gelandang tengah akan mendapatkan sokongan kekuatan baru. Selama ini, Indonesia terlalu mengandalkan Pratama Arhan dan Edo Febriansyah di sisi kiri pertahanan Indonesia, sementara di bagian gelandang, bertahan, Indonesia mengandalkan sosok Rachmat Irianto.
Dan kini, dengan keberadaan seorang Shayne Pattynama, maka pilihan coach Shin Tae Yong untuk kedua posisi tersebut akan bertambah, dan opsi mengembangkan permainan pun menjadi lebih banyak. Selamat bergabung Shayne!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Tag
Baca Juga
-
Kandaskan CAHN FC, PSM Buka Kans Akhiri Titel Juara Bertahan Puluhan Tahun Wakil Singapura
-
Kandaskan CAHN FC, PSM Makassar Lanjutkan Hegemoni Persepakbolaan Indonesia atas Vietnam
-
Bukan Hanya Kembali Suci, Ternyata Begini Arti Idulfitri Menurut Pendapat Ulama
-
Tak Dapatkan Kartu Meski Bermain Keras, Sejatinya Sebuah Hal yang Biasa bagi Justin Hubner
-
Kembali Cetak Gol untuk Indonesia, Selebrasi Ole Romeny Nyaris Berakhir Tidak Estetik
Artikel Terkait
-
Gema Takbir Iringi Kemenangan Timnas Indonesia U-17: Garuda Muda Tekuk Korea 1-0
-
Hasil Babak I Korsel vs Timnas Indonesia U-17: Mierza Firjatullah Nyaris Cetak Gol
-
Demi Jay Idzes Merapat ke Bologna, Legenda Italia Turun Gunung
-
Sesaat Lagi Kick Off! Ini Susunan Pemain Korsel vs Timnas Indonesia U-17
-
Viral Denny Landzaat Fasih Bahasa Indonesia di Maluku, Shin Tae-yong Kena Sindir
Hobi
-
Mengejutkan! Maarten Paes Kritik Taktik dari Patrick Kluivert di Timnas Indonesia
-
Ranking FIFA Timnas Indonesia Naik, Ini Harapan Besar Erick Thohir
-
Hadapi Korea Selatan, Timnas Indonesia U-17 Wajib Raih Minimal 1 Poin
-
Persija Jakarta Incar Posisi Empat Besar, Madura United akan Jadi Korban?
-
Kandaskan CAHN FC, PSM Buka Kans Akhiri Titel Juara Bertahan Puluhan Tahun Wakil Singapura
Terkini
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?