Apakah kamu masih ingat dengan Piala Dunia 2022 lalu ketika Argentina menjadi juara? Messi dan rekan-rekannya sukses mengalahkan Prancis lewat adu penalti, di tim Prancis Tchouameni dan Kingsley Coman gagal melaksanakan penalti. Sedangkan, di tim Argentina semua pemain sukses mengeksekusi penalti dengan baik.
Mengapa pemain sepak bola dapat gagal mengeksekusi penalti, padahal hanya berhadapan satu lawan satu dengan kiper yang harusnya akan lebih mudah? Namun, adu penalti sayangnya tidak segampang itu, berikut ini adalah 3 alasan kenapa adu penalti tidak semudah yang kamu bayangkan.
1. Kecemasan ketika menendang penalti
Tekanan dan kecemasan yang dimiliki penendang penalti menjadi faktor psikologis yang sudah umum. Penelitian dari University of Twente yang dibuat oleh Max Slutter dan Nattapong yang mengatakan bahwa terdapat perbedaan antara aktivitas otak penendang penalti yang berhasil dan yang tidak.
Penelitian itu menyebut bahwa tekanan dari diri sendiri atau pun dari luar akan berpengaruh pada keberhasilan penalti.
BACA JUGA: Tuai Sorotan, Lionel Messi Gagal Eksekusi Penalti saat Tekuk Polandia
2. Aktivitas otak penendang penalti
Mengutip dari jurnal Frontiers, Nattapong Thammasan dan Max Slutter membuat eksperimen untuk mengukur aktivitas otak terhadap penendang penalti selama adu penalti berlangsung, terdapat beberapa variabel yang disiapkan. Peserta-pesertanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pemain amatir hingga profesional.
Kondisi penalti yang dibuat juga berbeda, mulai dari keadaan santai dengan kiper, berhadapan dengan kiper yang memprovokasi pemain, tanpa kiper, dan lain-lain. Hasilnya, saat pemain yang tidak memiliki banyak pengalaman gugup, maka aktivitas korteks mereka dibiarkan meningkat.
Penendang penalti akan mempunyai potensi yang besar untuk mencetak gol kalau mereka dapat menguasai keadaan dan tenang. Namun, ketika semua orang menonton kita memang tidak mudah untuk menguasai diri.
BACA JUGA: Total Cetak 8 Gol, Ini Statistik Lengkap Witan Sulaeman di Benua Biru
3. Status bintang tidak menjadi jaminan suksesnya penalti
Professor di Norwegian School of Sport Sciences, Geir Jordet menyebut status bintang pemain akan semakin membebani pikirannya.
Berdasarkan studi yang telah dilakukan Geir Jordet, pemain dengan label bintang mempunyai tingkat kesuksesan penalti sebesar 65%, sedangkan saat mereka belum menjadi pemain bintang tingkat kesuksesannya sebesar 89%.
Data itu diperoleh dari semua data pertandingan adu penalti Champions League, Euro, dan World Cup mulai tahun 1976 hingga saat ini. Itulah 3 alasan kenapa adu penalti tidak semudah yang dibayangkan, jadi jangan menghujat pemain yang gagal penalti ya!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
3 Film dan Drama Korea yang Diperankan Jeon Do-Yeon, Ada Kill Boksoon
-
3 Rekomendasi Anime yang Berlatar pada Abad ke-20, Kisahkan tentang Sejarah
-
3 Rekomendasi Anime Bertema Mafia, Salah Satunya Spy x Family
-
3 Rekomendasi Anime Gore Tayang di Netflix, Mana yang Paling Sadis?
-
3 Rekomendasi Film Bertema Bom Atom, Gambarkan Dampak Buruk Perang Nuklir
Artikel Terkait
-
Kandaskan CAHN FC, PSM Makassar Lanjutkan Hegemoni Persepakbolaan Indonesia atas Vietnam
-
Premis Unik, 5 Alasan Drama Korea 'The Divorce Insurance' Wajib Masuk Watchlist!
-
Lebaran Tanpa Mudik? Ini 9 Aplikasi Video Call Terbaik untuk Jaga Silaturahmi!
-
Forte Vantage V2: Rekomendasi Sepatu untuk Generasi Muda di Tengah Demam Sepak Bola Indonesia
-
El Clasico Barcelona Femeni vs Real Madrid: Dua Gol Caroline Wier Tumbangkan Blaugranes
Hobi
-
Mengejutkan! Maarten Paes Kritik Taktik dari Patrick Kluivert di Timnas Indonesia
-
Ranking FIFA Timnas Indonesia Naik, Ini Harapan Besar Erick Thohir
-
Hadapi Korea Selatan, Timnas Indonesia U-17 Wajib Raih Minimal 1 Poin
-
Persija Jakarta Incar Posisi Empat Besar, Madura United akan Jadi Korban?
-
Kandaskan CAHN FC, PSM Buka Kans Akhiri Titel Juara Bertahan Puluhan Tahun Wakil Singapura
Terkini
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?