Ada kalanya hidup mempertemukan kita dengan perasaan yang sulit dijelaskan, amarah yang dipendam, luka yang tak kunjung sembuh, atau kecewa yang terus mengendap.
Buku How Can I Be Grateful When I Feel So Resentful? karya Dr. Kerry Howells hadir sebagai panduan lembut yang menuntun kita dari kegelapan kebencian menuju cahaya rasa syukur.
Buku ini ditulis dari pengalaman pribadi dan telah digunakan banyak orang sebagai referensi untuk berjuang melepas rasa menyakitkan di masa lalu.
Howells memulai kisahnya dengan sangat personal. Sebagai seorang filsafat muda, ia mengalami sendiri getirnya kebencian, terutama terhadap ibunya. Hubungannya dengan ibunya terasa renggang dan tegang. Bahkan, hal tersebut berdampak pada kehidupannya di kemudian hari.
Kebencian itu tidak sekedar menjadi emosi yang tersimpan. Ia tumbuh dan menggerogoti kesehatan mentalnya secara perlahan. Sebuah fakta yang mungkin dirasakan banyak orang juga bahwa luka lama bisa mempengaruhi perilaku kita di masa depan.
Buku ini kemudian menawarkan secercah harapan yang begitu manusiawi. Suatu hari, Howells memutuskan untuk melangkah keluar dari siklus dendam yang menghantuinya. Ia kemudian menulis sebuah surat yang dikirim untuk ibunya.
Surat yang berisi ucapan terima kasih telah melahirkannya ke dunia yang indah ini dan memiliki sahabat bernama ibu. Sebuah tindakan yang terlihat sederhana, namun memiliki dampak luar biasa. Surat itu menjadi jembatan.
Ketika mereka bertemu kembali, pelukan dan air mata menjadi simbol cairnya kebekuan bertahun-tahun. Hubungan mereka pulih dan enam bulan kemudian, sang ibu meninggal. Namun, Howells tak lagi menyimpan penyesalan. Ia telah memeluk ibunya sejak ia mencoba melepaskan semua rasa bencinya.
Dari pengalaman pribadi inilah, Howells menyusun bukunya dengan runtut dan penuh kepekaan. Setiap bab menjelaskan proses kebencian itu tumbuh dengan berbagai penyebabnya. Tidak diperlakukan adil, kesuksesan rekan kerja yang tidak sesuai dengan kemampuannya, atau hal lainnya. Semua itu berpotensi untuk menumbuhkan rasa benci di dalam diri.
Ia menyadarkan kita bahwa rasa dendam tak selalu hadir dalam bentuk ledakan emosi, tapi bisa bersembunyi dalam sunyi, dalam sikap dingin, atau dalam harapan diam bahwa orang lain akan meminta maaf lebih dulu.
Namun, inilah yang menjadi keistimewaan buku ini. Daripada menuntut dunia untuk berubah, Howells mengajak pembacanya untuk merubah diri sendiri. Ia mengajarkan bahwa rasa syukur bukan berarti membenarkan perlakuan buruk, melainkan mengakui bahwa dalam setiap relasi, selalu ada hal baik yang patut dihargai.
Dan itulah yang menjadi obat agar kita bisa sembuh. Melalui langkah-langkah praktis dan penuh empati, pembaca diajak untuk perlahan melepaskan luka, bukan dengan melupakan, tapi dengan memilih untuk tidak terus-menerus hidup di dalamnya.
Buku ini sangat cocok untuk kalian yang merasa terjebak dalam konflik batin, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. Ia seolah mengingatkan kita bahwa kehidupan yang kita impikan mungkin terlalu sempurna, baik dalam pertemanan, keluarga, atau karir.
Dan saat kenyataan tak sesuai harapan, rasa kecewa berubah menjadi kebencian yang tak terucap. Tapi di tengah itu semua, rasa syukur bisa menjadi obat. Rasa syukur yang dimaksud bukanlah paksaan, melainkan syukur yang selalu kita terapkan dalam berbagai hal kecil.
Buku How Can I Be Grateful When I Feel So Resentful? bukan hanya tentang syukur, tapi tempat untuk belajar membuka diri terhadap luka yang selama ini menjadi bayang-bayang.
Bukan hadir sebagai nasihat yang menggurui, melainkan sebagai teman yang setia menyapa dengan kelembutan, kejujuran, dan harapan.
Baca Juga
-
Grow Wild, My Child: Saat Alam Menjadi Ruang Kelas Terbaik Anak
-
Milk & Mocha: Ketika Momen Kecil Ternyata Tak Selalu Membekas
-
Review Buku This Book Is Seriously Silly!: Belajar Interaktif Lewat Ubur-Ubur Konyol
-
Diary of a Bee: Mengintip Kehidupan Lebah dari Sudut Pandang Matilda
-
Mengajari Anak untuk Puasa dan Taqwa Lewat Buku Ramadan for Everyone
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Growing Pains, Menjalani Hidup Sebagai Orang Tua Tunggal
-
Buku I'm Not Lazy. I'm On Energy Saving Mode; Pelukan untuk Diri yang Kelelahan
-
Ulasan Buku The Comfort Book, Kiat Melalui Badai Depresi ala Matt Haig
-
Ulasan Novel Demon Rumm: Karya Sandra Brown yang Kurang Menggigit
-
Merajut Doa dan Ikhtiar Lewat Ulasan Buku The Power of Jalur Langit
Ulasan
-
Review Crew Girl: Kisah Perjuangan Atlet Remaja Mempertahankan Impian!
-
Grow Wild, My Child: Saat Alam Menjadi Ruang Kelas Terbaik Anak
-
Nyore di Kyfein.id: Spot Hidden Gem yang Nyaman buat Nongkrong dan WFC
-
The Castle: Menyusuri Jalan Ketidakpastian Tiada Akhir Menuju Keterasingan
-
Review Namib: Sisi Gelap di Balik Mimpi Menjadi Idol
Terkini
-
Bukan Tak Tahu Diri, Ini Alasan Lulusan Kabupaten Berhak Ajukan Gaji Tinggi
-
Ghost in The Cell Menang Best Picture di Fantastic Fest 2026, Siap Tayang di Bioskop Amerika Serikat
-
Terjebak Situationship yang Melelahkan? Ini Alasan Sikap 'Si Paling Cuek' Tak Lagi Keren
-
Peringatan Gempa Bukan Ramalan: Stop Tunggu Bencana untuk Belajar Mitigasi
-
5 Sabun Muka Anti Acne Lokal Remaja untuk Kulit Bersih Bebas Jerawat