Era baru persepakbolaan Indonesia kini mulai terlihat. Mindset para pemangku kebijakan di persepakbolaan Indonesia, belakangan ini sudah mulai berubah jauh daripada era-era sebelumnya. Setidaknya, hal tersebut mulai terasa semenjak kehadiran sosok pelatih Shin Tae Yong sebagai nakhida Timnas Indonesia, dan kini diperkuat dengan kedatangan Erick Thohir yang menjabat sebagai pejabat tertinggi di federasi.
Salah satu hal yang paling terasa tentu saja orientasi target yang dicanangkan oleh federasi. Seperti yang kita rasakan bersama, dalam beberapa dekade terakhir orientasi atau target yang dicanangkan oleh federasi selalu tak lebih menjadi yang terbaik di kawasan Asia Tenggara.
Jika tak menjuarai ajang AFF atau Sea Games, siapa pun pelatih yang menangani skuat Garuda akan dicap sebagai pelatih yang gagal. Ironisnya, pencapaian yang sejatinya lebih tinggi daripada AFF atau Sea Games, seolah tak berarti di mata federasi, karena orientasi target utama yang dijadikan patokan adalah dua kejuaraan tersebut.
Namun, ketika dua sosok bernama Shin Tae Yong yang memiliki visi jauh ke depan mengenai dunia sepak bola, ditambah dengan Erick Thohir yang memiliki koneksi berkelas dunia datang di lingkungan PSSI, target-target berskala regional sudah bukan lagi menjadi sebuah opsi utama. Timnas Indonesia saat ini, hampir di semua umur sudah mencanangkan prestasi di level benua, bukan regional Asia Tenggara lagi.
Mungkin baru kali ini kita mendapati induk sepak bola Indonesia tersebut dengan sengaja melepas turnamen Piala AFF U-23. Padahal, tak sampai lima tahun yang lalu, PSSI selalu memberikan target yang muluk ketika ada skuat yang dikirimkan ke kejuaraan ini. Pun demikian halnya dengan ajang Asian Games. Edisi sebelumnya, PSSI dengan tegas mematok babak perempat final sebagai satu-satunya target Timnas U-23, dan tak boleh ditawar-tawar lagi.
Sebuah hal yang pada akhirnya gagal dicapai oleh Luis Milla pelatih Timnas Asian Games kala itu dan menyisakan konflik yang berujung pada pulangnya sang pelatih ke Spanyol. Namun sekarang? Di era Erick Thohir, Asian Games hanya akan dijadikan sebagai ajang antara bagi para anak muda yang tergabung di skuat Timnas U-20 untuk mencari pengalaman internasional.
Targetnya? Tentu saja pondasi kokoh untuk timnas Indonesia di masa mendatang, agar bisa bersaing di level yang lebih tinggi, bukan hanya setaraf Asia Tenggara saja. Iya, kita sudah berani untuk memasang mimpi yang jauh lebih tinggi lagi, yakni bersaing di pentas Asia!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Piala Dunia 2026 dan Tak Selarasnya Casing Timnas Maroko dengan Dapur Pacu Mereka
-
Piala Dunia 2026,Babak 32 Besar, dan Pertemuan Brasil dengan Jepang yang Terjadwal Terlalu Dini
-
Jika FIFA Bertindak Tegas, Kuota AFC di Piala Dunia Bisa Berkurang Gegara Tim-Tim Arab!
-
Bukan Arab Saudi apalagi Qatar, Kepulangan 4 Tim Ini Bikin Greget Piala Dunia 2026 Jadi Berkurang
-
Piala Dunia 2026: 7 Wakil Asia Pulang Kampung, Qatar Harusnya Jadi yang Paling Malu!
Artikel Terkait
-
Melihat Lagi Aksi Titan Agung Hantam Pemain Thailand di Final SEA Games 2023, Berujung Sanksi 6 Pertandingan
-
Tampil 110 Menit Bersama Tokyo Verdy, Pratama Arhan Disorot Akun Liga Jepang
-
Pratama Arhan, Emperor's Cup Japan dan Hasil Nyata Didikan Shin Tae yong
-
4 Fakta Georgia, Negara Ini Memiliki Desa Tertinggi di Eropa
-
Erick Thohir Singgung Kemewahan Saat Bahas Renovasi Stadion Si Jalak Harupat, Relawan Ganjar: Tamparan Telak Buat Anies
Hobi
-
Harry Kane CS Harus Waspada, RD Kongo Punya Ambisi Lolos Babak 16 Besar
-
Takluk dari Meksiko, Ekuador Gagal Ulang Sejarah Indah 20 Tahun Silam
-
Kisah Inspiratif Achraf Hakimi: Anak Pedagang yang Sukses di Sepak Bola
-
Lolos Dramatis, Norwegia Siap Tantang Brasil di 16 Besar Piala Dunia 2026
-
Piala Dunia 2026: Lolos ke 16 Besar, Norwegia Ulang Sejarah 28 Tahun Silam
Terkini
-
Budget Cuma Rp30 Ribuan? Ini 4 Sunscreen Cica Murah untuk Kulit Berjerawat
-
About 7 Memories: Sebuah Potret Persaudaraan Toksik yang Menghancurkan Jiwa
-
Membongkar Borok Kerja Kelompok yang Cuma Bikin Jinak Si Pemalas
-
Pertemanan di Era Media Sosial: Dekat Secara Online, Jauh di Dunia Nyata
-
Bisakah Komedi Menggantikan Buku Sejarah? Ini Pendapat Saya Setelah Menonton Serial Larry David