Menulis review buku bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat, terutama bila kamu dapat menyeimbangkan antara analisis, kecerdasan, dan wawasan pribadi. Namun, jika beberapa kesalahan umum ini terjadi, dapat merusak ulasan kamu.
Di dalam artikel ini, kita akan menjelajahi tujuh kesalahan yang sering dilakukan pengulas buku dan cara menghindarinya. Yuk simak!
1. Terlalu fokus pada ringkasan plot
Kesalaha pertama yang sering dilakukan pengulas buku adalah menyelami ringkasan plot terlebih dahulu alih-alih membedah tema, karakter, dan gaya penulisan buku. Contoh: "Novel The Bell Jar mengisahkan kehidupan seorang wanita muda yang mengalami gangguan mental."
Cara menghindarinya: Selidiki aspek-aspek yang lebih dalam dari buku yang kamu review. Misalnya dalam novel The Bell Jar, aspek-aspek tersebut meliputi penggambaran kesehatan mental, ekspektasi masyarakat, dan suara naratif khas penulisnya. Tawarkan wawasan dan refleksi yang bijaksana, jadikan ulasan kamu sebagai harta karun analisis.
2. Mengungkapkan terlalu banyak spoiler tanpa peringatan
Kesalahan kedua adalah membeberkan alur cerita utama atau bagian akhir tanpa memberikan peringatan spoiler. Hal ini secara efektif merusak pengalaman membaca calon pembaca buku. Contoh: "Dalam novel Metamorfosis, transformasi protagonis menjadi serangga mengerikan menyebabkan …"
Cara menghindari: Berhati-hatilah saat mendiskusikan perkembangan plot yang signifikan dan pertimbangkan untuk menggunakan peringatan spoiler.
Fokus pada dampak poin plot tersebut pada keseluruhan narasi, pertumbuhan karakter, atau resonansi tematik.
3. Membiarkan pendapat pribadi mengatur ulasan tanpa alasan sebagai pendukung
Membiarkan pendapat pribadi mengatur ulasan tanpa memberikan bukti atau alasan yang cukup untuk mendukung opini. Contoh: "Saya benci buku tentang krisis eksistensial, jadi The Sun Also Rises adalah novel yang membosankan."
Cara menghindarinya: Meskipun pendapat pribadi memang sudah semestinya ada di dalam review buku, penting untuk mendukungnya dengan contoh spesifik dari buku yang diulas.
Diskusikan aspek-aspek seperti gaya penulisan, pengembangan karakter, atau tempo untuk mendukung penilaian kamu dan memberikan perspektif yang lebih seimbang.
4. Menggunakan bahasa yang tidak jelas
Pengulas buku sering menggunakan bahasa yang terlalu umum dan tidak jelas yang gagal menangkap nuansa buku sehingga terkesan klise. Contoh: "Buku ini sangat menakjubkan. Ini harus dibaca oleh semua orang."
Cara menghindari: Gunakan bahasa yang tepat dan deskriptif untuk mengungkapkan pikiran kamu. Gunakan contoh dan kutipan spesifik untuk menyoroti adegan-adegan yang berkesan, gaya penulisan penulis yang unik, atau dampak tema buku terhadap pembaca.
5. Mengabaikan konteks budaya dan sejarah
Pengulas sering mengabaikan konteks penulis, genre, atau relevansi budaya buku, sehingga membuat pembaca tidak memiliki kerangka acuan yang tepat. Contoh: "Buku ini membosankan dan tidak orisinal."
Cara menghindari: Tawarkan pembaca pemahaman yang lebih luas dengan mendiskusikan latar belakang penulis, konvensi genre buku, dan konteks sosial atau sejarah apa pun yang mendasari cerita. Hal ini membantu pembaca mengapresiasi keunikan dan relevansi buku yang diulas.
6. Terlalu memanjakan preferensi pribadi
Sering sekali pengulas buku membiarkan preferensi pribadi menutupi penilaian obyektif atas manfaat buku tersebut. Contoh: "Saya tidak suka menulis tulisan aliran pikiran, jadi buku ini otomatis jelek."
Cara menghindari: Akui preferensi pribadi, tetapi berusahalah untuk mengevaluasi buku secara objektif. Fokus pada kekuatan dan kelemahan buku, dengan mempertimbangkan seberapa baik buku tersebut mencapai tujuannya sesuai genre atau pembaca yang dituju.
7. Lupa menyebutkan pembaca target buku
Pengulas tidak menyebutkan target pembaca buku atau siapa yang mungkin menikmati buku tersebut, sehingga menimbulkan kebingungan bagi calon pembaca. Contoh: "Buku ini bagus untuk semua orang."
Cara menghindarinya: Renungkan target pembaca, genre, dan tema buku tersebut. Sebutkan siapa saja yang mungkin sangat menyukai buku tersebut berdasarkan faktor-faktor ini, apakah itu penggemar genre tertentu, pembaca yang tertarik dengan cerita berdasarkan karakter, atau mereka yang mencari cerita yang menggugah pikiran.
Dengan menghindari tujuh kesalahan umum ini, pengulas dapat menyusun review buku yang berwawasan luas, seimbang, dan menarik yang dapat membantu pembaca membuat keputusan yang tepat tentang pilihan bacaan mereka.
Baca Juga
-
Resensi Buku Mengarang Itu Gampang, Sukses Menulis ala Arswendo Atmowiloto
-
Resensi Buku 'Generation Gap(less)', Strategi Komunikasi Lintas Generasi
-
Resensi Buku 'Goodbye, Things', Hidup Bahagia dengan Sedikit Barang
-
Ulasan Memento Pseudo-Daycare, Webtoon Petualangan yang Tak Biasa
-
Review Buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring: Belajar Memaknai Duka
Artikel Terkait
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
-
Perjalanan Menemukan Kebahagiaan dalam Ulasan Novel The Burnout
-
7 Manfaat Kesehatan Mengejutkan dari Membaca Buku Setiap Hari
-
Novel Homicide and Halo-Halo: Misteri Pembunuhan Juri Kontes Kecantikan
-
Pasar Literasi Jogja 2025: Memupuk Literasi, Menyemai Budaya Membaca
Hobi
-
Hadapi Korea Selatan, Timnas Indonesia U-17 Wajib Raih Minimal 1 Poin
-
Persija Jakarta Incar Posisi Empat Besar, Madura United akan Jadi Korban?
-
Kandaskan CAHN FC, PSM Buka Kans Akhiri Titel Juara Bertahan Puluhan Tahun Wakil Singapura
-
Kandaskan CAHN FC, PSM Makassar Lanjutkan Hegemoni Persepakbolaan Indonesia atas Vietnam
-
Pemain Timnas Indonesia Mulai Keluhkan Taktik Patrick Kluivert, Ada Apa?
Terkini
-
Webtoon My Reason to Die: Kisah Haru Cinta Pertama dengan Alur Tak Terduga
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
3 Tahun Hiatus, Yook Sung Jae Beberkan Alasan Bintangi 'The Haunted Palace'
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
-
Hanya 4 Hari! Film Horor Pabrik Gula Capai 1 Juta Penonton di Bioskop