Pemain belakang Timnas Indonesia yang kini berkiprah di Inggris, Justin Hubner kembali mendapatkan kepercayaan dari coach Shin Tae-yong. Dalam rilisan laman PSSI (2/11/2024), pemain berusia 21 tahun tersebut kembali masuk daftar pemain untuk menjalani laga melawan Jepang dan Arab Saudi di babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia Putaran Ketiga di pekan ini.
Pemanggilan ini tentunya menjadi sebuah kesempatan besar bagi pemain yang akrab dipanggil warganet dengan nama "Jussa" tersebut. Pasalnya, ini adalah kali pertama dirinya berkesempatan untuk melawan Jepang, pasca pengalaman tak mengenakkannya berkarir di pentas Liga Jepang beberapa waktu lalu.
Seperti yang diketahui bersama, berdasarkan data dari laman Transfermarkt, sebelum kembali memperkuat Wolverhampton Wanderers U-21 saat ini, Justin Hubner pernah mendapatkan kesempatan bermain di Liga Jepang di awal tahun 2024 ini.
Berstatus sebagai pemain pinjaman, Justin berpindah dari Wolves ke Cerezo Osaka secara resmi pada tanggal 12 Maret 2024 lalu. Dengan bermodalkan statusnya sebagai kapten Wolves U-21 dan langganan di tim muda, tentunya banyak yang memprediksikan pemain kelahiran 12 September 2003 ini akan menuai sukses di liga Negeri Matahari Terbit.
Namun sayangnya, yang terjadi di Jepang justru kebalikan dari prediksi yang muncul sebelumnya. Dengan segala potensi yang dimilikinya, Hubner justru menjadi pemain pelapis, bahkan pelengkap klub yang memiliki seragam kebesaran merah muda tersebut.
Alhasil, hingga akhir masa peminjamannya di Cerezo Osaka pada 16 Juli 2024, sang pemain hanya memainkan 8 pertandingan saja, dengan rincian 6 pertandingan di pentas J1 League, dan 2 laga di Piala Liga Jepang.
Setelah masa-masa mengecewakannya berkarier di Jepang tersebut, Justin Hubner kini memiliki kesempatan untuk membuktikan level permainan yang dimilikinya. Bersama dengan Pasukan Merah Putih, Hubner kini berdiri menantang Timnas Jepang, negara yang kompetisinya pernah menyia-nyiakan bakat miliknya beberapa waktu lalu.
Selain mempertaruhkan kepentingan dan harga diri bangsa, tentunya Justin juga tak ada salahnya untuk mengusung misi pribadi pada pertarungan ini. Setelah semua kesia-siaan yang dialaminya, Justin memiliki peluang besar untuk membuktikan kapabilitasnya di lapangan permainan.
Sebuah kesempatan besar untuk membalas perlakuan tak mengenakkan dari Cerezo Osaka beberapa bulan lalu yang tak memaksimalkan potensi menyeluruh yang ada dalam dirinya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
FIFA Series 2026: Ajang Debut yang Sudah Pasti Bakal Menguras Pemikiran John Herdman
-
Dilepas FC Utrecht, Ada 3 Alasan yang Seharusnya Bisa Bikin Ivar Jenner Memilih Tetap di Eropa
-
Minim Menit Bermain di Eropa, Marselino Harus Berani Membuat Keputusan Besar Demi Kariernya!
-
Dear Ivar Jenner, Meskipun Tak Miliki Klub, Tolong Jadikan Liga Indonesia sebagai Opsi Terakhir!
-
Maarten Paes, Ajax Amsterdan dan Beban Pembuktian Julukan Mewah yang Dia Umumkan Sendiri
Artikel Terkait
-
Analisis: Jegal Kaoru Mitoma-Takefusa Kubo, Matikan Agresivitas Jepang
-
Prediksi Ranking FIFA Timnas Indonesia: Untung Besar meski Cuma Imbang Lawan Jepang!
-
Ada Persaingan di Sektor Kiper Timnas Indonesia, Maarten Paes Ungkap Hal Tak Teduga
-
Senasib Mees Hilgers, Detik-detik Cedera Parah Elkan Baggott
-
Tatap Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia Mustahil Amankan Poin dari Jepang?
Hobi
-
Nova Arianto Jadi Pelatih Sementara Timnas U-17, Siap Lahirkan Talenta Emas
-
Panduan Lengkap Bermain Padel untuk Pemula: Peralatan dan Teknik Dasar
-
FIFA Series 2026: Ajang Debut yang Sudah Pasti Bakal Menguras Pemikiran John Herdman
-
Dilepas FC Utrecht, Ada 3 Alasan yang Seharusnya Bisa Bikin Ivar Jenner Memilih Tetap di Eropa
-
Minim Menit Bermain di Eropa, Marselino Harus Berani Membuat Keputusan Besar Demi Kariernya!
Terkini
-
Film Sadali: Refleksi Diri di Balik Kanvas Kosong yang Sunyi
-
Sinopsis Portraits of Delusion, Ajang Reuni Kim Seon Ho dan Bae Suzy
-
INNSiDE by Melia Yogyakarta Gelar Partner & Media Gathering Sekaligus Launching Blissful Iftar 2026
-
Dentuman dari Loteng yang Terkunci
-
Administrasi yang Membunuh: Menggugat Kaku Birokrasi dalam Tragedi di NTT