Perjalanan karier sepak bola profesional Maarten Paes menemukan babak baru. Setelah kurang lebih empat musim bertualang di Major League Soccer yang notabene kasta tertinggi dalam kompetisi sepak bola Amerika Serikat, penjaga gawang berusia 27 tahun tersebut akhirnya kembali ke atmosfer persepakbolaan Benua Eropa.
Dilansir laman Suara.com (3/2/2026), penjaga gawang yang telah mencatatkan 10 caps bersama Pasukan Garuda tersebut kini secara resmi menjadi bagian dari klub raksasa Belanda dan Eropa, Ajax Amsterdam, setidaknya hingga 30 Juni 2029 mendatang.
Kembalinya Maarten Paes ke salah satu liga elite di Benua Biru itu sendiri diwarnai dengan pengumuman label mewah dari sang pemain. Seperti yang dituliskan oleh laman Suara.com (3/2/2026), dalam sebuah sesi wawancara dengan pihak Ajax Amsterdam, penjaga gawang kelahiran Nijmegen tersebut memproklamirkan dirinya dengan julukan "tembok".
"(Julukan saya) Tembok," ujar Paes mengungkap julukan yang sejatinya diberikan oleh fans Indonesia kepadanya. Julukan yang diberikan kepadanya itu tentunya dinisbatkan karena kepandaiannya dalam menjaga mistar gawang Indonesia, yang mana para pemain lawan kerap mendapatkan kesulitan untuk menjebol gawang Pasukan Garuda ketika berada dalam penjagaannya.
Namun sayangnya, julukan yang diproklamirkan oleh Maarten Paes tersebut akan sangat mungkin bisa menjadi beban bagi dirinya sendiri. Dengan julukan semewah "tembok" yang dilabelkan kepadanya, tentunya para penggemar sepak bola Eropa, khususnya Ajax Amsterdam berekspektasi tinggi kepadanya.
Setidaknya, kehadiran Paes diharapkan bisa menambah kekuatan sektor pertahanan ajax yang sejauh ini terbilang tampil cukup apik.
Berdasarkan rilisan klasemen liga di laman eredivisie.nl, Ajax Amsterdam sendiri saat ini menduduki posisi keempat klasemen sementara dan baru kebobolan 28 gol dari 21 pertandingan. Sebuah jumlah yang tentunya cukup apik bagi sebuah tim yang menjalani kompetisi dengan bertarung melawan tim-tim berkualitas variatif.
Jumlah tersebut terbilang lebih baik ketimbang Feyenoord yang meskipun menduduki peringkat kedua namun sudah kebobolan 32 gol, maupun NEC Nijmegen yang malah sudah kebobolan 34 gol dari 20 laga yang dijalani.
Sehingga, ketika Maarten Paes dengan julukan "tembok" yang terkesan mewah dan berkelas datang ke Ajax Amsterdam, harapan paling minim bagi para pendukung adalah setidaknya tren minim kebobolan yang selama musim ini menghinggapi sektor pertahanan Ajax tetap terjaga, atau syukur-syukur malah bisa lebih baik lagi.
Karena bila tidak, maka julukan semewah "tembok" yang terlontar dari mulut Paes sendiri dipastikan hanya akan dipandang sebagai sebuah julukan yang tak memiliki makna dan jauh dari kualitas yang terkandung di dalamnya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Anomali Maarten Paes, Naik Kelas Bergabung Raksasa Dunia saat Kompatriotnya Turun Kasta
-
Bertarung di FIFA Series 2026, Indonesia Dipastikan Tak Bisa Dapatkan Poin Maksimal dari Lawannya
-
Meskipun Meredup, Penggemar Liga Indonesia Harus Berterima Kasih ke Rafael Struick! Kok Bisa?
-
Eksodus Pemain Naturalisasi ke Tanah Air, Benarkah karena Kualitas Liga Dalam Negeri Meningkat?
-
Ajax Amsterdam, Maarten Paes dan Pentingnya Federasi Menaturalisasi Pemain yang Sudah Matang
Artikel Terkait
-
Kata-kata Pertama Emil Audero Usai Jadi Korban Lemparan Flare di Laga Cremonese vs Inter Milan
-
Anomali Maarten Paes, Naik Kelas Bergabung Raksasa Dunia saat Kompatriotnya Turun Kasta
-
Uji Coba Timnas Indonesia U-17 vs China, Berikut Harga Tiketnya
-
Cetak Hattrick di Arsenal, Pemain Keturunan: Sangat Indah Jika Bermain untuk Timnas Indonesia
-
Dari Fans Cilik Jadi Kiper Ajax, Maarten Paes Wujudkan Mimpi Masa Kecilnya
Hobi
-
Anomali Maarten Paes, Naik Kelas Bergabung Raksasa Dunia saat Kompatriotnya Turun Kasta
-
John Herdman Optimis, Keberagaman Timnas Indonesia Bakal Jadi Senjata Baru?
-
Adnan/Indah Juara Thailand Masters 2026: Keyakinan Jadi Kunci Kemenangan
-
Ivar Jenner Tinggalkan FC Utrecht Meski Kontrak Belum Habis, Ada Apa?
-
Gabung Persija Jakarta, Mauro Zijlstra Berpeluang Main di AFF Cup 2026!
Terkini
-
Psychological Reactance: Alasan di Balik Rasa Kesal Saat Disuruh dan Dilarang
-
Mengenal Climate Fatigue: Mengapa Kita Lelah Baca Berita Buruk Soal Lingkungan?
-
The Lost Library: Menyusuri Jejak Rahasia Perpustakaan yang Hilang
-
Visual ala Ghibli, The Camphorwood Custodian Berhasil Bikin Mewek
-
4 Cafe Dekat Stasiun Bandung, Cocok untuk Nunggu Kereta hingga Nongkrong