Bertemu Arab Saudi dalam partai puncak Piala Asia U-17, Uzbekistan tak segan untuk menunjukkan keperkasaannya. Dua gol tanpa balas yang tercipta di Stadion King Fahd Sports City, Taif membuat tuan rumah bungkam dan harus rela menyerahkan trofi kepada pasukan Serigala Putih.
Merujuk laporan Antara News pada Minggu (20/4/2025), jual beli serangan sudah terjadi sejak peluit kick off dibunyikan. Arab Saudi yang menjalani laga penuh gengsi pun lekas menebar ancaman intens ke arah barisan pertahanan tim tamu.
Peluang emas pertama diperoleh ketika pertandingan berjalan tujuh menit. Abudlhadi Matari melepas sepakan keras yang sayangnya masih bisa ditangkap oleh penjaga gawang Nematulloh Rustamjonoy.
Uzbekistan yang juga membidik hasil maksimal dalam pertandingan final ini lekas memberi respon. Kesempatan besar untuk membongkar solidnya lini belakang Arab Saudi berapa kali berhasil didapatkan. Termasuk melalui pergerakan Nurbek Sansernbaev.
Sayangnya aliran bola yang berasal dari sisi kanan tidak bisa disambut oleh rekan-rekannya. Bukannya berhasil mendapatkan gol yang ditunggu-tunggu, Uzbekistan justru harus kehilangan pemain andalannya. Lantaran pada menit ke-39, striker mereka Sansernbaev mendapatkan kartu merah.
Ia tertangkap basah melakukan tindakan tidak sportif berupa pelanggaran keras terhadap Adel Hibah. Perjalanan Uzbekistan dalam menaklukkan tuan rumah terasa semakin sulit ketika diusir oleh wasit.
Apalagi mimpi buruk Uzbek terus berlanjut dengan krtu merah yang diberikan kepada Miraziz Abdukarimov. Ia menekel keras Sabri Dahal yang tengah berlari mengejar bola di area kotak penalti ketika babak pertama hampir selesai. Dua kartu merah beruntun ini menjadi bukti panas dan ketatnya atmosfer dalam laga final Piala Asia U-17.
Skor kacamata 0-0 masih bertahan sampai turun minum. Setelah memasuki paruh kedua, intensitas permainan masih belum menurun. Walaupun kalah jumlah pemain, Uzbekistan tetap berusaha mencetak gol. Sedangkan tuan rumah pun tak mau kalah dalam meluncurkan serangan.
Pada menit ke-47 pemain Arab Saudi melakukan handsball di dalam kotak terlarang dan memberikan hadiah penalti untuk Uzbekistan. Mukhammad Khakimov yang maju sebagai eksekutor pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk membawa timnya unggul 0-1.
Situasi ini cukup membuat Arab Saudi kalang kabut. Lantaran tim tuan rumah memiliki keunggulan pemain yang lebih banyak tetapi tidak mampu untuk mencetak gol. Yang ada, Uzbekistan justru menggandakan keunggulan melalui umpan Nermatulloh Rustamjonov yang disambut oleh oleh Sadriddin Khasanov.
Skor 0-2 untuk kemenangan Seringala Putih tak berubah sampai akhir. Dengan demikian, Uzbekistan resmi menjadi kampiun Piala Asia U-17 edisi tahun 2025 ini.
Timnas Indonesia Bisa Ikuti Jejak Uzbekistan?
Selain pada Piala Asia U-17, skuad Uzbekistan juga telah membuktikan kekokohannya dalam kompetisi lain di level benua. Mereka berhasil menembus final Piala Asia U-23 2024 lalu dan bertemu Jepang. Walau akhirnya kalah, Uzbekistan kini tumbuh menjadi salah satu kekuatan di Asia yang harus diwaspadai.
Timnas Indonesia sendiri bukan tak mungkin untuk turut mengikuti jejak keberhasilan Uzbekistan. Namun, tentunya memerlukan proses yang panjang, terutama dari segi pembinaan berjenjang dan berkelanjutan.
Kini PSSI pun semakin fokus untuk membina pemain-pemain muda, sekaligus mencari talenta-talenta potensial yang nantinya jadi aset masa depan dan memperkuat skuad Garuda di berbagai kompetisi. Bagi level U-17, Nova Arianto sebagai pelatih berencana terus mematangkan persiapan.
Diketahui bahwa setelah tersingkir di babak perempat final Piala Asia U-17, Matthew Baker dan kolega akan pentas di Piala Dunia U-17 yang digelar bulan November mendatang. Nova mengatakan, "Bagaimana kami lebih mempersiapkan pemain bukan hanya secara mental, tetapi secara skill individu mereka itu juga harus kami tingkatkan. Dan harapannya pemain bisa lebih siap dan pemain harus bisa lebih bekerja keras."
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Saat Perempuan Begadang Demi Piala Dunia 2026, Apa yang Salah?
-
Hangatnya Euforia Piala Dunia, Sepakbola Benar-Benar Jadi Bahasa Universal?
-
Piala Dunia Memang Milik Semua Orang, Tak Perlu Malu Jadi Fans Jalur FOMO?
-
Reborn Rookie dan Formula Lama yang Masih Ampuh Memikat Penonton
-
Begadang Demi Piala Dunia di Tengah Kesibukan, Masih Worth It?
Artikel Terkait
-
Kevin Diks Dikabarkan Cedera Parah, Ini 3 Kerugiannya Bagi Timnas Indonesia
-
Asnawi dan Ferarri Dipanggil ke ASEAN All Stars, Mengapa Arhan Tidak? Begini Analisanya!
-
Gemetar Jika ke Liga Inggris, Calvin Verdonk Pilih Main di Liga Petani
-
Juara Piala Asia U-17 2025, Liga Uzbekistan Peringkat Berapa di Asia?
-
Almere City Nyaris Degradasi, 3 Klub yang Cocok untuk Jadi Pelabuhan Thom Haye Musim Depan
Hobi
-
Resmi Jadi Raja Gol, Mampukah Messi Lewati Rekor 16 Gol Miroslav Klose di Piala Dunia 2026?
-
Mentalitas Baja Samurai Biru: Mengapa Jepang Layak Jadi Kuda Hitam Paling Berbahaya
-
Lewis Hamilton Podium ke-106 Bersama Ferrari, Rekornya Makin Tak Tersentuh!
-
Portugal vs Kongo Piala Dunia 2026: Analisis Pemain, Skor dan Taktik Laga
-
Sejarah Tercipta, Wasit Wanita Pimpin Laga di Ajang Piala Dunia 2026
Terkini
-
Jalan yang Membawaku ke Tempat yang Sama
-
Inggris vs Kroasia: Misi 'The Three Lions' Muda Bungkam Senioritas Luka Modric
-
Anti Basic! 4 OOTD Luxury City Boy ala Wooyoung ATEEZ yang Edgy Maksimal
-
Anime Sasaki and Peeps Season 2 Umumkan Tayang Oktober, Rilis Trailer Baru
-
Sisi Gelap Label Introvert yang Bikin Generasi Sekarang Makin Egois