Barisan suporter militan Timnas Indonesia yang tergabung dalam La Grande Indonesia, kembali membuat takjub mata para penggemar sepak bola internasional.
Setelah beberapa waktu lalu berhasil memukau dunia dengan tifo raksasa di laga melawan Bahrain, barisan suporter fanatik skuat Merah Putih itu melakukan hal yang serupa di pertandingan melawan China (5/6/2025).
Menyadur laman Suara.com (5/6/2025), La Grande Indonesia melakukan aksi membanggakan dengan membentangkan tifo raksasa bergambar Gatot Kaca yang tengah merobohkan tembok besar China.
Sejatinya, menafsirkan tifo raksasa di laga antara Indonesia melawan China sebagai Gatot Kaca bukanlah sebuah kesalahan. Namun jika dilihat-lihat, ternyata tifo raksasa hasil karya La Grande Indonesia tersebut juga bisa ditafsirkan menjadi dua hal hal lho.
Penasaran dengan dua makna tifo raksasa yang dibentangkan oleh La Grande Indonesia? Mari kita ulas bersama!
1. Gatot Kaca Merobohkan Tembok Besar China
Makna pertama dari tifo raksasa La Grande Indonesia ini tentu saja seperti yang disampaikan oleh Suara.com dan media-media lainnya, yakni sosok Gatot Kaca yang sukses merobohkan tembok besar China.
Ini adalah sebuah penggambaran, bagaimana kekuatan Indonesia (yang diwakili oleh Gatot Kaca), meruntuhkan kerasnya tembok pertahanan China yang diwakilkan dengan gambaran tembok besarnya.
Hal ini juga bermaknakan sebuah doa di mana Timnas Indonesia yang bertarung melawan China, diharapkan berhasil mengalahkan sang lawan, yang mana terwakili dengan hancurnya keajaiban dunia yang menjadi salah satu identitas dari negeri Asia Timuer tersebut di dunia internasional.
2. Raden Wijaya Menghalau Ekspansi Kaisar China
Makna kedua yang bisa dinisbatkan pada penggambaran tifo raksasa La Grande Indonesia kali ini adalah, penggambaran sejarah ketika Raden Wijaya, sang pendiri kerajaan Majapahit, mengusir ekspansi kaisar China yang datang di masa lampau.
Hal ini juga cukup masuk akal, karena sosok yang digambarkan di tifo tersebut juga mirip seorang bangsawan kerajaan, dengan atribut pakaian dan mahkota yang lengkap.
Hal ini juga diperkuat dengan penggunaan keris yang identik dengan raja, bangsawan atau prajurit di kerajaan-kerajaan Indonesia zaman dahulu.
Terlebih lagi, yang membuat tifo ini bisa ditafsirkan bukan sosok Gatot Kaca adalah, karena yang pertama, sosok tersebut digambarkan tak memakai "Kutang Antakusuma" di punggungnya yang mana menjadi identitas utama tokoh pewayangan tersebut.
Kutang Antakusuma sendiri adalah pakaian yang dipergunakan oleh Gatut Kaca untuk terbang. Dan alasan kedua mengapa tifo tersebut bisa ditafsirkan bukanlah Gatot Kaca adalah, karena sosok tersebut tak memiliki kumis tebal yang selama ini menjadi ciri khas dari seorang Gatot Kaca.
Sehingga, adanya sosok berkharisma bangsawan, memegang keris, tak berkumis, tak menggunakan Kutang Antakusuma dan meruntuhkan tembok besar China, dapat pula diartikan Raden Wijaya menghalau para invader yang datang dari daratan China.
Menyadur berbagai sumber sejarah populer di Indonesia, termasuk di antaranya utas yang ditulis oleh akun X historia.id, Raden Wijaya memang dikisahkan pernah menghalau ekspansi Dinasti Yuan dari China daratan ke Pulau Jawa pada akhir abad ke-13 lalu.
Dari sumber tersebut dituliskan, China yang saat itu dikuasai oleh Mongol, mengirimkan armadanya untuk memberikan hukuman kepada Kertanegara atas penghinaan yang dilakukannya terhadap utusan yag mereka kirim sebelumnya.
Pasukan Mongol saat itu memang berhasil memberikan hukuman kepada Jayakatwang yang mereka sangka sebagai Kertanegara. Namun, Raden Wijaya yang tak menginginkan Tanah Jawa diobrak-abrik atau bahkan dikuasai oleh pasukan dari negeri seberang, menyusun siasat untuk mengusir mereka kembali ke negerinya.
Dan dalam sebuah serangan singkat yang memanfaatkan kelengahan dari Pasukan Mongol pasca meraih kemenangan atas Jayakatwang, Raden Wijaya berhasil mengusir mereka dari wilayahnya.
Menurut historia.id, peristiwa ini sendiri terjadi pada tanggal 31 Mei 1293 di Ujung Galuh, yang mana tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Surabaya.
Dan melalui tifo raksasa tersebut, la grande seolah menggambarkan bagaimana perjuangan Timnas Indonesia yang tengah berupaya keras untuk menghalau invasi pasukan Timnas China, dan memukul mundur mereka sepertimana yang pernah dilakukan oleh Raden Wijaya dulu.
Itulah dua makna yang dapat digambarkan di tifo raksasa dari La Grande Indonesia di laga melawan China. Kira-kira kamu setuju yang mana?
Baca Juga
-
Emansipasi atau Eksploitasi? Menggugat Seremonial Tahunan untuk Kartini di Bulan April
-
Realita Dunia Orang Dewasa: Bekerja Terasa Jauh Lebih Nyaman, Efek Pimpinan Baru yang Pengertian
-
Bagi Sebagian Warga Rembang Asli, Gaji UMR adalah Sebuah Impian dan Pencapaian Prestasi
-
Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
-
Penerapan UU Transfer Daerah dan Nasib Remang Masa Depan PPPK: Efisiensi Berujung Eliminasi?
Artikel Terkait
-
Siapa Damian Van Rensburg? Asisten Kiper Timnas Indonesia di Balik Debut Bagus Emil Audero
-
Striker Langganan STY Tak Dipanggil Patrick Kluiver Berakhir Main Tarkam
-
Mees Hilgers Cekik Pratama Arhan!
-
Indonesia Jadi Tuan Rumah Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026, Apa Untungnya?
-
5 Negara Jago yang Berpotensi Jadi Lawan Timnas Indonesia di Round 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026
Hobi
-
Jadwal F1 GP Miami 2026: Favorit Kimi Antonelli, Akankah Dia Menang Lagi?
-
Sadar Diri, Marc Marquez Mengaku Tak Punya Kekuatan untuk Rebut Gelar Juara
-
Alex Rins Resmi Hengkang dari Yamaha, Didepak Diam-diam?
-
Build Fanny Tersakit 2026: Rekomendasi Item dan Emblem untuk Dominasi Jungle
-
Loyalitas di Tengah Perang: Peran Vital Darijo Srna di Shakhtar Donetsk
Terkini
-
Mengangkat Tema Penyebaran Virus, Ini Sinopsis Film Korea Baru 'Colony'
-
Dampak Tragedi KA di Bekasi Timur: PT KAI Batalkan Belasan Rute Jarak Jauh
-
Ilusi Kuliah Murah: Jerat 'Hidden Expectation' di Balik Brosur Beasiswa
-
Pendidikan sebagai Hak Universal atau Privilege Terselubung?
-
Suara Siswa Sekolah Rakyat: Sekolah Gratis Beneran Tanpa Biaya Tersembunyi?