Perhelatan akbar milik Konfederasi Sepak Bola Dunia bertajuk Piala Dunia FIFA secara resmi telah dimulai. Dua pertandingan grup A, yang mempertemukan Korea Selatan dengan Republik Ceko dan tuan rumah Meksiko yang berhadapan dengan Afrika Selatan, menjadi dua laga pembuka.
Para pencinta sepak bola di seluruh dunia, sejatinya sudah tak asing dengan turnamen empat tahunan milik induk sepak bola dunia tersebut. Dengan status sepak bola sebagai olahraga paling populer di jagat raya, sudah seharusnya perhelatan milik FIFA ini menjanjikan sebuah kemeriahan yang menyentuh segala penjuru dunia dengan atmosfer khas yang dibangunnya.
Namun sayangnya, hingga dua pertarungan usai dan gelaran dibuka secara resmi, kemeriahan yang ditunggu-tunggu justru tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ingar-bingar itu memang tetap ada, namun tak semeriah Piala Dunia edisi-edisi sebelumnya.
Memang, jika melihat dua pertandingan awal yang telah dilakoni, animo suporter untuk hadir secara langsung di lapangan dapat dikatakan cukup besar. Menurut data resmi yang dirilis oleh FIFA, pertandingan antara Meksiko melawan Afrika Selatan yang berlangsung di Estadio Azteca, dijubeli sekitar 80.824 pasang mata.
Sementara pertandingan antara Korea Selatan melawan Republik Ceko di Estadio Akron, Zapopan, tercatat disaksikan oleh 44.985 kepala. Angka puluhan ribu penonton itu memang cukup besar. Tapi sayangnya angka itu tak bisa menyembunyikan fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa masih ada ribuan bangku kosong yang tak memiliki tuan di dua laga itu.
Jika kita membaca match report resmi yang dirilis oleh FIFA, Estadio Akron tempat bertarungnya Korea Selatan dan Republik Ceko sendiri memiliki kapasitas 49.813. Dengan jumlah penonton laga yang berada di angka 44 ribu, maka di laga tersebut ada sekitar lima ribuan kursi kosong dan tak berpenghuni.
Kemudian di Estadio Azteca, status tuan rumah yang disandang oleh Meksiko ternyata juga tak menyelamatkan stadion dari adanya kursi kosong. Memang, jumlah penonton di laga ini mencapai lebih dari 80 ribu penonton, namun patut untuk dicatat stadion kebanggaan rakyat Meksiko ini memiliki kapasitas 87.523 tempat duduk, yang mana hal itu menunjukkan ada sekitar enam ribuan kursi kosong dan tak berpenghuni di laga melawan Afrika Selatan.
Belum Ada Atmosfer Piala Dunia yang Terbangun seperti Dulu
Kosongnya ribuan kursi di dalam stadion pada dua pertandingan awal seolah mewakili kondisi dunia saat ini. Secara global, animo dunia dalam menyambut turnamen bergengsi kali ini tak semeriah edisi-edisi sebelumnya. Atmosfer bahwa Piala Dunia 2026 berlangsung, dapat dikatakan belum sepenuhnya terlihat layaknya yang sudah-sudah
Padahal, secara logika, Piala Dunia 2026 kali ini seharusnya menjadi salah satu event yang paling sering dibahas mengingat betapa majunya teknologi yang kita punya saat ini. Terlebih lagi, jumlah negara yang lolos ke putaran final tahun ini juga semakin banyak.
Jika di edisi sebelumnya hanya 32 negara saja yang ikut serta di putaran final, untuk tahun ini meningkat menjadi 48 negara. Maka secara perhitungan, bertambahnya jumlah kontestan di final tournament kali ini seharusnya diikuti pula dengan maraknya lalu-lintas pembahasan Piala Dunia, setidaknya di dunia maya karena grand total rakyat negara-negara peserta gelaran mengalami peningkatan.
Namun, sayangnya apa yang saya tulis sebagai hal penunjang di atas tak sepenuhnya mengangkat Piala Dunia 2026 menjadi sebuah euforia untuk seluruh kalangan. Memang benar ada iklan-iklan yang berseliweran di media, namun hal itu tak semasif yang turnamen sebelumnya dan tak lagi menarik untuk diperhatikan dengan sungguh-sungguh.
Sehingga, meskipun pada akhirnya di belahan dunia lain sana ada pagelaran akbar sekelas Piala Dunia, kebanyakan orang masih tak menggubris serta tak begitu menaruh atensi maupun antusiasme yang tinggi dan menjalani hari-hari seperti biasanya.
Padahal, saya masih ingat dalam samar-samar ingatan masa kecil saya, ketika gelaran Piala Dunia edisi 1994 lalu orang-orang di sekitar saya sudah heboh mencari jadwal, mencatatnya dalam kertas kecil seadanya untuk kemudian disaksikan secara bersama-sama di rumah tetua atau warga yang memiliki televisi.
Pun demikian halnya dengan Piala Dunia edisi tahun 1998. Berbulan-bulan sebelum gelaran dimulai, banyak orang tua, remaja maupun anak-anak kecil seusia saya yang memburu koran hanya demi bisa mendapatkan jadwal pertandingan Piala Dunia di Prancis kala itu. Selama berbulan-bulan sebelum penyelenggaraan, Piala Dunia 1998 memang sudah ramai dibahas oleh berbagai media, baik cetak maupun elektronik dan menjadi topik utama hampir di setiap tongkrongan.
Bahkan, di usia yang saat itu masih awal-awal belasan tahun, saya sudah ikut berburu kartu khusus bergambar para pemain sepak bola dunia, yang kala itu menjadi hadiah dalam setiap kemasan bungkus rokok di warung jualan ibu saya.
Euforia bergulirnya Piala Dunia selalu saya rasakan hingga saya remaja dan beranjak dewasa. Tahun 2002 hingga 2014, saya masih merasakan atmosfer itu melalui suasana nonton bareng di depan pasar hampir setiap hari.
Kemudian pada edisi 2018, saya juga masih merasakan atmosfer nonton bareng keluarga besar dan pembahasan laga-laga Piala Dunia bersama teman-teman di lingkungan kerja saya.
Sementara di tahun 2022 kemarin, saya juga masih bisa merasakan atmosfer itu karena banyaknya ajakan untuk nonton bareng di grup-grup pertemanan maupun kedinasan meskipun guliran belum dilangsungkan.
Sementara saat ini? Terus terang saya merasa tak ada atmosfer gelaran Piala Dunia seperti yang sudah-sudah. Ketika saya kecil dulu, anak-anak seusia saya sudah heboh memilih jagoannya masing-masing, membahas tim-tim idolanya di sekolah, hingga membeli jersey dan berburu pernak-pernik yang berhubungan dengan Piala Dunia, kali ini sudah tak ada lagi yang seperti itu. Jangankan mengikuti, anak-anak sekarang bahkan mungkin tak mengetahui apa itu Piala Dunia FIFA.
Lantas mengapa hal ini terjadi? Tentu saja ada banyak hal yang menyebabkan turunnya animo dunia menyambut turnamen bintang lima milik FIFA ini. Kondisi ekonomi dan geopolitik dunia yang sedang tak baik-baik saja, menjadi salah satu penyebab utama mengapa gelaran kali ini tak banyak mendapatkan porsi promosi dari media seperti sebelum-sebelumnya karena dinilai berpotensi tak menghasilkan revenue yang seimbang.
Imbasnya? Tentu saja atmosfer Piala Dunia tak terbangun di khalayak ramai karena tak banyak dari mereka yang akhirnya tahu ada gelaran sebesar Piala Dunia. Padahal kita tahu, atmosfer Piala Dunia sendiri terbangun dengan baik salah satunya karena pembahasan-pembahasan yang dilakukan oleh penikmat sepak bola di tataran akar rumput seperti ini.
Namun hal itu tak terjadi saat ini. Sehingga tak mengherankan jika tak ada sambutan yang riuh, meski genderang pertarungan antarnegara di Piala Dunia edisi 2026 ini sudah dengan keras ditabuh.
Kita harapkan, semoga saja seiring dengan bergulirnya turnamen, animo warga dunia semakin meningkat dan atmosfer-atmosfer Piala Dunia kembali tumbuh dan menggema seperti yang sudah-sudah.
Baca Juga
-
Harga Pertamax Naik, Rakyat Kecil Kini 'Dipaksa' Olahraga Gratis di SPBU
-
Kesakralan Bulan Juni dan Pandangan Sederhana Saya Terkait Kesempurnaan Ide Pancasila
-
Visi Tinggi Presiden Prabowo dan Krisis Literasi Nasional yang Menjadi Karang Penghalang Besar
-
'Oleh-Oleh' Presiden Prabowo dari Luar Negeri: Antara Visi Visioner dan Mimpi Buruk Guru di Sekolah
-
Surga Jalur WNI Itu Memang Nyata, Kali Ini Lewat Sapi-Sapi Kurban Presiden
Artikel Terkait
-
Thibaut Courtois Pertimbangkan Pensiun dari Timnas Belgia usai Piala Dunia 2026
-
Penyebab Investor Asing Malas Masuk ke Pasar Saham RI, Karena Judi Bola Piala Dunia?
-
Piala Dunia 2026: Hasrat Besar Haiti untuk Kejutkan Brasil
-
Nonton Piala Dunia 2026 Gratis di Mana? Pemilik TV Lama Jangan Buru-buru Beli Baru
-
Aksi Simpatik Timnas Jerman, Joshua Kimmich Cs Tanggung Biaya Transportasi Suporter
Hobi
-
The Last Dance! Messi dan Ronaldo Berpotensi Jalani Piala Dunia Terakhir
-
Wajib Tahu! Ini 4 Perubahan Aturan yang Akan Diterapkan di Piala Dunia 2026
-
Motor 3 Roda? Harley-Davidson Perkenalkan CVO Street Glide 3 Limited 2026
-
Piala Dunia 2026 Disebut yang Terbesar Sepanjang Masa, Ini Alasannya!
-
Sejarah Baru! Piala Dunia 2026 Gebrak Dunia dengan 3 Tuan Rumah dan 48 Tim Peserta
Terkini
-
Pilih HP POCO X8 Pro atau Infinix GT 50 Pro? Inilah Perbandingan Detailnya
-
ARTJOG 2026 Angkat Tema Regenerasi, Hadirkan Ruang Bertemunya Beragam Generasi dalam Dunia Seni
-
Masih Hangat, Tecno Pova 8 Resmi Meluncur 11 Juni: Usung Alive Matrix Display dan Dimensity 7100
-
Menyusuri Lorong Rindu dalam Antologi Puisi Bertemu di Temaram
-
Tinggalkan Dunia Hiburan, Aktor Ahn Chang Hyun Pilih Jadi Pemadam Kebakaran