Sebagai penjaga gawang utama Timnas Indonesia U-23, nama Cahya Supriadi kian mencuri perhatian. Di usia muda, ia telah menunjukkan kualitas yang menjanjikan dan menjadi andalan dalam berbagai kompetisi internasional.
Lahir di Karawang pada tahun 2003 lalu, Cahya memulai perjalanan sepak bolanya dari SSB Tunas Pupuk Kujang di Cikampek. Dari lapangan-lapangan kecil di kampung, ia menapaki jalan panjang yang tak pernah ia sangka akan membawanya ke panggung nasional.
Perjalanan Cahya bukan tanpa alasan emosional. Ia mengungkapkan bahwa sang kakak lah yang pertama kali membuka jalannya untuk serius menekuni sepak bola.
“Melihat saya seperti itu, kakak saya langsung mendaftarkan saya ke SSB,” kata Cahya mengenang masa kecilnya, mengutip kitagaruda.id.
Sayangnya, sang kakak kini telah tiada. Namun, semangat dan inspirasinya masih tertanam kuat dalam diri Cahya.
"Beliau sudah meninggal, tapi inspirasinya masih membekas. Saya sering melihat dia jatuh bangun di lapangan. Dari situ saya mulai sadar bahwa sepak bola bukan cuma permainan, tapi juga bisa jadi tanggung jawab dan masa depan," imbuhnya.
Usai menimba ilmu dasar di Cikampek, Cahya melanjutkan langkah besarnya ke Jakarta saat berusia 13 tahun. Ia diterima di Ragunan Soccer School, tempat yang telah melahirkan banyak pemain nasional.
Di sana, Cahya belajar banyak hal. Mulai dari teknik, disiplin, hingga daya juang. Ia mulai dikenal saat tampil di ajang kompetitif seperti Liga TopSkor dan Liga Kompas, dua turnamen elite usia muda di tanah air.
Cahya Supriadi dan Tekad Bulat Demi Timnas Indonesia
Perjalanan karier Cahya terus menanjak ketika ia bergabung dengan Persija Jakarta, klub besar yang membuka banyak peluang baginya. Di sana, ia bertemu dan bersaing langsung dengan idolanya, Andritany Ardhiyasa.
“Itu mimpi yang jadi kenyataan. Saya sering nonton dia sejak kecil. Bisa satu tim dan bersaing dengannya jadi salah satu pencapaian besar buat saya,” urai Cahya.
Pencapaian besar lain pun datang saat ia tampil membela Timnas Indonesia U-20 di Toulon Tournament 2022 di Prancis. Dalam turnamen ini, Indonesia berhadapan dengan tim-tim kuat seperti Ghana, Venezuela, Meksiko, hingga Aljazair.
Ajang tersebut dinilai memberikan pengalaman luar biasa yang sulit untuk dilupakan. Lantaran para pemain mendapat pelajaran berharga dari pertandingan melawan negara-negara besar.
Tak hanya di Prancis, Cahya juga memperkuat skuad Garuda Muda di ajang Piala AFF 2022. Konsistensinya membuatnya terus dipanggil ke Timnas di kelompok usia berikutnya.
Kini, Cahya Supriadi menjadi pilihan utama di bawah mistar Timnas U-23 Indonesia dan berperan penting dalam persiapan tim menuju ASEAN U23 Championship Mandiri Cup 2025.
Statistik yang ia torehkan pun tak bisa dianggap remeh. Saat bermain di Liga 2 bersama Bekasi FC, ia mencatatkan 5 clean sheet dari 9 pertandingan. Hanya 5 gol bersarang ke gawangnya, dan timnya hanya sekali kalah saat ia tampil.
Performa tersebut menjadi alasan kuat mengapa pelatih mempercayainya sebagai kiper utama Timnas Indonesia U-23, termasuk saat tampil di Piala AFF U-23 2025 mendatang.
Cahya dikenal punya refleks yang cepat, pengambilan keputusan yang baik, serta ketenangan yang langka dimiliki oleh pemain seusianya. Ia tak gentar di bawah tekanan dan selalu tampil penuh konsentrasi di setiap pertandingan.
Kini, sang penjaga gawang resmi bergabung dengan PSIM Yogyakarta untuk menghadapi musim Super League 2025/2026. Meski demikian, ia masih mengikuti pemusatan latihan Timnas dan tetap mengutamakan tugas negara.
“Saya ingin terus dipercaya di Timnas, baik di level muda maupun senior. Itu target saya, terus berproses, berkembang, dan memberikan yang terbaik untuk negara ini,” tandasnya.
Baca Juga
-
Final ASEAN Futsal: Suoto Jamin Timnas Indonesia Tak Minder Hadapi Thailand
-
Akui Kelalaian, Fantagio dan Cha Eun Woo Minta Maaf soal Kontroversi Pajak
-
Penuh Visi, John Herdman Dorong Transformasi Sistem Pembinaan Usia Dini
-
PSSI Buka Suara soal Kasus 'Paspor Gate', Naturalisasi Pemain Tetap Sah?
-
John Herdman Dinilai Terapkan Gaya Baru untuk Timnas Indonesia
Artikel Terkait
Hobi
-
9 Seri tanpa Kemenangan, Marc Marquez Terkena Kutukan Usai Juara Dunia?
-
Menanti Debut Tim Geypens di Timnas: Terganjal Polemik Paspor atau Kalah Saing dari Calvin Verdonk?
-
Akankah Max Verstappen Tinggalkan Red Bull? Ucapan Lama soal GP Kembali Disorot
-
Alex Rins Makin Bingung dengan Motornya, Yamaha Sudah Rekrut Ai Ogura?
-
Bobot Nyaris 300 Kg Tapi Tetap Lincah Menikung? Intip Rahasia Suspensi Gila Yamaha Niken GT
Terkini
-
Novel Berburu NIP: Perjuangan Mengejar Angka di Balik Seragam Cokelat
-
Anime We Are Aliens Tampil di Cannes, Film Kolaborasi Jepang-Perancis
-
Drama The Witch: Antara Kutukan dan Luka yang Diciptakan Manusia
-
Bye-Bye Rambut Tipis! Ini 5 Sampo Rosemary yang Ampuh Menumbuhkan Rambut
-
K &TEAM Terpilih Perankan Seishiro Nagi dalam Film Live Action Blue Lock