Sekar Anindyah Lamase | Rana Fayola R.
Pelatih timnas Indonesia, John Herdman. (Dok. PSSI)
Rana Fayola R.

John Herdman baru saja memulai langkah besarnya bersama skuad Garuda, namun ia langsung menyoroti bahwa masa depan sepak bola kita sangat bergantung pada pembinaan usia muda dan kualitas pelatih yang menanganinya. Ia menilai, fondasi yang kuat tidak bisa dibangun hanya dengan fokus pada level senior saja.

Langkah awal Herdman di Indonesia memang tergolong manis. Pada debutnya di ajang FIFA Series tanggal 27 Maret 2026, ia berhasil membawa Timnas Indonesia meraih kemenangan telak 4-0 atas Saint Kitts and Nevis di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Kemenangan perdana ini menandai dimulainya era baru yang penuh dengan harapan. Publik sepak bola tanah air melihat ada sentuhan magis yang dibawa oleh pelatih asal Inggris tersebut ke dalam permainan tim nasional.

Kecerdasan Herdman dalam membaca permainan lawan mendapat pujian luas dari para pengamat sepak bola. Ia dinilai mampu memaksimalkan potensi pemain yang ada untuk menjalankan instruksi taktiknya di lapangan.

Berkat kemenangan tersebut, posisi Indonesia di ranking FIFA melonjak naik ke peringkat 120. Hasil positif ini juga mengantarkan skuad Garuda melaju ke babak final untuk menantang kekuatan Bulgaria.

Sebagai sosok yang pernah meloloskan Kanada ke Piala Dunia 2022, Herdman kini mulai membangun fondasi jangka panjang. Misinya sangat jelas, yakni membawa Indonesia bersaing di level tertinggi menuju tahun 2030.

Strategi Akar Rumput dan Visi Jangka Panjang

Namun, di balik kesuksesan debutnya, Herdman secara blak-blakan menyampaikan pandangan kritisnya kepada Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Ia menyoroti sektor pembinaan yang menurutnya masih perlu perhatian khusus.

Merujuk suara.com, Herdman menegaskan bahwa konsistensi prestasi di kancah global berakar dari sistem pengembangan akar rumput yang berkelanjutan. Ia mendesak federasi untuk berani menempatkan pelatih dengan kualifikasi terbaik pada kelompok umur.

"Pelatih terbaik seharusnya ditempatkan di kelompok usia muda," kata John Herdman dilansir dari unggahan Instagram Erick Thohir.

Pernyataan ini menjadi alarm bagi sistem kepelatihan di tanah air. Lebih spesifik lagi, Herdman memberikan penekanan pada rentang usia yang paling krusial bagi perkembangan pemain.

"Khususnya di level U-17 dan U-15," tambahnya memberikan penekanan khusus pada rentang usia krusial tersebut.

Ia menilai bahwa melatih pemain muda memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi dibandingkan melatih pemain profesional. Dibutuhkan kejelian luar biasa untuk mengidentifikasi bakat mentah yang belum sepenuhnya mekar.

"Pelatih terbaik sering kali bekerja dengan pemain yang levelnya paling dasar," terangnya. Bagi Herdman, tantangan sebenarnya adalah bagaimana membentuk pemain yang potensinya belum terlihat jelas menjadi bintang masa depan.

"Dengan potensi yang belum terlihat jelas, di situ tantangan sebenarnya," lanjut Herdman membeberkan alasan teknisnya.

Masukan tersebut disambut positif oleh Erick Thohir yang merasa visi tersebut sejalan dengan rencana besar federasi. Lebih jauh, dukungan untuk merealisasikan gagasan Herdman ini juga dipastikan datang dari Direktur Teknik PSSI, Alexander Zwiers. Sinergi antara pelatih kepala, federasi, dan direktur teknik diharapkan mampu menciptakan ekosistem pembinaan yang akan melahirkan generasi emas sepak bola Indonesia secara konsisten di masa depan.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS