Pedro Acosta semakin membuktikan bahwa ia bukan sekadar pembalap muda yang kebetulan masuk ke ajang MotoGP. Meski usianya masih sangat belia, dalam dua musim pertamanya di kelas utama ia sudah berani tampil menantang para senior yang jauh lebih berpengalaman.
Tahun lalu, dia finis di P6 klasemen akhir dengan 5 kali podium dan 1 kali pole position. Sementara sejauh ini di musim 2025, dia berhasil meraih 2 podium.
Hasilnya memang belum sepenuhnya konsisten, kadang ia tampil menawan, kadang sedikit goyah, tapi bakat besarnya jelas terlihat dari cara ia meladeni duel di lintasan. Banyak pengamat percaya, cepat atau lambat Acosta akan menjadi salah satu wajah utama MotoGP di masa depan.
Saat ini, Acosta masih membela tim KTM, sebuah tim yang mulai menunjukkan peningkatan, tetapi kerap tersandung masalah teknis. Motor KTM kadang memberi kejutan positif dengan kecepatan luar biasa, tapi tak jarang juga menyulitkan pembalapnya karena berbagai kendala.
Kondisi inilah yang membuat potensi Acosta belum maksimal. Banyak pihak menilai, mungkin jika dibekali dengan motor yang lebih stabil dan sesuai dengan gaya balap agresifnya, Acosta bisa langsung berubah menjadi penantang serius dalam perebutan gelar dunia.
Situasi tersebut memunculkan spekulasi mengenai masa depannya. Tak sedikit orang yang menyarankan Acosta untuk pindah ke pabrikan lain. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa pembalap asal Spanyol ini tengah dilirik oleh Honda.
Pabrikan asal Jepang itu kabarnya siap menaruh dana besar demi menggaet talenta muda tersebut. Bagi Honda, merekrut Acosta akan menjadi langkah besar untuk membangun kembali potensi mereka setelah beberapa musim terpuruk. Namun, tawaran uang fantastis rupanya tidak membuat Acosta tergoda begitu saja.
Dalam salah satu pernyataannya, Acosta menekankan bahwa bagi dirinya, uang bukanlah segalanya. Ia menegaskan tidak akan puas hanya sekadar duduk di atas motor tanpa kesempatan menang.
Baginya, esensi balapan adalah bersaing untuk podium, bukan sekadar menjadi peserta. Jika harus memilih antara gaji besar dengan motor yang tidak kompetitif, Acosta mengaku lebih baik tinggal di rumah daripada hanya sekadar menjadi pembalap pelengkap di grid.
"Anda menghabiskan 22 minggu dalam hidup Anda, lebih banyak latihan, lebih banyak tekanan, lebih banyak komitmen, lebih banyak hal lainnya, yang membuat Anda hanya punya sedikit waktu libur dalam setahun. Dan kalau kamu datang bukan dengan tujuan menang, tapi untuk berkeliling dunia naik motor. Untuk itu aku akan diam saja di rumah," ujar Acosta, dilansir
Ucapan itu mencerminkan betapa besar ambisinya untuk benar-benar menjadi juara, bukan sekadar mengumpulkan pundi-pundi uang.
Meski demikian, semua spekulasi tentang masa depannya masih harus menunggu waktu. Acosta masih memiliki kontrak dengan KTM hingga akhir musim 2026. Itu berarti setidaknya dua musim ke depan ia masih akan terus menjadi bagian dari proyek KTM, terlepas dari rumor yang mengaitkannya dengan tim lain.
Bagi Acosta sendiri, masa depan memang penting, tetapi saat ini fokus utamanya adalah bagaimana tetap berkembang bersama tim yang telah memberinya kesempatan besar sejak awal karier.
Apapun yang terjadi nanti, Pedro Acosta sudah memberikan sinyal bahwa ia adalah pembalap dengan bakat yang istimewa. Ditambah lagi dengan ambisi yang kuat serta keberanian untuk menantang para senior membuatnya pantas disebut sebagai calon bintang besar MotoGP.
Tinggal menunggu waktu dan momen yang tepat, sebelum akhirnya dunia benar-benar menyaksikan lahirnya idola baru, penerus Marc Marquez dan Valentino Rossi.
Baca Juga
-
Blak-Blakan, Pedro Acosta Klaim Marc Marquez Setara dengan Valentino Rossi
-
Kagum, Marco Bezzecchi Puji Hasil dan Kerja Keras Jorge Martin Musim Ini
-
Fermin Aldeguer Ogah Jadi Rekan Setim Marc Marquez: Seperti di Neraka!
-
Alex Marquez Melempem di 2 Seri Terakhir, Tak Cocok dengan Sirkuitnya?
-
Legowo, Franco Morbidelli Tak Keberatan Digeser Pedro Acosta di VR46 Racing
Artikel Terkait
-
Honda Dream Cup 2025 Sidrap, Panggung Aksi Pebalap Muda dan Debut Vario 160
-
Blak-Blakan, Pedro Acosta Klaim Marc Marquez Setara dengan Valentino Rossi
-
Kagum, Marco Bezzecchi Puji Hasil dan Kerja Keras Jorge Martin Musim Ini
-
Fermin Aldeguer Ogah Jadi Rekan Setim Marc Marquez: Seperti di Neraka!
-
HDC Tour 2025 Sambangi Sekolah, Edukasi Dunia Balap yang Positif
Hobi
-
Ketika Futsal Menjadi Media Broadcasting Alternatif Generasi Z
-
Naturalisasi Mauro Zijlstra Pengaruhi Dinamika Timnas Indonesia, Mengapa?
-
Strategi Membangun Popularitas Futsal di Era Media Sosial
-
Pilih Gabung Persib, Nasib Thom Haye Bisa Seperti Jordi Amat di Timnas?
-
Menggali Akar Budaya Melalui Komunitas Futsal Lokal
Terkini
-
Review Film Siapa Dia: Perjalanan Epik Sinema Indonesia!
-
Gelombang Aksi Kian Memanas, Bayang-Bayang Tragedi 1998 Kembali Terngiang
-
Permintaan Maaf Uya Kuya Tak Redakan Amarah, Massa Geruduk Rumah di Jakarta Timur
-
Vivo V60 Resmi Rilis, Andalkan Kamera Telefoto ZEISS dan Snapdragon 7 Gen 4
-
Harta Kekayaan Ahmad Sahroni vs Eko Patrio: Dari Sopir dan Pelawak Jadi Politisi Tajir