Sekar Anindyah Lamase | e. kusuma .n
Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi (PBSI)
e. kusuma .n

Kompetisi bulu tangkis Indonesia kembali menarik perhatian setelah Pelatih ganda putri Pelatnas PBSI, Karel Mainaky, melakukan perombakan komposisi pasangan ganda putri di awal tahun 2026.

Keputusan besar menjelang Indonesia Masters 2026 ini bukan sekadar rotasi biasa, tetapi langkah strategis setelah evaluasi menyeluruh terhadap performa di musim sebelumnya. Perombakan ini bahkan melibatkan pemisahan kembali Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti.

Bukan cuma Apri/Fadia, pasangan racikan baru, Lanny Tria Mayasari/Amallia Cahaya Pratiwi yang sebelumnya sempat turun di turnamen BWF juga kena dampaknya. Dalam komposisi baru, Apriyani dipasangkan dengan Lanny, sementara Fadia diduetkan dengan Tiwi.

Performa 2025 Belum Memenuhi Ekspektasi

Alasan utama perombakan sektor ganda putri tampaknya tidak lepas dari performa di tahun 2025 yang belum memenuhi ekspektasi pelatih dan PBSI. Hasil evaluasi di sepanjang musim BWF World Tour 2025 memang belum mencapai target yang diharapkan.

Coach Karel sendiri menyatakan kalau pihak pelatih sudah memberi kesempatan bagi pasangan Apri/Fadia maupun Lanny/Tiwi untuk tampil, tetapi hasilnya belum memuaskan secara konsisten.

“Kami sudah memberikan kesempatan beberapa pertandingan kepada Apri/Fadia dan Lanny/Tiwi tapi hasilnya belum memuaskan dan saya kira sudah tidak bisa lagi diteruskan. Sebagai pelatih saya harus cepat mengambil keputusan jadi saya kembali putar menjadi Fadia/Tiwi dan Apri/Lanny,” ungkap Karel.

Pertimbangan Kebutuhan Teknis Individu Pemain

Coach Karel juga menekankan pertimbangan teknis menjadi faktor lain di balik perombakan pasangan ganda putri. Setiap pemain memiliki kekuatan tertentu yang bisa lebih optimal bila dipasangkan dengan partner yang tepat.

Menurut penjelasan pelatih, Fadia membutuhkan pasangan dengan postur dan kekuatan serangan dari belakang lapangan, seperti Tiwi yang punya power kuat. Di sisi lain, Apri, memerlukan partner yang bisa mendukung rotasi permainan dengan daya dobrak yang kuat.

“Pertimbangannya Fadia lebih membutuhkan yang punya power di belakang dan Tiwi punya kelebihan itu sementara Apri sekarang membutuhkan pasangan yang bisa rotasi dan juga punya power, Lanny saya rasa bisa mengisi pos tersebut,” jelas adik Rionny Mainaky tersebut.

Mendorong Persaingan Internal yang Lebih Ketat

Langkah tim pelatih ganda putri Pelatnas PBSI ini juga punya maksud strategis jangka menengah. Dengan membentuk komposisi baru, pelatih berharap ada persaingan internal yang lebih sehat di sektor ganda putri.

Duet baru ini akan bersaing dengan pasangan lain seperti Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum dan Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari yang tampil cukup konsisten dengan meraih hasil positif di tahun 2025.

“Untuk pertandingan pertama setidaknya di Daihatsu Indonesia Masters 2026 nanti, harapan saya ya mereka bisa menyamai atau bahkan kalau bisa melebihi dua pasangan lainnya yang sudah lumayan progress-nya, Ana/Trias dan Rachel/Febi,” imbuhnya.

Menurut Karel, persaingan internal yang kompetitif akan memacu semua pasangan untuk terus berkembang, bukan hanya mengandalkan nama besar atau pengalaman semata. Hal ini dianggap penting dalam upaya mencetak prestasi di turnamen BWF World Tour 2026 dan Asian Games.

“Jadi persaingannya bisa lebih bagus, untuk mau tembus ke atas lagi. Kalau dalam sini ada persaingan yang lebih ketat akan mendukung untuk bisa tembus lagi ke atas,” tambah Karel.

Siap Debut di Turnamen Bergengsi Indonesia Masters 2026

Dua pasangan anyar ini dijadwalkan menjalani debut mereka di Daihatsu Indonesia Masters 2026 pada 20–25 Januari 2026 mendatang. Turnamen Super 500 ini menjadi ajang pembuktian awal bagi duet Fadia/Tiwi dan Apri/Lanny.

Perubahan ini tentu menjadi sorotan suporter badminton Indonesia, karena sektor ganda putri sempat menjadi tulang punggung prestasi tim Merah Putih di berbagai turnamen dunia.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS