Sejak kecil, Nara tahu satu hal tentang ibunya: mereka sama-sama keras kepala. Ramadan selalu mempertemukan mereka dalam dua hal yang bertolak belakang—kehangatan dan perdebatan.
“Bangun, Nara. Sahur,” suara Ibu mengetuk pintu kamar pukul tiga dini hari.
“Lima menit lagi, Bu…” gumam Nara sambil menarik selimut.
“Lima menitmu itu setengah jam.”
Nara menghela napas panjang, bangun dengan wajah masam. Di meja makan, Ibu sudah menyiapkan sayur bening dan telur dadar. Semuanya sederhana, tapi selalu hangat.
“Makannya yang banyak. Jangan cuma minum teh,” kata Ibu tanpa menatap.
“Aku nggak terlalu lapar.”
“Nanti siang kamu lemas, terus salahin puasa.”
Nada Ibu terdengar seperti ceramah. Nara menggigit bibirnya. “Ibu tuh selalu ngatur.”
Sendok berhenti berdenting. “Kalau Ibu nggak ngatur, siapa lagi?” pungkas Ibu dengan kalimat yang membuat udara mendadak kaku.
Nara tahu Ibu hanya khawatir. Tapi setiap kali mendengar nada yang terasa seperti perintah, dadanya langsung penuh bantahan. Mereka seperti dua cermin yang memantulkan keras kepala masing-masing.
Siang itu, sepulang kuliah, Nara mendapati Ibu sedang menyetrika di ruang tengah. Televisi menayangkan ceramah Ramadan dengan suara pelan.
“Ibu kenapa nggak istirahat aja?” tanya Nara, sedikit lebih lembut.
“Kalau nggak sekarang, nanti keburu banyak.”
Nara ingin membantu, tapi gengsinya lebih dulu berdiri. Ia masuk kamar tanpa berkata apa-apa.
Menjelang magrib, perdebatan kecil kembali muncul.
“Aku bukber sama teman-teman malam ini, Bu.”
“Bukannya kemarin sudah?” Ibu bertanya.
“Itu beda circle,” sahut Nara.
“Ramadan itu bukan cuma soal kumpul-kumpul.”
Nara memutar mata. “Aku tahu, Bu. Aku juga puasa.”
“Ibu cuma ingetin.”
“Selalu ingetin. Seolah-olah aku nggak ngerti apa-apa.”
Ibu terdiam. Wajahnya terlihat lelah. “Ibu cuma takut kamu kebanyakan di luar. Sekarang sudah beda zamannya.”
“Aku bukan anak kecil.”
Suara klakson kendaraan Lita, sahabat Nara, memotong perdebatan mereka. Sunyi turun di antara dua hati yang sama-sama panas. Nara mengambil paksa tangan ibunya dan buru-buru menghampiri Lita, meninggalkan wanita paruh baya itu dalam diam.
Nara tetap pergi bukber sesuai rencana. Namun pikirannya tak sepenuhnya di meja makan kafe. Ia teringat wajah Ibu yang tertunduk tadi. Ia juga teringat tangan ibunya yang sempat terekam di pikiran, terlihat keriput.
Saat pulang, rumah sudah gelap. Lampu ruang tengah masih menyala. Ibu tertidur di sofa, televisi masih menayangkan siaran tadarus.
Nara menatap wajah Ibu yang mulai menunjukkan tanda-tanda termakan usia. Ada lelah yang tak pernah benar-benar ia perhatikan. Ada perhatian yang sering ia artikan sebagai larangan.
Lalu, pandangan Nara beralih ke meja, ada sepiring kolak yang ditutup tudung saji kecil. Untuk Nara. Hatinya seperti diremas pelan.
Ia mendekat, melihat Ibu yang tertidur dengan sajadah masih terlipat di pangkuan. Mungkin Ibu menunggu hingga ia pulang.
Perdebatan mereka terasa kecil dibanding perhatian yang tak pernah absen. Nara mengambil selimut tipis dan menyelimutkan tubuh Ibu. Saat itulah mata Ibu terbuka.
“Kamu sudah pulang?”
“Iya, Bu. Maaf ya, tadi aku ngomel.”
Ibu tersenyum tipis. “Ibu juga kadang terlalu banyak ngomel.”
Mereka tertawa kecil, canggung tapi hangat.
“Aku tahu Ibu cuma khawatir,” Nara melanjutkan. “Kadang aku cuma… pengen dipercaya.”
“Ibu percaya,” jawab Ibu pelan. “Cuma belum terbiasa melepas.”
Kalimat itu membuat Nara menelan haru.
Ramadan selalu mengajarkan tentang menahan diri. Menahan lapar, menahan haus, menahan amarah. Tapi malam itu, Nara belajar menahan ego. Ia pun lantas duduk di samping Ibu.
“Besok sahur bareng lagi ya, Bu. Jangan cuma bangunin terus ditinggal.”
Ibu tersenyum lebih lebar. “Kalau kamu bangunnya nggak pakai drama lima menit.”
“Ya ampun, Ibu…” Nara menggeleng sambil tertawa.
Di luar, angin malam membawa suara orang-orang pulang dari tarawih. Di dalam rumah itu, dua perempuan dengan sifat keras kepala yang sama akhirnya saling memahami sedikit lebih dalam.
Mereka mungkin akan tetap berdebat. Tentang sahur, tentang bukber, tentang hal-hal kecil yang terasa besar. Namun di antara azan dan air mata, ada cinta yang tak pernah benar-benar pergi.
Ramadan tidak membuat mereka sempurna. Tapi Ramadan mengajarkan mereka satu hal: kadang, yang perlu ditahan bukan hanya lapar, melainkan ego agar sayang bisa terdengar lebih jelas.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Belajar dari China, Sampah Makanan MBG Berpotensi Jadi Biodiesel
-
Manchester Is Red! MU Naik ke Peringkat 4 usai Terus Menang
-
Paspor Kuat Itu Bukan Cuma soal Visa: Tentang Privilege dan Martabat Global
-
Kartu Pokemon Milik Logan Paul Laku Fantastis, Tembus Rp277 Miliar
-
Kritik Kebijakan Jadi Pelanggaran HAM? Logika Terbalik Menteri Pigai