Hayuning Ratri Hapsari | zahir zahir
Shayne Pattynama saat gabung Persija. (instagram.com/@s.pattynama)
zahir zahir

Fenomena banyaknya pemain diaspora dan naturalisasi yang ramai-ramai melanjutkan karier di liga Indonesia tentunya cukup disorot oleh banyak pihak.

Beberapa nama pemain naturalisasi timnas Indonesia seperti Thom Haye, Eliano Reijnders, Jordi Amat, Shayne Pattynama, Jens Raven, Rafael Struick, dan Dion Makrx membuat langkah mengejutkan dengan memilih berkarier di liga Indonesia.

Fenomena ini tentunya menimbulkan pro dan kontra di berbagai kalangan terkait keputusan beberapa pemain naturalisasi tersebut yang memutuskan berkarier di liga Indonesia. Pasalnya, sebagian besar dari nama-nama tersebut masih berada pada masa usia puncak pesepak bola dan tak sedikit yang masih berusia cukup muda.

Situasi ini juga disorot oleh pengamat sepak bola nasional, yakni Tony Ho. Melansir dari akun Instagram @arsiptimnas, mantan pelatih klub Persipura Jayapura tersebut menyebut banyaknya pemain naturalisasi yang memutuskan berkarier ke liga Indonesia adalah sebuah bukti mereka tak mampu bersaing di benua Eropa.

“Bagi pemain naturalisasi yang sudah memilih main di Super League, itu menandakan mereka sebenarnya sudah tidak laku lagi di liga-liga Eropa,” ujar Tony Ho.

Pernyataan yang dilontarkan oleh Tony Ho memang cukup menimbulkan pro dan kontra di beberapa kalangan. Pasalnya, ada beberapa pihak yang mendukung eksodus para pemain diaspora tersebut di liga Indonesia dengan dalih meningkatkan kualitas kompetisi. Namun, tak sedikit pula yang memberikan kritik karena hal ini dikhawatirkan akan menurunkan performa timnas Indonesia ke depannya.

Lebih lanjut lagi, Tony Ho juga menyoroti dua nama punggawa timnas Indonesia, yakni Elkan Baggott dan Marselino Ferdinan. Menurutnya, kedua nama tersebut masih mau bertahan berkarier di benua Eropa dan menimba ilmu meskipun sangat minim menit bermain saat ini.

“Saya lebih salut dengan Marselino Ferdinan dan Elkan Baggott. Mereka terus berjuang di Eropa, meskipun peluang menjadi pemain inti sangat berat. Kalau para pemain naturalisasi yang kini bermain di Super League berarti mereka sudah tak laku di Eropa,” imbuh Tony Ho.

Banyak Pemain Naturalisasi Berkarier di Liga Indonesia, Performa Timnas Bisa Terganggu?

Salah satu hal yang tentunya cukup disoroti oleh banyak pihak terkait keputusan beberapa punggawa diaspora timnas Indonesia yang memutuskan berkarier di liga Indonesia adalah risiko menurunnya performa tim nasional.

Dilansir dari laman transfermarkt.com, sepanjang tahun 2025 lalu, performa timnas Indonesia memang mengalami penurunan dan diprediksi bisa saja belum stabil di tahun 2026 ini.

Banyak faktor seperti adaptasi pelatih baru, yakni John Herdman dan juga situasi banyaknya pemain diaspora yang memutuskan berkarier di liga Indonesia disinyalir bisa menjadi penyebab kurang stabilnya performa timnas Indonesia ke depannya.

Meskipun saat ini masih ada beberapa punggawa naturalisasi timnas Indonesia yang berkarier di luar negeri seperti Jay Idzes, Calvin Verdonk, Kevin Diks, dan Maarten Paes. Namun, hengkangnya beberapa nama dari liga Eropa dan memutuskan berkarier di liga Indonesia tentunya bisa saja memberikan dampak negatif yang signifikan.

Secara kualitas, liga Indonesia masih belum termasuk dalam jajaran liga elit di kawasan benua Asia. Bahkan, liga Indonesia belum masuk tiga besar liga teratas di kawasan regional ASEAN. Hal inilah yang dikhawatirkan bisa saja memengaruhi performa punggawa timnas Indonesia yang nantinya berisiko berdampak ke timnas Indonesia.

Namun, hal ini tentunya hanyalah sebatas opini belaka dan belum bisa dibuktikan secara konkret nantinya. Akan tetapi, kita berharap meskipun para punggawa naturalisasi tersebut memilih berkarier ke liga Indonesia, tentunya tak mempengaruhi performa timnas Indonesia secara signifikan.