Lintang Siltya Utami | Natasya Regina
Film Even If This Love Disappears Tonight. (dok. Netflix)
Natasya Regina

Tayang sejak 3 Februari 2026 dan tersedia di Netflix, Even If This Love Disappears Tonight hadir sebagai kisah romansa yang tidak menjanjikan masa depan panjang.

Film ini justru menyoroti makna cinta dalam ruang waktu yang singkat, bagaimana satu hari bisa diupayakan menjadi cukup berarti, meski esok hari mungkin tak lagi menyisakan ingatan apa pun.

Alih-alih menjual romansa berlebihan, film ini memilih pendekatan yang sunyi dan emosional. Cinta digambarkan sebagai tindakan yang konsisten dan penuh kesabaran, terutama ketika dihadapkan pada kondisi yang tak bisa diubah.

Journaling sebagai Penopang Ingatan

Di tengah hubungan Han Seo Yoon (Shin Si A) dan Kim Jae Won (Choo Young Woo), journaling muncul sebagai elemen penting yang menggerakkan emosi cerita.

Bukan sekadar kebiasaan mencatat, journaling menjadi cara Han Seo Yoon memahami hidupnya sendiri. Tulisan-tulisan itu berfungsi sebagai pengganti ingatan yang tak pernah bertahan lebih dari satu hari.

Han Seo Yoon digambarkan sebagai siswi SMA yang kerap merasa asing dengan perasaannya sendiri. Ia menggambar sosok pria yang berulang kali muncul dalam sketsanya, namun tak mampu menjelaskan siapa orang itu.

Dalam satu adegan, ia bahkan bertanya kepada sahabatnya tentang figur tersebut, seolah sedang berusaha memecahkan misteri yang diciptakan oleh pikirannya sendiri.

Melalui journaling, Seo Yoon berusaha menyambung potongan hidup yang selalu terputus setiap pagi. Catatan-catatan itu menjadi satu-satunya cara agar ia tetap merasa utuh sebagai individu.

Salah satu momen paling menyayat hadir saat Kim Jae Won memperkenalkan diri di tengah hujan. Dengan tatapan kosong, Han Seo Yoon hanya mampu berkata bahwa ia tidak mengenalnya.

Kalimat singkat itu bukan bentuk penolakan, melainkan konsekuensi dari amnesia anterograde yang membuatnya tak bisa menyimpan ingatan baru.

Bagi Seo Yoon, setiap hari selalu dimulai dari titik nol. Semua perasaan harus dijelaskan ulang, semua hubungan harus dikenali kembali. Dalam kondisi ini, tulisan menjadi jembatan antara hari kemarin dan hari ini.

Tangisan Han Seo Yoon saat mengucapkan bahwa ia tak bisa mengingat apa pun terasa begitu manusiawi. Ucapan itu bukan sekadar keluhan, melainkan ekspresi kelelahan batin.

Ia tahu ada sesuatu yang hilang, tetapi tak pernah tahu apa atau siapa yang meninggalkannya. Journaling pun berubah menjadi bukti eksistensi bahwa ia pernah merasa, pernah mencintai, dan pernah dicintai.

Cara Kim Jae Won Mencintai

Bagi Kim Jae Won, jurnal Han Seo Yoon bukan hanya buku catatan. Ia menjadi pintu masuk ke dunia batin gadis yang ia cintai. Lewat tulisan-tulisan itulah Jae Won memahami apa yang terjadi kemarin, apa yang membuat Seo Yoon tersenyum, dan apa yang melukainya tanpa harus ia ingat kembali.

Cinta Jae Won tidak diwujudkan melalui janji besar atau kata-kata dramatis. Ia hadir lewat kesediaan untuk mengulang kebahagiaan yang sama setiap hari, meski sadar bahwa semua itu bisa menghilang begitu pagi tiba.

Titik emosional terkuat film ini hadir saat Han Seo Yoon mengungkapkan kondisinya secara jujur. Namun, alih-alih meminta momen itu ditulis seperti biasanya, Kim Jae Won justru memilih sebaliknya. Ia mengatakan bahwa hari ini tak perlu dicatat, bahwa mereka bisa “menipu” Seo Yoon di hari esok.

Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi sarat makna. Kim Jae Won memahami bahwa tidak semua kebenaran perlu dihadirkan kembali jika hanya akan melukai. Ia memilih melindungi Seo Yoon dari rasa sakit yang akan terus berulang ketika dibaca tanpa kelanjutan.

Keputusan untuk tidak mencatat pengakuan itu menjadi titik balik emosional. Meski Han Seo Yoon lupa keesokan harinya, ia justru menjalani hari dengan versi dirinya yang lebih tenang. Ia membawa kenangan-kenangan indah yang telah dipilih dengan penuh empati oleh Kim Jae Won.

Journaling sebagai Ruang Aman Emosional

Di titik ini, journaling tidak lagi berfungsi sebagai alat dokumentasi mutlak. Ia berubah menjadi ruang aman, tempat hanya hal-hal yang layak dikenang disimpan. Film ini secara halus menunjukkan bahwa kejujuran total tidak selalu berarti sehat secara emosional.

Dalam konteks Han Seo Yoon, mencatat segalanya justru bisa menjadi beban psikologis. Dengan tidak menuliskan satu hari tertentu, ia diselamatkan dari luka yang akan terus terbuka tanpa pernah sembuh.

Dengan latar kisah remaja SMA, Even If This Love Disappears Tonight terasa hangat, dewasa, dan penuh empati. Film ini tidak sekadar menyuguhkan romansa, tetapi refleksi tentang bagaimana manusia bertahan di tengah keterbatasan.

Journaling di film ini menjadi simbol usaha menjaga makna hidup, bukan dengan mengingat segalanya, melainkan dengan memilih apa yang pantas dibawa ke hari esok.

Sebab terkadang, cinta sejati bukan tentang dikenang selamanya, tetapi tentang memastikan hari ini cukup indah untuk dijalani, meski esok semua bisa hilang.